Tak Ada Salahnya Mengungkapkan Perasaan

Oktober 18, 2009 at 5:47 am Tinggalkan komentar

INI sebuah kisah yang saya temukan dari serpihan masa remaja saya. Seorang teman berkeluh kesah tentang kisah cintanya, saat bareng saya menuunggu latihan teater. Sebut saja namanya dengan Arif. Dia teman satu teater, juga saat itu kuliah di salah satu universitas negeri di Semarang. Arif juga suka menulis artikel untuk ke media massa. Dia bercerita menyesal karena tak pernah mengungkapkan isi hatinya kepada Melati, teman di teater juga.
Setahu saya Arif dan Melati sangat akrab, semua teman-teman di teater bahkan menganggap mereka pacaran, betapa terkejutnya saya ketika Arif mengatakan menyesal tak pernah mengungkapkan perasaan hatinya kepada Melati.
“Lho bukannya kalian pacaran,” ucap saya waktu itu yang disambut gelengan kepala.
“Selama ini ternyata dia juga sedang penjajakan dengan seorang pria, Wid.” Saya menautkan kening, kok bisa Melati dekat dengan dua orang lelaki sekaligus.
“Ini salahku, aku pikir cinta tak perlu diungkapkan.” Tampak sekali kecewa menggurat di wajahnya.
“Selain itu aku juga melakukan yang sama, tengah menjajaki hubungan dengan perempuan lain,” ujar Arif lagi dengan sendu. Saya kian menautkan kening.
Cinta memang terkadang aneh, bukan cinta yang aneh sebenarnya, melainkan orangnya yang aneh. Sudah tahu akan perasaan sendiri yang menaruh hati dengan seseorang, eh lha kok main hati dengan orang lain.
“Cinta itu kan nggak perlu diungkapkan Wid,” Arif seperti membela diri.
“Idealnya begitu, tapi akan lebih baik diungkapkan agar tak terjadi salah pengertian, atau setidaknya Melati tak merasa engkau gantung.”
“Dia sudah punya orang lain,” keluhnya kemudian.
“Selama belum ada janur melengkung di ujung gang, masih ada berbagai kemungkinan Rif,” hiburku.
“Terlambat.”
“Kok jadi putus asa.”
“Orang Melati sudah menerima lamaran.” Saya tercengang. Melati masih muda, masih kuliah, masih panjang jalan hidupnya, kok sudah memutuskan bertunangan. Saya lihat Arif lemas.
“Jangan menyerah,” ujar saya sambil menepuk bahu kanannya. Arif menatap saya, saya lihat arloji di tangannya menunjukkn pukul empat sore. Sebentar lagi latihan.
“Oke kalau kemarin kamu melakukan kesalahan karena tak mengungkapkan perasaanmu terhadap Melati, malah menjajaki dengan perempuan lain, sekarang untuk menebus kesalahan itu, kamu harus memperjuangkan cintamu.”
“Caranya?”
“Nyatakan cinta sama Melati.”
“Gimana caranya?”
“Kamu laki-laki masak gak tahu.”
Tak lama kemudian kami larut dengan latihan teater untuk pentas bulan depan.
Lain waktu datang Melati ke tempat kos saya. Tanpa saya duga dia bercerita persis seperti yang Arif ceritakan. Ia menyesal telah menerima lamaran laki-laki lain. Dalam hati pun saya menyayangkan mengingat Melati masih kuliah. Dia cerdas dan saya yakin bila bertemu dengan Arif, akan bisa berkarir dengan baik. Arif bukan tipe laki-laki yang mengekang perempuan. Arif dan Melati sama-sama menyukai teater dan sastra. Mereka juga suka mengirim karya ke media. Sering bareng-bareng ke toko buku, perpustakaan besar juga ke media sama-sama.
“Aku harus bagaimana Wid.”
Saya bingung, harus ngomong apa saat itu. Saya hanya bilang lebih baik Melati jujur pada hati nurani. Siapa diantara Arif dan tunangannya sekarang yang lebih banyak merebut hatinya.
“Ya Arif, Wid.” Saya tersenyum. Saya ceritakan keluhan Arif tempo hari saat menunggu latihan teater. Saya yakin setelah mendengar cerita saya, Melati bisa mengambil sikap.
Sekarang, setelah belasan tahun terlewatkan, saya ke Jakarta meraih impian saya untuk bisa menjadi seorang penulis. Sampai kini kabar Melati dan Arif tidak saya ketahui. Apakah mereka berdua jadi sepasang suami istri dan memiliki anak-anak yang lucu, atau sebaliknya. Saya cari jejak mereka di facebook juga tak saya temukan.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Ikan Lohan Mendatangkan Untung Dibalik Judul Nawang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: