Undangan Makan yang Tak Gratis

Oktober 29, 2009 at 2:30 pm Tinggalkan komentar

BILA ingat peristiwa ini saya suka geli sekaligus heran dengan pola pikir Bu Feri. Mulanya kami, para tetangga diudang makan-makan di rumah Bu Feri. Sebagian orang tetangga saya memang suka mengadakan makan bersama. Entah itu untuk syukuran karena suami naik jabatan, atau anak naik kelas atau ada keberhasilan lainnya.
Ibu-ibu tetangga saya juga sering mengadakan makan-makan bersama untuk menyambut bulan ramadhan, hari kemerdekaan juga menyambut tahun baru. Biasanya kami diminta iuran untuk membeli keperluan. Koordinator gang yang kebetulan dipegang Bu Feri, biasanya yang membagi tugas ke ibu-ibu untuk memasak. Ada yang bertugas bikin sayur asem, biasanya dibikin oleh mama Soraya. Lalu goreng kerupuk udang, biasany dipegang mama Mauris, goreng tahu asin oleh mama Hani, dan sebagainya. Saya tak pernah dibagi tugas, entah kenapa? Mungkin karena saya kurang bisa bergaul dengan ibu-ibu. Dalam arti saya lebih sering di dalam rumah ketimbang nongkrong atau duduk-duduk di kursi presiden.
Kursi presiden? Belum tahu kan apa itu kursi presiden. Kursi presiden adalah sebutan buat kursi yang dibikin oleh Pak Feri, istri Bu Feri. Tempatnya pun di depan rumah Bu Feri. Di kursi inilah ibu-ibu suka menyambung silaturhmi, duduk ngobrol berjam-jam dari jam sembilan sampai azan zuhur terdengar. Sore hari ada lagi sesi ke dua. Jam empat sampai azan maghrib terdengar.
Ibu-ibu yang suka duduk di kursi presiden itu biasanya Bu Feri, mama Soraya, Mama Nugi, ketiga orang ini sangat-sangat lengket. Seperti sebuah geng. Ke mana pun bareng-bareng. Sampai-sampai menu makanan dibikin sama. Selain geng inti ini, ada mama Fahira, mama Nina juga yang lainnya. Pokoknya pembicaraan di kursi presiden itu selalu rih rendah, sampai-sampai asistenku dalam urusan rumah tangga selalu riskan kalau melewati mereka saat pulang.
Balik ke undangan makan ke Bu Feri. Saya menyambut senang undangannya makan-makan, mengingat sudah setahun lebih ini Bu Feri mendiamkan saya. Tak saling menegur dengan saya, karena masalah anak. Rizki anakku yang masih berusia dua tahun bertengkar dengan Maulana. Saya yang melihat mereka, langsung menghampiri Rizki dan mengajaknya pulang.
“Sudah main di dalam rumah saja,” ujar saya. Entah apa yang disampaikan Maulana ke Bu Feri. Keesokkan hari sampai tahun ajaran berganti Bu Feri tak pernah menegur saya, kalau berpapasan dengan saya, selalu membuang muka. Sekarang kok mengundang saya, artinya dia mulai berbaikan dengan saya.
Saya tak menduga akan diperlakukan dengan baik oleh bu Feri. Begitu sampai di rumahnya, dia langsung menyalami saya dan cipika cipiki sama saya. Aha, begitu cair sudah kebekuan selama ini. Saya dan ibu-ibu yang sudah hadir bertanya ada acara apa, ulangtahunkah, atau syukuran suami yang naik jabatan. Bu Feri hanya tersenyum dan menjawab tak ada acara khusus. Hanya ingin mengundang tetangga saja.
Setelah berbasa-basi lumayan lama, Bu Feri mempersilahkan kami untuk segera menikmati makanan yang sudah tersedia.
“Pesan di mana, Bu Feri.”
“Masak sendiri.”
“Oh.”
Dari semua masakan Bu Feri memang enak-enak. Bu Feri memang jago memasak.
“Wah bisa nih buka katering,” canda salah satu diantara kami.
“Bisa pesan di Bu Feri nih,” balas yang lainnya lagi.
Kami, siang itu memang penuh dengan gembira. Saling bercanda dan saling bercerita tentang ana-anak. Saya pun larut. Bercerita tentang Fira yang mulai suka menulis dan dapat peringkat di sekolah. Akhirnya tanpa disadari kami saling membanggakan anak kami.
Hingga di tengah kegembiraan kami, Bu Feri memecah kebahagiaan kami. Saya sama sekali tak menduga, sungguh tak menduga. Demikian juga dengan ibu-ibu yang lain. Di penghujung makan-makan itu, tanpa malu dan riskan Bu Feri meminta makanan yang sudah kami makan dengan senang itu, agar dibayar. Kami saling pandang dengan ibu-ibu yang lain. Wajahku mungkin sama dengan wajah ibu-ibu yang lain, terkejut. Masak diundang makan kok akhirnya disuruh bayar apa yang sudah dimakan. Nggak lucu kan?
“Tenang ibu-ibu tak perlu menghitung apa yang sudah diambil. Saya sama ratakan aja. Setiap ibu membayar duapuluh ribu rupiah.”
“Hah!”
Saya geleng-geleng kepala, juga ibu-ibu yang lain. Kok ya ada orang ngundang makan-makan, ujung-ujungnya disuruh bayar. Bujubune…. bujubune …
DWY

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Sosok Palupi dalam Nawang Dinding Bambu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 10 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 10 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 10 hours ago

%d blogger menyukai ini: