Satu Lampu Berdua

November 6, 2009 at 1:14 pm Tinggalkan komentar

novel-wetonSAYA banyak menghabiskan waktu masa kecil saya di rumah nenek. Di tahun delapan puluhan itu, sebagian rumah nenek atau Mak Darnah, saya memanggilnya. Dari bayi saya sering berada dibuaian nenek dan bulek-bulek saya, ketimbang bersama ibu yang sibuk berdagang. Separuh rumah, dari ruang tamu hingga ruang cuci baju plus jemur yang luas serta ruang santai, dindingnya sudah memakai semen. Dari ruang makan hingga dapur masih menggunakan anyaman bambu atau pager.
Saya ingat ada dua kamar di ruang itu, kamar nenek dan kamar salah satu bulek saya. Saya suka tidur di kamar bulek. Dinding kamar yang dari bambu itu bagian atasnya dilubangi sebesar bola lampu, berbentuk segi empat. Di dekat lubang itulah kakek memasang lampu, jadilah satu lampu itu dipakai untuk menerangi dua kamar. Kakek dulu suka membeli bola lampu warna kuning, alasannya cahayanya redup, nggak bikin silau.
Cahaya yang redup itulah yang tidak memungkinkan bulek-bulek saya belajar di kamar masing-masing. Kalau belajar kami ke ruang keluarga. Saya lebih sering belajar di depan televisi, kalau sudah begitu, kakek sering menegur. Belajar kok sambil lihat TV, saya lebih senang tersenyum dari pada mematikan layar televisi. Tentu acara televisi zaman saya SD, jauh berbeda dengan sekarang.

Iklan

Entry filed under: Dibalik Novel WETON.

Karena Nawang Lek Bego

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2009
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: