Satu Dinding Berdua

Oktober 15, 2009 at 2:40 am Tinggalkan komentar

INI sepucuk surat di lembar ke dua, membacanya seperti membaca pengalaman saya sendiri.
Terkadang saya harus menghela napas dalam-dalam. Menahannya di dada, lalu menghembuskannya pelan-pelan. Sejenak memandangi langit lepas, warnanya yang kebiruan akan menstransfer keheningan dalam dada. Lalu dengan tulus saya ambil keset yang dijemur Marsha, asisten saya dalam urusan rumah tangga, yang sudah dalam keadaan ditumpuk di atas dinding pembatas rumah saya dengan rumah sebelah.
Hidup di kompleks memang harus memiliki mental baja, ketimbang aluminium. Terlebih bila tetangga kita imut-imut, bikin hati gemes, karena keunikan mereka. Ini pun masih saya rasakan, meski sudah hampir sepuluh tahun bareng-bareng hidup bertetangga dengan mereka. Sampai sekarang pun ternyata saya belum bisa menerima kenyataan dengan lapang. Saya masih suka geleng-geleng kepala.
Tetangga persis sebelah kiri saya ini, seandainya hanya lulus sekolah dasar saya bisa memaklumi. Lha wong Bu Soraya, begitu anak-anak TPA memanggil dia ini sarjana. Logikanya lebih terpelajar, lebih matang dan mampu menghargai diri sendiri. Ini bukan, malah bikin orang tak simpati. Bagaimana tidak? Pernah suatu ketika datang ke rumah, menyodorkan undangan pengajian Jumat sore, dengan lantang dan ringan dia bilang dengan aksen Jawanya yang medok. “Mama Rizki mbok ke masjid, biar tahu masjid.” Saya menelan ludah. Emang saya bukan ustadzah, tapi yo mosok masjid saja saya gak ngerti. Ediyan po.
Lain kali dia ke rumah memberi pepaya yang masih sangat mentah sebesar kepalan tangan orang dewasa. Itu di tahun pertama saya pindah ke sini.
“Buat Rizki,” ujar Bu Soraya. Saya ingin marah, tapi tak kuasa. Saya pandangi punggungnya yang meninggalkan rumah, usai itu memandangi pepaya mentah yang sama sekali tak bisa dikonsumsi manusia. Akhirnya saya buang pepaya itu ke tempat sampah dengan hati menjerit, memang rumah saya masih murni BTN. Kami belum bisa merenovasi seperti rumah dia, tapi kok seperti ini banget Bu Soraya memperlakukan saya.
Saya jadi ingat ketika dia pindahan, memang diantar oleh anak buah suaminya. Air kami suplay karena dia belum ada mesin. Mungkin karena air tak mengalir deras, dengan congkak salah satu keluarga di situ bilang, “Mesin airnya apaan sih, lemah amat.” Saya menelan ludah, orang sudah ditolong bukannya berterimakasih malah menyakiti perasaan.
Bu Soraya itu angkuh dan lucu. Keangkuhannya kian kentara ketika karir suami di kantor membaik. Dia dapat fasillitas mobil, jadilah dia orang pertama yang memiliki mobil. Bu Soraya selamatan, potong kambing dan lagi-lagi Bu Soraya, selang beberapa hari membagi sup kambingnya ke rumah. Betapa sakit hatinya saya, sup kambing itu basi dan sudah berlendir kental ketika saya sendok.
“Tenang,” nasehat saya dalam hati.
Saya memilih tak mempermasalahkan sikap Bu Soraya, tetangga persis di sebelah kiri saya, Jeng. Hanya saja akhir-akhir ini bikin ulah lagi. Marsha, asisten saya suka menjemur keset di dinding yang memang notabene milik berdua. Tahu nggak saya lihat sendiri, Bu Soraya melipat keset itu di atas dinding. Dia tidak tahu kalau saya melihat ulahnya, tak lama kemudian saya angkat keset itu dan memindahkannya ke tempat lain. Esoknya saya bilangin ke Marsha agar tidak menjemur keset di dinding sebelah kiri. Marsha mengiyakan.
Beberapa hari kemudian Marsha lupa, ia menjemur lagi dua keset, hanya dalam hitungan menit setelah Marsha pulang, keset jatuh ke pot-pot bunga. Logikanya, keset setebal itu tak mungkin jatuh, angin pun tak ada bertiup kencang pagi itu. Sudahlah. Saya cuci lagi dan menejemurnya di jemuran paling bawah. Saya bilang lagi ke Marsha, agar tak menjemur apa-apa di dinding sebelah kiri.
“Tapi Bu, ibu sebelah suka lho menjemur keset di dinding itu,” ujar Marsha. Memang sih, biarpun Bu Soraya suka melipat-lipat dan menumpuk keset saya yang dijemur di dinding, sebagai ungkapan tidak boleh menjemur apa pun di situ, tetapi lain hari saya lihat Bu Soraya dengan seenaknya menggunakan seluruh dinding sebelah kiri itu untuk menjemur keset dia.
Lain waktu lagi, Marsha menjemur sendal si sulung di dinding. Saya mengurut dada, sendal itu dilempar sama Bu Soraya di depan saya. Maaf ya Jeng, kalau surat ini berisi keluhan. Habis saya pengen marah tetapi selalu tak bisa, dari pada saya jerawatan saya nulis surat ke sampean. Salam hangat.
Saya menelan ludah. Melipat surat dari sahabat lama, yang sekarang jauh di sebuah kota. Kisahnya mirip dengan yang saya alami, memiliki tetangga yang sepertinya tak bosan bikin hati sakit.
“Sudahlah, semua ini ada hikmahnya. Batin kita jadi kaya Wid,” ujarku menasehati diri sendiri, untuk tak ikut marah. Untuk tetap bisa tersenyum dengan legowo menghadapi kekanakkan mereka.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Toko Buku Online Ikan Lohan Mendatangkan Untung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 103,858 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: