Pemberian Yang Menyakitkan Hati

September 28, 2009 at 1:58 pm Tinggalkan komentar

“JANGAN menolak rezeki,” begitu nasehat suami. Sebaris nasehat itulah yang membuat saya tak menolak pemberian seseorang. Malam itu, hampir pukul delapan, saya kedatangan tamu, bu Feri. Dia bertanya apakah saya mau menerima ikan emas yang baru saja didapat dari memancing. Suami bu Feri emang suka banget mancing ikan. Sekali memancing bisa berkilo ikan didapat. Terang saja, lha wong mancingnya di tambak ikan je.
Ada kebiasaan baik dalam diri bu Feri. Ia selalu membagikan ikan-ikan hasil pancingan suaminya, ke beberapa tetangga. Salah satunya saya.
“Mama Fira mau nggak ikan Mas?” Saya menautkan kening, mengapa bu Feri bertanya seperti itu ya. Kalau ingin bagi ikan, ya bagi ikan saja. Kalau saya bilang nggak mau, bukan tidak mungkin dia tersinggung. Ujung-ujungnya akan diemin saya dalam waktu lama. Lha wong tetangga saya yang satu ini hobi banget diemin tetangga.
“Mau nggak,” tanyanya lagi.
Saya tersenyum.
“Mau aja bu Feri,” ujarku kemudian.
Tak lama bu Feri beranjak dari rumah, dan tak lama kemudian kembali lagi dengan dua ekor ikan Mas segar yang belum disiangi, apalagi dicuci.
Usai mengucap terimakasih, bu Feri pulang. Aku sempat menggerutu dengan pemberian ikan Mas ini.
“Dikasih ikan kok malah menggerutu,” ujar suami.
Entah mengapa malam itu pikiranku tak bening. Lemari es yang sedang bermasalah karena tak dingin, jelas tak bisa menyimpan ikan dengan baik. Selain itu saya kurang senang menyimpan ikan di lemari es. Saya lebih suka membeli ikan segar, langsung dimasak. Kalau saja ikan Mas ini sudah disiangi, akan saya goreng sekalian. Sayangnya belum. Sisiknya yang tebal dan besar membuat saya malas, terlebih memang malam hari adalah jadwal tak tertulis buat saya untuk menulis.
Ikan Mas itu saya simpan tanpa pendingin. Paginya baru saya siangi dan digoreng. Karena terbiasa makan ikan segar, jadi rasanya agak aneh. Ikan Mas itu akhirnya habis juga. Tetapi sungguh aku tak meyangka bila pemberian ikan Mas dari bu Feri itu akan berbuntut.
Kejadiannya sore hari, ketika entah mengapa bu Feri bertengkar dengan mama Elen. Tak aku sangka dalam pertengkaran itu, bu Feri dengan lantang berujar “Aku ini orang kaya. Kalau bapaknya mancing, banyak tetangga aku kasih ikan. Ikan Mas nggak tanggung-tanggung.”
Tidak segan-segan bu Feri menyebut nama-nama tetangga yang ia beri ikan Mas, termasuk saya. Saya merasa terpukul dengan sikap bu Feri. Sejak itu rasanya malas banget, kalau kelak bu Feri menawarkan mau nggak ikan Mas. Saya akan menolak. Barangkali ia tak pernah berpikir, kalau malam-malam saya menerima ikan Mas pemberiannya, untuk menjaga perasaannya agar tidak tersinggung.
Ternyata oh ternyata, pemberian bu Feri itu kok menyakiti hati saya. Mau memberi kok berkoar-koar di luar sana. Duh.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Mimpi-mimpi Nawang Memahami Sebentuk Hati Mama Fahri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: