Kurang Pandai Berterimakasih

November 4, 2009 at 4:02 am Tinggalkan komentar

SAYA sedang menyuapi si bungsu di teras rumah, ketika Pak Dharma tetangga kami yang tinggal sendirian, singgah ke rumah. Pak Dharma adalah pensiunan pegawai negeri sipil. Ketiga anaknya yang sudah berkelurga, sudah memiliki rumah sendiri-sendiri dan tinggal jauh dari rumah Pak Dharma.
Pak Dharma yang sendiri, memerlukan pembantu rumah tangga yang mengurus pekerjaan rumah. Kedatangannya kali ini meminta tolong pada Yanti, asisten saya di rumah untuk membantunya membenahi rumah.
“Mpok Rima belum masuk Pak?” tanya saya.
“Wong dia kalau sakit sampai dua minggu, Jeng.”
“Waah repot, harus cari pengganti sementara Pak,” ujar saya lagi.
“Makanya saya ke sini mau nanya Yanti bisa nggak, ngurus rumah saya selama Rima sakit.”
“Masuk saja Pak, Yantinya sedang menyapu tuh.”
Pak Dharma masuk dan ngobrol dengan Yanti. Dari perbincangan itu semula Yanti kurang yakin, apakah ia sanggup bekerja di dua tempat.
“Hanya sampai Mpok Rima masuk lagi, Yan” Saya mencoba membujuk agar Yanti mau membantu Pak Dharma. Yanti memang sejak semula sudah berniat tak bekerja di dua tempat. Capek. Kalau terlalu lelah dan sakit, toh banyak uang yang harus dikeluarkan untuk ke dokter.
“Ya sudah, mencuci pakai mesin Mbak, selama membantu di rumah Pak Dharma,” bujuk saya lagi.
“Enak pakai tangan, bu.”
Saya cemas, takut kalau-kalau Yanti tak bersedia membantu Pak Dharma selama Pok Rima nggak masuk. Saya akhirnya memilih diam, meski hati saya berharap Yanti mau membantu Pak Dharma. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Yanti menyanggupi membantu Pak Dharma. Saya lihat senyum Pak Dharma mengembang, memang ada tiga hari ini Pak Dharma tampak mengurus rumah sendiri.
Lain harinya lagi, Pak Dharma main ke rumah. Kami memang akrab, biasanya kami ngobrol soal berita terkini dalam negeri, tapi kali ini Pak Dharma seperti hendak berkeluh kesah. Pok Rima hampir sepuluh tahun bekerja di rumah dia, tetapi seringkali bikin Pak Dharma marah. Pok Rima selalu datang seenaknya, terlalu siang menurutnya. Jika sakit atau tak masuk tak pernah menitip pesan kepada teman.
“Kurang apa saya Jeng, instalasi listrik saya pinjami uang satu juta, pengembaliannya diangsur limapuluh ribu sebulan. Kalau ada keperluan mendadak saya tolong. Anak juga saya yang nyekolahin, sebenarnya nggak boleh ya Jeng. Ngomongin yang kita kasih, cuma Rima itu lho kok nggak ada timbal baliknya.”
Saya memilih diam, membiarkan Pak Dharma bercerita.
“Kalau nggak mau masuk nggak pernah bilang terlebih dulu,” keluh Pak Dharma lagi. Saya jadi ingat ketika Pok Rima bekerja dengan saya dulu, sehabis melahirkan si bungsu.
Awalnya saya minta tolong dicarikan orang sama Pok Rima untuk menggantikan Bu Sidi yang berhenti bekerja pada saya. Waktu saya melahirkan, berbarengan Bu Sidi punya cucu. Jadi memilih momong cucu dan keluar baik-baik dari saya. Tanpa saya duga Pok Rima malah menyanggupi mencuci baju di rumah, sekaligus menyeterika. Saya sudah menolak dengan alasan takut kalau dia sakit, karena bekerja di dua tempat. Dia meyakinkan saya untuk tenang saja.
Tiga hari pertama Pok Rima lancar, hanya saja saya kurang nyaman. Dia datang ketika azan Zuhur mulai bergema, jadi jelas menganggu. Biasanya jam segitu pekerjaan sudah selesai, eh ini baru dimulai.
Hari ke empat Pok Rima mulai aneh. Dia pulang begitu saja setelah selesai bekerja dari Pak Dharma. Esonya ketika saya tanya, mengaku sakit perut. Saya tanya apa masih sanggup bekerja di dua tempat, dia bilang bisa, tapi besoknya dia nggak masuk. Pulang begitu saja tanpa ngomong apa pun ke saya. Lima hari berturut-turut Pok Rima nggak masuk tanpa penjelasan. Saya akhirnya mencari asisten rumah tangga yang baru. Saya lebih suka menyebut asisten, ketimbang pembantu.
Tanpa saya duga, di luar Pok Rima cerita ke orang-orang kalau di bekerja di tempat saya, belum juga dibayar gajinya sampai waktu itu. Saya sempat menanyakan dan sempat ngomong agak keras sama Pok Rima yang sesungguhnya lebih tua dari saya.
“Kalau saya nggak kasihan sama keluarganya, saya milih dia berhenti saja Jeng.”
Saya tersenyum tipis. Saya yakin, Pak Dharma tak mungkin menghentikan Pok Rima, meski orangnya kurang tanggungjawab. Saya jadi berpikir apa sebenarnya yang membuat Pok Rima suka seenaknya sendiri. Barangkali faktor keluarganya. Suaminya pengangguran, anak sulungnya yang lulusan STM, jurusan elektro malas mencari kerja. Dia tulang punggung keluarganya, mungkin saja Pok Rima kurang bahagia, dan ingin mencari perhatian kami. Mungkin.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Menghilangkan Kesenian Tradisional Karena Nawang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2009
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: