Apa yang Kita Terima, Akibat Ulah Kita

September 2, 2009 at 2:28 am Tinggalkan komentar

REPOT juga kalau Tesi nggak jualan. Aku harus menunggu sampai siang, untuk mendapatkan bahan-bahan lauk pauk. Kebiasaan masak pagi, membuat aku gak enjoy masak siang. Terpaksa deh menyimpan sayuran di kulkas untuk dimasak besok pagi.
Kehadiran Tesi di perumahan tempat aku tinggal sangat menolong ibu-ibu di sini. Tesi membuka dagangan sayurnya usai subuh. Aku sering ke warungnya sambil jalan-jalan pagi.
Sejak kehadiran Tesi di kompeks kami, pelan-pelan pedagang sayur keliling berkurang dan benar-benar tak ada. Praktis hanya Tesi saja yang jualan sayuran. Hal ini yang membuat jualannya lebih mahal bila dibanding pedagang lain. Bedanya sama Tesi ibu-ibu bisa mengambil belanjaan dulu, bayar belakangan. Aku sering menemui salah satu dari ibu-ibu tetanggaku itu membayar belanjaan sampai tiga ratus ribu sekali bayar. Kemudahan lainnya, Tesi menerima pesanan untuk diantar pagi-pagi. Jadi ibu-ibu tinggal mengambilnya saja di pagar rumah. Salah satunya aku.
Aku suka memesan belanjaan siang hari, saat Tesi keliling dan minta diantar pagi-pagi. Apabila tak bertemu, Tesi akan menaruhnya di pagar rumah.
Tesi sudah tiga bulan ini tak keliling untuk jualan sayur. Aku dengar dari bisik-bisik tetangga ia bangkrut. Aku menautkan kening. Pikiranku tertuju pada kebiasaan ibu-ibu yang suka berhutang padanya. Aku sendiri lebih suka membayar lunas, karena aku tahu berapa sih keuntungan berjualan sayur. Kalau banyak yang ambil belanjaan dan bayarnya belakangan, bagaimana uang bisa berputar?
Ibuku sendiri berdagang sayuran juga sembako. Banyaknya tetangga yang berhutang membuat ibu nggak bisa belanja. Ujung-ujungnya aku yang disuruh menagih hutang ke tetangga. Bukannya dapat uang, lebih sering dimarahi sama tetangga yang aku tagih.
Sekarang Tesi benar-benar nggak jualan lagi, gerobaknya dijual sama orang. Dan orang itulah yang sekarang keliling jualan sayur, tentu tak memberi keluasan ibu-ibu untuk berhutang.
Aku sangat menyayangkan cara berdagang Tesi, mestinya dia nggak perlu memberi kelonggaran ibu-ibu untuk berhutang sampai batas satu bulan. Itu kan sama saja merugikan diri sendiri. Selain itu ada kabar tak sedap, katanya Tesi yang berjauhan dengan keluarganya itu, main api dengan seorang perempuan. Sayangnya perempuan yang ia pacari suka minta ini itu sama Tesi. Aku tidak tahu kabar itu benar atau tidak, hanya santer di telinga.
Kalau benar Tesi punya pacar dan diperdaya oleh pacarnya itu, bagaimana nasib istri dan kedua anaknya yang masih memerlukan pendidikan. Sulung Tesi sudah masuk SMU sedang adiknya tahun ini kelas lima sekolah dasar.
“Saya heran Jeng, dulu ketika istrinya kerja di Saudi, Tesi baik-baik saja. Sekarang istrinya sudah pulang ke Indonesia dan tinggal di Tasik, yang cuma beberapa jam saja bisa ketemu, eh malah ora nggenah,” begitu ujar mama Fahri suatu ketika.
Aku mengangguk-angguk keheranan.
Aku jadi berpikir, perempuan itu memang lahir untuk dimuliakan suaminya. Bukan untuk disakiti. Ketika suami menduakan sang istri, maka ya seperti ini akibatnya. Bangkrut, kabarnya rumah yang dibeli di komplek ini juga akan dijual. Duh…
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Tenggang Rasa Masjid yang Sepi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

TELAH DIBACA

  • 103,858 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: