Jangan sakiti Anak-anak Kita

November 17, 2009 at 3:40 am Tinggalkan komentar

PAGI itu saya tengah merapikan meja makan. Kedua anak saya baru saja makan pagi dan berangkat sekolah, ketika Mama Leli datang ke rumah dengan wajah gelisah. Saya menautkan kening, karena dari rumah Mama Leli terdengar tangisan Farid.
“Farid kenapa, Ma Leli.”
Mama Leli duduk dengan wajah kusut.
“Susah mandi, padahal sebentar lagi masuk sekolah.”
Saya menghela napas, ingat waktu Rizki masuk duduk di Taman Kanak- kanak. Serba susah. Susah dibangunin, susah mandi, susah makan pagi dan susah masuk sekolah. Setiap pagi merupakan ujian mental buat saya, saya harus merayu-rayu Rizki agar mau masuk sekolah. Berbagai cara saya lakukan dari menaikkan uang saku sampai janji jalan-jalan di hari Sabtu, atau membelikan mainan apa saja.
Sekarang Rizki sudah jauh berbeda. Sekarang setiap saya bangunin, tak lama kemudian turun dari tempat tidur setelah sejenak mengeliat atau sejenak memeluk erat gulingnya. Saat itulah saya memberi kesempatan buatnya untuk bermanja-manja dengan gulingnya. Anak bukanlah kita, yang bisa melakukan segala hal dengan cepat. Anak mesti memiliki kesempatan menikmati masa kanak-kanak. Jangan dipaksa untuk melakukan ini dan itu. Toh, nantinya bila tiba waktunya dia akan mengerti tanggungjawab apa saja yang harus ia embank.
Saya terkejut, Mama Leli merunduk. Saya cemas. Farid menangis kencang, meraung-raung.
“Mama Leli,” ucapku dengan nada Tanya. Mama Leli langsung beranjak dari kursi dan keluar dari rumah, ponselnya tertinggal di kursi. Saya menelan ludah, dalam hati bertanya kenapa Farid. Tangisnya kian kencang, lalu terdengar teriakan Mama Leli. Saya ambil ponsel Mama Leli yang tertinggal di kursi. Ingin tahu, saya beranjak menuju rumah Mama Leli. Di depan rumah, saya lihat suami Mama Leli keluar rumah dengan mengendarai sepeda motor cepat-cepat. Tampak jelas kalau suami Mama Leli itu tengah marah.
Saya terus menuju rumah Mama Leli, mengucap salam di depan pintu rumah yang terbuka.
“Masuk Mama Fira,” ujar Mama Leli dengan terisak. Pelan saya masuk ke dalam.
“Sini Mama Fira,” ujar Mama Leli lagi dengan lirih menahan tangis. Saya mendekat ke dalam, ke ruang keluarga. Tampak Farid yang hanya mengenakan kaos dalam dan celana dalam.
“Anak masih kecil dipukuli Ma Fira.” Mama Leli terisak sambil terus bicara dengan terbata-bata. Saya mendekat ke Farid yang sesenggukkan. Saya berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya. Ya Tuhan, anak empat tahun itu pahanya yang putih penuh bekas pukulan warna merah. Ada tujuh bekas berbentuk garis lurus ke atas.
“Ya Allah Rid,” saya tercekat. Tak sanggup membayangkan sakit yang Farid derita. Saya jadi ingat pada si bungsu yang masih dua tahun. Aku membayangkan dia yang dipukuli ayahnya, Ya Tuhan. Saya tak kuasa melihat Farid yang meringis kesakitan. Saya taruh ponsel Mama Leli di samping Mama Leli sambil memberi isyarat bahwa ponselnya tertinggal di rumah.
Saya pulang ke rumah. Langsung menuju kamar Edgin. Saya lihat ia tengah tertidur pulas. Saya menghampirinya dengan mencium pipinya yang lembut, saya berjanji padanya tak akan menyakitinya. Suami juga sering marah kalau saya lupa, berkata agak keras sama anak-anak.
“Jangan ajari anak untuk berbuat kasar,” begitu ucap suami suatu ketika. Kami pun sepakat untuk membesarkan anak-anak tanpa kekerasan. Saya berdiri lagi, tersenyum melihat Edgin. Pagi ini dia tidak pipis di kasur. Sebelum tidur saya suka bilang ke Edgin, agar tidk ngompol. Kalau mau buang air kecil ke kamar mandi ya, Edgin akan mengangguk dan bilang ya, dengan mantap. Jika dia sudah melewati tengah malam tanpa ngompol, artinya dia tidak ngompol hari ini. Jika terbangun nanti harus cepat-cepat di ajak ke kamar mandi.
Terdengar salam, suara Mama Leli yang parau. Saya menemuinya. Ia menangis di hadapan saya, mengeluhkan sikap suami yang sering kasar dengan anak-anak.
“Saya harus bagaimana Ma Fira.”
Saya lihat ayahnya Farid orang yang lembut, tak ada tampang kekerasan di wajahnya, tetapi kok kenyataannya pagi ini memukul Farid sampai membekas begitu.
“Kadang saya berpikir mau melaporkan ayahnya saja komnas anak.”
Saya tersenyum tipis.
“Mungkin ayahnya Farid sedang ada masalah Mama Leli, jadi marah ke anak.”
“Dia memang suka main tangan, Ma Fira.”
Saya bingung, mau bilang jauhkan anak saat ada ayahnya kok bukan pilihan tepat.
“Atau gimana caranya ayahnya Farid itu nggak marah-marah,” ujar saya begitu saja.
“Dia itu mudah marah, mudah memukul Farid,” keluh Mama Leli.
Saya menghel napas, memandangi Mama Leli yang tampak sedih dan terpuruk. Dipeluknya Farid tanpa seragam sekolah. Ia memang tak mungkin masuk sekolah dengan luka-luka di pahanya. Saya pandangi anak yang sesungguhnya tidak nakal itu. Lalu ingat pada artikel yang mengungkapkan bahwa kekerasan bukan cara tepat dalam mengajari anak-anak. Kasih sayang, keterbukaan, memberi ruang luas bagi anak-anak untuk berpendapat, menentukan sikapnya sendiri, menghargai mereka, dan menjauhkan diri dari melakukan kekerasan fisik dan sikologi, merupakan cara didik anak yang sehat.
Saya pandangi Farid, dan berpikir suatu saat akan menyelinapkan artikel itu ke bawah pintu rumah Mama Leli, agar artikel itu dibaca oleh Ayah Farid. Toh, saya masih menyimpan klipingannya.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Diskriminasi Terhadap Perempuan Toko Mas Karmonah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2009
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

TELAH DIBACA

  • 104,308 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: