Bergunjinglah dengan Cerdas

Oktober 4, 2009 at 2:31 pm Tinggalkan komentar

INI adalah peristiwa yang memalukan menurut saya, entah menurut mama Dora. Siang itu mbak In yang sedang repot, karena memiliki bayi hendak membeli sayur matang ke warung bu Rukayah. Kebetulan saya jalan bareng dengan mba In menuju tukang sayur mang Jablay, begitu nama populernya.
Saya berhenti di gerobak mang Jablay, demikian juga dengan mba In. Mba In memilih satu ikan asin yang ukurannya besar dan tebal. Dia minta tolong ikan itu dipotong-potongin oleh mang Jablay. Saya lihat mang Jablay asik-asik saja, saya pun sering minta tolong dipotongin ikan agar lebih mudah dan cepat dimasak.
Mbak In sempat bilang ke saya mau ke bu Rukayah sebentar, saya mengiyakan. Saat mbak In berlalu dari gerobak sayur mang Jablay itulah salah satu tetangga saya, mama Dora yang sedang berbelanja nyeletuk.
“Ngakunya orang kaya kok belinya ikan asin.”
Dalam hati saya berujar, mbak In nggak pernah menyombongkan diri apalagi ngaku-ngaku orang kaya.
“Minta dipotong-potongin segala lagi, emang sudah berhenti tuh pembantu,” ujar mama Dora lagi.
“Ya, bikin repot aja,” timpal tetangga saya yang lain. Saya heran nggak di ujung gang sana, nggak di ujung gang sini, ada saja tetangga yang sirik dengan mbak In. Herannya lagi mereka yang repot sama mbak In, kok malah mereka yang aktif ikut pengajian Jumat sore di masjid. Seperti mama Dora.
Mama Dora terus menggunjing mbak In, ditimpali tetangga-tetangga yang lain. Tanpa saya duga mbak In mengurungkan niatnya ke warung bu Rukayah, mbak In balik lagi ke gerobak mang Jablay. Dia berdiri tepat di samping saya, yang berhadapan dengan mama Dora, tetapi rupanya mama Dora nggak tahu kalau mbak In sudah ada di depannya. Hanya saja terhalangi oleh berbagai dagangan mang Jablay yang tergantung penuh di gerobaknya. Jadi dengan lancar dan dengan percaya diri mama Dora menggunjing mbak In yang ada di depannya.
“Sudah nggak mampu apa bayar pembantu, ikan asin saja minta dipotongin. Bikin repot aja In itu.”
Saya menelan ludah.
“Orang kok nggak mau capek sedikit,” ujar mama Dora lagi.
“In itu kan orang kaya,” timpal yang lain.
“Orang kaya macam apa dia,” ucap mama Dora lagi dengan nada sangat sewot.
Saya lihat mang Jablay memberi kode kalau orang yang digunjing ada di depan mama Dora, sejenak mama Dora kaget. Bukannya berhenti menjelek-jelekkan mbak In, mama Dora malah terus nyerocos nggak karuan.
“Dipotong seberapa Bu,” tanya mang Jablay mungkin untuk mengalihkan pergunjingan itu.
“Potong kecil-kecil,” ujar mbak In.
“Ya potong kecil-kecil, dia kan anaknya sudah banyak. Sudah dua biar cukup buat makan,” saya geleng-geleng kepala.
Mbak In hanya diam, Tak lama mang Jablay memberi ikan ke mbak In. Saya jadi kehilangan mood untuk belanja keperluan besok. Saya sendiri merasa aneh, kok saya yang sewot dan tak terima perlakuan mama Dora dan tetangga lainnya terhadap mbak In.
Saya beranjak dari gerobak sayur mang Jablay, berjalan beriringan dengan mbak In.
“Mbok sekali-sekali marah to mbak, dibilangin begitu kok diam saja.”
Mbak In hanya tersenyum tipis.
“Apa untungnya Jeng, kalau saya layani mereka?”
Saya menghela napas. Mbak In selalu meyikapi ulah tetangga dengan enteng.
“Wong bergunjing kok nggak cerdas, mestinya kan jauhnya sampai sepuluh kilo gitu ya, eh ini cuman dihalangi sayuran, berhadap-hadapan.” Mbak In tersenyum lagi.
Saya kira-kira bisa nggak ya bersikap begitu santai, ketika tahu tetangga saya tegah menggunjing saya?
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Berkunjung ke SDN Kasepuhan II Apa Enaknya sih Punya Istri Dua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: