Arisan

November 24, 2009 at 5:51 am Tinggalkan komentar

SENJA sebentar lagi merambat ke malam ketika saya dan ibu-ibu yang lain beranjak dari rumah Bu Sarah. Kami baru saja melakukan ritual bulanan di lingkungan RT kami, arisan RT. Arisan yang diikuti lebih limapuluh orang itu selesai dalam kurun waktu dua tahun. Saya selalu kebagian di akhir-akhir arisan selesai, dan senja kali ini adalah arisan terakhir untuk periode tahun 2007-2009.
Arisan kali ini sekaligus acara halal bihalal, jadi hampir seluruh ibu-ibu peserta arisan hadir. Menunya pun menggoda, lontong lengkap dengan opor ayam. Minuman berupa es buah segar. Makanan kecil berbagai kue-kue kering dan basah. Terasa mewah menu konsumsi arisan kali ini.
Biasanya arisan di RT yang datang hanya lima sampai sepuluh orang. Alasannya karena hari Minggu buat acara keluarga, ada yang mengantar anak kursus renang atau lainnya. Maka pengurus RT membuat kejutan berupa kado yang biasanya berisi alat rumah tangga. Kejutan itu diberikan kepada ibu-ibu yang hadir dalam arisan. Bila namanya keluar, dia berhak membawa pulang kado yang dibungkus dengan koran bekas. Cerdas juga ide pengurus RT, tapi tetap saja yang hadir dalam arisan nggak sampai belasan orang. Saya sendiri pernah dapat berupa termos kecil, lumayan he he.
Alasan saya ikut arisan agar sempat keluar rumah dan berkumpul dengan tetangga di lingkungan saya tinggal. Kurang enak bila tak ikut arisan, mengingat saya jarang sekali keluar rumah. Waktu saya sering saya gunakan untuk menemani anak-anak dan menekuni hobi saya menulis.
Arisan RT ini sudah saya ikuti delapan tahun, hampir sama dengan lamanya saya tinggal di sini. Saya sendiri kurang tertarik mengikuti kegiatan di RT, atau ikut jadi pengurus RT. Rasanya pengalaman dimasa remaja dulu sudah cukup buat saya. Dari sekian ibu-ibu yang ikut arisan ada beberapa yang tidak hadir, termasuk Mama Lely tetangga persis sebelah saya.
Saya sampai di halaman rumah dengan sambutan anak-anak, mereka mengeluh kok bunda lama sih arisannya, sementara Mama Lely yang sedang santai di luar pagar rumahnya bertanya saya dari mana. Sejenak saya menautkan kening.
“Lho emang Mama Lely nggak tahu sore ini arisan RT.” Mama Lely menggeleng.
“Sama sekali nggak tahu.”
“Nggak dikasih tahu emang sama Bu Feri.”
“Boro-boro ngasih tahu soal arisan Mama Fira.” Artinya perang dingin itu masih berlangsung sampai sekarang antara Mama Lely dan Bu Feri. Gara-garanya hanya masalah sepele, tetapi Bu Feri mendiamkan Mama Lely hampir dua tahun. Saya pikir mereka sudah baikkan karena tadi pagi suami Mama Lely tampak ngobrol bareng dengan Pak Feri. Eh teryata masih berlangsung acara diem-dieman antara tetangga itu.
Saya memahami bila Mama Lely cuek dengan masalah itu. Ia tak kelihatan ingin memperbaiki hubungan dengan Bu Feri. Luka yang ditorehkan oleh Bu Feri memang sangat dalam. Dalam inbox facebook Lely, Maulana anak kedua Bu Feri mengumpat habis Lely dengan nama-nama penghuni taman marga satwa. Maulana juga menjelek-jelekkan Mama Lely. Saya hampir tak percaya ketika Mama Lely mengundang saya untuk membaca pesan yang masuk ke inbox Lely. Di situ tertulis jelas siapa pengirimnya dan kalimat-kalimat yang sangat tidak sopan. Saya geleng-geleng kepala.
Tampaknya pesan yang masuk ke inbox itu mempengaruhi hubungan suami Mama Lely juga Pak Feri. Mereka sebelumnya sangat akrab. Sering mancing bareng-bareng dan hampir setiap libur kerja ikut main volley bareng-bareng. Pendek kata hubungan Pak Dirjo, suami Mama Lely sama Pak Feri ibarat kopi dengan gula. Tanpa Pak Feri di samping Pak Dirjo, apalah kata dunia tetapi sekarang keduanya tak lagi bersama-sama. Hanya saja tadi pagi mereka tampak ngobrol bareng.
“Saya semakin yakin Mama Fira.” Saya menautkan kening mendengar kalimat pendek Mama Lely.
“Semakin yakin untuk tidak ikut arisan lagi.”
“Oh.”
“Mama Fira lihat sendiri saya tak pernah diberi tahu arisan kapan.” Saya mengangguk-angguk.
“Percuma kan ikut arisan kalau nggak dianggap ikut, padahal setor uang setiap bulan. Karena nggak datang, nama keluar dimasukkan lagi.” Saya mengangguk-angguk.
Memang kebijakan di arisan RT kami agak aneh, bila peserta arisan tidak datang dan ternyata namanya keluar dalam undian yang dapat, nama bisa dimasukkan lagi. Saya termasuk yang sering mendapatkan perlakuan seperti itu. Nama saya keluar tetapi dimasukkan lagi karena saya nggak sempat hadir dalam arisan.
Maksudnya baik, agar kami para tetangga saling kumpul dan bersapa sebulan sekali tetapi kenyataan kebijakan seperti itu nggak mempan. Arisan tetap saja sepi pengunjung. Saya sendiri mulai bosan ikut arisan itu, karena selama delapan tahun ikut arisan terus, menu konsumsi pun seringkali bermewah-mewahan, ada kesan saling jaga gengsi. Lebih baik saya istirahat dulu untuk tidak ikut arisan periode berikutnya.
Mungkin apa yang saya rasakan sama dengan yang dirasakan Mama Lely. Bu Feri yang koordinator RT itu seringkali mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan di luar pribadi. Ketika Bu Feri punya masalah dengan saya, saya tak pernah diberitahu kapan arisan diadakan. Maklum jadwal arisan suka berubah-ubah.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Palupi Adik yang Mengharukan. Alue Vera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2009
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

TELAH DIBACA

  • 104,308 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: