Apa Untungnya Jadi Orang Sombong.

September 15, 2009 at 2:22 pm Tinggalkan komentar

HIDUP ini seperti bercermin. Pepatah ini seolah hendak ingin mengatakan bahwa apa yang ada di cermin itulah, pantulan diri kita. Bila wajah kita buruk, maka yang di cermin akan mengatakan hal yang sama. Cermin akan menampilkan paras yang elok bila wajah kita elok. Wajah di sini adalah tingkah laku kita.
Aku dibikin tercengang oleh cerita, lebih tepatnya curhat seorang tetangga baru. Bu Nining, aku menyebutnya. Berkali-kali dia minta agar aku memanggilnya dengan nama saja, berkali-kali juga aku nggak bisa memenuhi permintaannya. Usianya memang delapan tahun lebih muda ketimbang aku. Akhirnya aku memanggilnya Mbak Nining.
Mbak Nining baru saja satu bulan pindah dan menjadi tetangga kami. Ia baru saja membeli rumah mama Faris yang sudah lama pindah ke tempat lain. Mbak Nining yang berasal dari Jawa itu, rupanya masih membawa tradisi dari kampungnya. Mengadakan selamatan pindah rumah, dengan mengundang tetangga.
Untuk menjamu tetangga, Mbak Nining sengaja memasak sendiri dengan dibantu sanak kadang yang ada di Jakarta. Ia tadi pagi ke rumah hendak meminjam panci untuk menanak beras ukuran lima liter. Aku tak punya panci sebesar itu, maka aku tunjukkan ke rumah mama Lilis. Aku tahu Mama Lilis punya panci yang ia cari.
Rumah mama Lilis persis ada di depan rumahku, maka aku pun sempat melihat Mbak Nining bertemu dengan mama Lilis. Aku tak mendengar jelas percakapan mereka, hanya saja tak lama kemudian Mbak Nining pulang dengan wajah menunduk dan tampaknya ia seperti orang, yang hatinya sedang terpukul.
Aku menautkan kening. Mengapa Mbak Nining pulang tanpa panci yang ia butuhkan. Mengapa wajahnya tampak sedih? Aku jadi ingin tahu, gerangan apa yang sebenarnya terjadi. Aku pandangi punggung Mbak Nining dengan pertanyaan yang menggantung, lalu ke rumah mama Lilis. Pintunya sudah tertutup rapat. Mungkin nggak sih, mama Lilis nggak mengizinkan pancinya dipinjam? Mengingat dia salah satu aktifis masjid, suaminya malah sering dipanggil Pak Ustad.
Esok harinya Mba Nining datang ke rumah dengan membawa beberapa makanan kecil, aku mengucap terimakasih dan menemani dia ngobrol di ruang tamu. Dari obrolan itu akhirnya menyinggung ke peristiwa kemarin. Semula ia bertanya tentang mama Lilis, aku hanya mengatakan ya biasa Mbak, seperti ibu-ibu yang lain. Dari wajahnya aku khawatir, sebagai orang baru, aku takut ia akan mengalami hal-hal menyakitkan. Mengingat tempat aku tinggal, merupakan habitat pribadi yang unik-unik.
Benar saja, ia agak nelangsa begitu menceritakan ucapan mama Lilis.
“Masak dia bilang, emang ada duit kok mau selamatan segala. Nggak usah dipaksain deh, kalau ada sih nggak apa-apa.”
Aku terdiam. Ingatanku tertuju empat tahun yang lalu. Kalimat yang pedas dan merendahkan itu, aku terima juga dari mama Lilis. Aku dulu mengurungkan niat meminjam panci, sama untuk menanak nasi guna selamatan kepergian anak ke tiga kami. Dengan angkuh, mama Lilis berkata
“Emang mama Fira uangnya cukup kok bikin-bikin nasi segala. Kalau ada sih nggak apa-apa.” Mama Lilis mengucapkannya dengan sangat ringan.
Ternyata penyakit sombong dan merendahkan orang lain itu kok sulit sembuhnya.
“Mentang-mentang saya belum punya apa-apa mama Fira, ibu itu kok menghina betul,” keluh Mbak Nining.
“Sabar Mbak, ambil hikmahnya saja,” ujarku sok tahu.
Terdengar helaan napas Mbak Nining yang berat.
“Yang penting kita tidak seperti dia mbak,” ujarku lagi.
Mbak Nining mengangguk pelan. Dalam hati aku berdoa agar dia kuat menghadapi ulah dan ucapan tetangga-tetangga kami, hingga tak punya niatan untuk pindah ke tempat lain, seperti keinginanku dulu. Dulu aku pernah ingin pindah rumah saja, daripada menghadapi tetangga yang aneh-aneh.
DWY
Depok, 15 September 2009

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Masjid yang Sepi Alun-alun Batang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

TELAH DIBACA

  • 103,873 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @ummychasan: @detikcom Ketiganya kami cintai dan hormati, mrk bekerja u rakyat. 2 hours ago
  • RT @mesjkt: @detikcom Ke3nya adalah orang2 yg saya kagumi:jujur,bersih,berintegritas tinggi dan kerja kerasnya ikhlas buat bangsa dan negar… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang seseorang menyalahkan orang lain hanya karena tak temukan kata yg tepat tuk ucapkan maaf. Dan karena itu kegagala… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang kamu memilih tuk sendiri, bukan berarti kamu tak ingin dicintai, itu hanya berarti kamu butuh waktu tuk sembuhkan… 2 hours ago
  • RT @ilhamkhoiri: Afi Nihaya itu baru lulus SMA, masih 19 tahun, anak pedagang cilok, tapi catatannya inspiratif untuk bangun Indonesia yg d… 2 hours ago

%d blogger menyukai ini: