Bayarlah Utang, Semudah Engkau mendapatkan Pinjaman

Oktober 2, 2009 at 1:42 pm Tinggalkan komentar

MAMA Fahri mengunjungi saya siang tadi, dia bertanya tetangga persis depan rumahku itu pergi ke mana? Saya yang tidak tahu persis, menjawab kurang tahu. Soalnya sejak awal ramadhan kemarin mama Sari memang jarang keluar. Saya sendiri sebenarnya ada perlu dengan dia. Menanyakan pinjaman uang yang dia pinjam satu bulan lalu, sampai sekarang belum dibayar.
Terdengar helaan napas mama Fahri yang agak berat.
“Masuk mbak,” ujar saya.
“Ya.”
Mama Fahri masuk ke dalam rumah, tetapi aneh dia bukannya duduk di kursi, malah duduk di lantai. Lesehan. Sejenak ia memandang ke laptopku yang penuh dengan tulisan.
“Saya menganggu dong, ma Fira.”
“Sama sekali nggak, orang santai ini.”
Saat mama Fahri ke rumah, saya memang sedang menyelesaikan novel. Duduk di lantai dengan Laptop di atas meja.
“Bener nih nggak menganggu.”
“Santai aja,” ujar saya lagi.
Mama Fahri menghela napas lagi.
“Saya ini kadang bingung, harus bagaimana menyikapi mama Sari.” Saya menautkan kening.
“Setiap datang ke rumah, minta tolong pinjam uang tetapi selalu bikin geregetan.” Saya mulai bisa meraba pembicaraan mama Fahri berikutnya.
“Kalau ke rumah mau pinjam uang, biar uang sedang menipis saya pinjami karena kasihan, tapi nggak ada tiumbal baliknya.” Saya semakin bisa meraba ke mana arah pembicaraan mama Fahri. Mama Sari susah mengembalikan utang.
“Sering datang dengan bawa kartu KB, mau suntik KB. Kalau nggak ada uang, sampai-sampai saya pinjam ke Zahra karena kasihan. Lama nggak dikasih, akhirnya saya yang nyaur ke Zahra. Mestinya mama Sari tahu, uang itu milik Zahra mbok ya cepet dikembalikan. Sampai lebaran dan sekarang tanggal muda belum juga dilunasi utangnya,” ujar mama Fahri panjang lebar.
Sekarang saya yang menghela napas. Saya juga heran dan sering kesal dengan ulah mama Sari. Dia sering datang ke rumah untuk pinjam uang, sering bawa kartu KB, tagihan rekening listrik juga kadang menulis surat atau ngomong lewat telepon. Tetapi ya itu tadi, sangat lama mengebalikan utangnya.
“Egois betul dia,” rutuk mama Fahri tiba-tiba. Saya menatapnya.
“Ketika datang menghiba-hiba, seolah harus kita penuhi keinginannya pinjam uang. Gilirannya ngembaliin aja lammma, bikin anyel saja.” Saya tersenyum tipis. Saya bisa memahami kekesalan mama Fahri.
“Sering ma Fira, saya berjanji tak akan lagi meminjami uang ke mama Sari, tetapi selalu saja tak bisa. Selalu tak tega ketika dia datang minta tolong.”
Saya terdiam, mengiyakan kalimat mama Fahri. Seringkali saya ingin menolak mama Sari untuk pinjam uang, tetapi selalu tak bisa, apalagi suami selalu mengajarkan. Mudahkanlah urusan orang lain. Ajaran seperti itulah yang membuat saya tak sanggup menolak mama Sari. Sayang, seribu sayang mama Sari agak curang. Tak cepat-cepat meluasi utangnya. Ia sepertinya sengaja tak melunasi utang. Padahal sebagai tetangga sangat riskan untuk datang mengetuk pintu. Menagih utang. Sangat riskan.
“Kalau sedang tak punya uang, terus air mineral atau gas elpiji habis, saya suka ingat ma Fira. Pengen nagih ke dia, tetapi suami selalu melarang. Kalau suami melarang ya kita meski patuh, takut nggak diridhai suami.”
Saya mengangguk-angguk.
“Kalau masih rejeki, mama Sari akan mengembalikan uang saya. Kalau nggak dikembalikan ya sudah ma Fira, saya ikhlaskan dengan terpaksa.”
Saya menautkan kening. Ikhlas kok terpaksa, piye to?
“Lebih jelas kita sedekahkan ke kaum dhuafa, ma Fira. Jelas-jelas membutuhkan pertolongan kita. Lha mama Sari, setiap malam selalu beli sate, nasi goreng, siomay, mie ayam. Artinya dia kan punya uang, mbok ingat sama utangnya.”
Saya melihat mama Fahri benar-benar gusar. Saya juga ingat uang saya yang dipinjam satu bulan lebih yang lalu, tapi biasanya kalau mama Sari melunasi utangnya, hanya dalam hitungan minggu, bahkan hari ia akan datang lagi meminjam uang. Jadi pada dasarnya, mama Sari memang suka punya utang ke tetangga yang bisa ia pinjami.
“Yang terbaik memang meski mengikhlaskannya ma Fira,” ujar mama Fahri pelan.
Saya mengangguk. Tak lama kemudian mama Fahri pamitan. Sambil memandangi punggung mama Fahri, saya ingat utang mama Sari. Sudahlah rejeki milik Tuhan, ujar saya dalam hati, mencoba berdamai dengan diri.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Serpihan Kenangan Masa Kecil Berkunjung ke SDN Kasepuhan II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 106,138 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: