Masjid yang Sepi

September 11, 2009 at 2:03 pm 2 komentar

DULU ketika beredar selebaran dari RT, di tempat tinggalku akan didirikan sebuah masjid, aku manautkan kening. Tak jauh dari tempat tinggalku sudah ada masjid agung yang cukup menampung jemaah. Alasan pengurus RT waktu itu agar kita tak kejauhan untuk shalat berjamaah.
Aku menautkang kening lagi. Kapan kita punya waktu untuk shalat berjamaah? Kita tinggal di pinggiran Jakarta, artinya tempat kerja meski ditempuh dalam hitungan jam, bukan menit. Sebagian besar penghuni komples adalah karyawan swasta yang rata-rata pulang ke rumah paling sore jam delapan malam. Tak sedikit bapak-bapak yang pulang di atas jam sembilan malam. Suamiku sendiri sering pulang ketika portal di gang sudah dikunci. Apakah mungkin kita bisa shalat berjamaah?
Rencana pembangunan masjid terus jalan, dan dengan menakjubkan pengurus RT menemukan donatur kaya. Dia pengusaha yang kebetulan mantan anak petinggi itu mau menanggung semua biaya pembangunan masjid. Alhasil dengan menakjubkan pula dalam waktu satu tahun telah berdiri megah masjid di dekat kami tinggal. Masjid ini tergolong mewah diantara masji-masjid yang ada di sekeliling kami. Bangunan masjidnya dari dinding, jendela dan daun pintu semu dari kayu. Nama sang donatur tunggal akhirnya disematkan sebagai nama masjid itu.
Apa yang sempat aku pikirkan mulai tampak. Di masjid itu sangat sepi. Hanya pengurus RT dan pengurus masjid saja yang bisa mengunjungi masjid. Sampai-sampai pengurus RT mengeluarkan lagi surat edaran yang isinya imbauan kepada warga untuk shalat ke masjid. Aku ingin tertawa keras, kok surat edarannya lucu bin ajaib. Shalat kok disuruh-suruh. Emang kami ini baru berumur tujuh tahun?
Bukannya kami tak mau shalat di masjid, tapi waktu kami tak memungkinkan untuk shalat berjamaah di masjid. Toh, esensi dari ibadah bukan apa yang tampak bukan?
Akhirnya masjid yang megah itu sepi. Ramai hanya Maghrib, oleh jemaah anak-anak yang riuh rendah.
Ironisnya untuk mengumandangkan adzan saja, tak ada yang sempat. Akhirnya pihak pengurus RT dan masjid menggaji seorang marbot yang tugasnya mengumandangkan adzan. Itu pun tak setiap waktu terdengar, sebab sang marbot juga punya pekerjaan lain. Jadilah masjid tempat kami tinggal sering terpekur sendiri, berselimutkan sepi. Kasihan.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Apa yang Kita Terima, Akibat Ulah Kita Apa Untungnya Jadi Orang Sombong.

2 Komentar Add your own

  • 1. refa  |  September 12, 2009 pukul 2:58 am

    Ironi masyarakat muslim di dunia “modern”. Beruntunglah mereka yang belum terjamah situasi “keharusan demi keharusan”…

    Sukses selalu mbak…

    Balas
  • 2. dianing  |  September 15, 2009 pukul 2:29 pm

    Terimakasih, semoga kita termasuk orang yang beribadah hanya karena Allah, Amin.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

TELAH DIBACA

  • 105,258 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: