Penuhilah Janji, Semudah Saat Berjanji

November 12, 2009 at 8:57 am Tinggalkan komentar

MBAK Nunung, tetangga baru saya tanpa saya duga berkunjung ke rumah. Semula dia hanya minta belimbing sayur yang tumbuh di depan rumah.
“Masak sore mbak?” Tanya saya.
“Nggak Bu, persiapan untuk besok. Sengaja minta sekarang biar besok tinggal langsung dimasak. Takut ibu sibuk pagi-pagi, atau pergi.”
“Saya selalu di rumah kok Mbak Nunung, lagian tinggal petik saja kalau perlu.”
“Kalau belum diizinkan ya belum halal to Mbak.”
Darah saya berdesir mendengarnya. Sekilas penampilan tetangga baru saya ini hanya biasa saja. Dalam arti tidak menutup aurat saat bepergian, juga sepertinya tak tertarik dengan kegiatan Jumat sore di masjid. Ucapannya justru mengandung nilai-nilai keagamaan.
“Bu,” panggilnya kemudian. Saya tersenyum tipis dan berkata padanya untuk memanggil saya dengan panggilan mama Fira, meski sebenarnya ini membunuh identitas diri, hanya saja dipanggil ibu kok kesannya jadi sangat tua.
“Saya sebenarnya mau ngomong sesuatu, Bu.” Rupanya lidahnya sudah terbiasa dengan memanggil saya ibu, okelah tak apa.
“Ayo masuk, ngobrol di dalam biar enak.”
Kami masuk ke ruang tamu, yang kami desain seperti teras. Mbak Nunung agak terkejut melihat laptop saya yang masih menyala di meja yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Bilah-bilah bambu itu dicat coklat tanah, dengan dipernis terlebih dulu. Aksen etnisnya jadi kental.
“Oh lagi sibuk, Bu.”
“Tenang saja, pekerjaan saya senantisa dikerjakan dengan santai. Ayo duduk.”
“Jadi nggak enak, Bu.”
“Ayolah, katanya mau ngomong.”
“Benar nih Bu, saya nggak mengganggu.”
“Ya mbak, santai saja.”
Saya perhatikan Mbak Nunung seperti tengah menghimpun kekuatan untuk bicara. Duh, ada masalah apa dengan tetangga baru saya yang baru dua bulan ini pindah ke sini. Ia membeli salah satu rumah tetangga saya yang pindah, karena suami pindah tugas ke daerah lain.
“Saya nggak enak ngomongnya, Bu.” Saya tersenyum tipis. Jadi ingat sama Mbak In yang tengah pergi berhaji. Mbak In mengaku suka nggak enak kalau mau curhat sama saya. Jika begitu saya memilih diam, membiarkan Mbak In akhirnya ngomong sendiri, dan mengungkapkan semua yang ada dalam pikiran dan hatinya yang mengganjal. Semoga saja Mbak Nunung memiliki kesamaan seperti Mbak In. Saya diam, sambil berharap Mbak Nunung mau cerita.
“Saya bingung Bu,” ujarnya kemudian lirih. Saya menatapnya lalu mengangguk pelan.
“Saya mau nagih hutang, tapi saya bingung.”
“Nagih hutang, saya punya hutang?”
“Bukan, bukan. Bukan ibu.”
Saya masih belum paham, saya mencoba mengingat-ingat. Sejak Mbak Nunung pindah ke sini, saya termasuk akrab dengan dia, tetapi selama bergaul rasanya saya belum pernah pinjam apa pun dari Mbak Nunung. Lalu apa ya?
“Bu Feri, Bu.”
Jantung saya bergetar. Mbak Nunung menyebut nama Bu Feri, nama yang bagi kami agak unik.
“Dulu dia pinjam genting sama mas Fahri.”
“Genting?”
“Ya, ada limapuluh biji. Katanya akan dikembalikan secepatnya. Waktu itu Pak Feri butuh untuk atap garasi, padahal genting itu sengaja kami beli sebagai tabungan bikin ruang belakang. Sekarang sudah terkumpul semua, eh gentingnya belum ada.”
“Ya diminta to Mbak Nunung,” ujar saya hati-hati.
“Sudah berkali-kali sama Mas Fahri, tapi Bu Feri dan suami hanya janji-janji saja. Suami saya jadi marah-marah sendiri.”
Saya menghela napas. Saya ingat ketika dulu Mbak In cerita ke saya, Bu Feri datang ke rumah Mbak In yang baru saja merenovasi rumah. Bu Feri meminta empat kotak lantai keramik berwarna hijau daun, ukuran tiga puluh kali tiga puluh centi, juga lantai keramik merah muda ukuran dua puluh kali dua puluh lima centi, plus sekarung pasir. Waktu itu Bu Feri bilang, akan dibayar sama suaminya, tapi sampai hampir sepuluh tahun berlalu lantai keramik itu belum juga dibayar, dan Mbak In memang telah melupakannya. Untuk menagih sama Bu Feri, itu sangat tidak mungkin. Bu Feri sangat mudah menghardik dan mengumpat tetangga, meski usianya lebih muda dari orang yang ia hardik.
Saya ingat keramik-keramik Mbak In, ia pakai untuk membuat taman di depan rumahnya dengan kolam ikan. Setiap kali saya lewat depan rumah Feri dan melihat warna keramik hijau daun dan merah muda itu sering bikin saya ingat, kalau lantai keramik itu punya Mbak Ini. Entahlah, kenapa saya yang malah merasa nggak ikhlas, karena saya tahu Mbak In mesti membeli lagi lantai keramik karena ternyata masih kurang.
Tragisnya lagi lantai keramik warna hijau daun tersisa satu dus. Oleh Bu Feri, lantai keramik itu dibagi-bagi ke tetangga untuk menutup lubang tempat sampah. Bu Feri mengaku lantai keramik itu miliknya. Saya geleng-geleng, tapi bukan Mbak In saja yang diperlakukan seperti itu.
“Saya bingung Bu,” ujar Mbak Nunung seperti mengeluh. Saya memahami kalau Mbak Nunung bingung menghadapi Bu Feri.
“Saya nggak enak sama suami, memang saya yang mengizinkan Bu Feri karena nggak enak, tetangga pinjam kok nggak dikasih.” Mbak Nunung terdiam sejenak.
“Nggak tahu begini jadinya,”ujarnya lirih.
“Genting itu kan hak Mbak Nunung, saya pikir sangat wajar Mbak Nunung menagih ke Bu Feri. Toh, Bu Feri sudah janji mau mengembalikan dengan kualitas genting yang sama kan?”
“Iya sih, tapi…” Mbak Nunung menghela napas.
“Mungkin saya harus belajar ikhlas bu. Barangkali bukan rejeki saya lagi.”
Saya menunduk, ingin menangis rasanya mendengar kalimatnya yang tenang.
“Biar tabungan saya saja yang buat ganti genting itu, mau minta suami beli lagi, nggak enak.” Saya tersenyum tipis, lalu mengangguk. Memang yang terbaik mengikhlaskannya, seperti sikap Mbak In dulu. Tak memikirkan lagi lantai-lantai keramiknya juga satu karung pasir yang dipakai Bu Feri. Toh, rezeki kuasa Tuhan.

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Di Kota Atlas Cinta Mak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2009
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

TELAH DIBACA

  • 105,232 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: