Tenang

Agustus 26, 2009 at 2:15 am Tinggalkan komentar

SEDIH, pilu, kecewa, kaget juga sakit hati. Semua bercampur persis es campur yang diaduk-aduk dalam hatiku. Kalimat-kalimat nylekit, alias menyakitkan hati itu sesungguhnya tertuju jelas untuk mbak In, tetapi kok aku yang merasa sakit hati.
Aku juga heran sama Mbak In, mengapa belanja sendiri. Tak menyuruh Murni seperti biasanya . Siang itu tukang sayur langganan kami tengah berdiri di depan rumah mama Cinthia, persis depan rumahku. Aku sedang memilih-milih sayur. Sebelumnya sudah ada bu Feri, mama Fahrian, dan mama Marsha. Ketiga orang ini seperti sebuah geng di lorong tempat aku tinggal. Mereka sangat kompak dalam berbagai hal. Pernah bareng-bareng ikut kuis ibu-ibu di salah satu stasiun televisi. Mereka juga aktifis masjid. Setiap Jumat sore selalu ikut pengajian bersama. Kamis sore juga ikut pengajian keliling. Maaf, ini terpaksa aku tulis, karena aku sendiri heran dengan tingkah mereka. Mereka gemar sekali ikut campur urusan orang lain.
“Masak apa Jeng,” tanya Mbak In begitu sampai di depan gerobak Tessi, nama tukang sayur langganan kami.
“Fira minta capcay.”
Aku sangat dekat dengan Mbak In, dan ngobrol hangat sambil memilih belanjaan. Tanpa aku duga mama Marsha yang berdiri di samping Mbak In bilang mbok ke masjid,Mbak In. Ikut pengajian yang hari Jumat. Mbak In tersenyum dan mengatakan kalau ia lebih suka membaca dan mendengarkan dari jauh siraman rohani, daripada datang ke Masjid duduk bertatap muka dengan kiai.
“Biarpun saya nggak ke Masjid saya suka dengerin, mama Marsha,” ujar Mbak In. Aku merasa aneh dengan mama Marsha, soal mau ke Masjid, mau mengaji itu kan urusan pribadi dengan TuhanNya. Kok dia ikut campur. Lebih mencengangkan lagi kalimat ketus mama Fahrian, tetanggaku suka memanggilnya Bundo. Fahrian memanggil ibu dengan Bundo. Dia berujar kalau Mbak In mana mau baca Alqur’an, dia lebih suka baca buku ekonomi, berbisnis, Gitu loh.
Aku menelan ludah. Menggeleng-geleng kepala. Mbak In aku lihat hanya diam.
“Ya, ngaku Islam gak pernah ke Masjid,” gerutu mama Marsha lagi. Aku kian geleng-geleng kepala.
Barangkali mereka pengen Mbak In itu tampil di televisi, berceramah di masjid Iatiqlal kali ya. Mereka nggak tahu kalau Mbak In itu dulu aktif di organisasi Aisyiah, Muhamadiyah. Ketika remaja dulu setiap Sabtu malam ada pengajian dengan keliling mushala. Bergantian tempat mushala. Minggu paginya Mbak In ikut kuliah subuh di Masjid Agung Jami, Batang. Ia sangat aktif di organisasi keagamaan bahkan terlibat juga di majalah intern organisasi Muhamadiyah. Majalah berkala yang terbit tiga bulan sekali.
Di rak buku Mbak In terdapat buku-buku agama, filsafat juga sains dan sastra. Aku paham kok mengapa Mbak In lebih suka berdiam di rumah, ketimbang ramai-ramai beribadah di Masjid. Ia sudah kenyang dengan pengalamannya masa remaja dulu.
Aku tak ingat kalimat-kalimat menyakitkan apalagi yang diucapkan oleh mama Marsha, mam Fahrian juga bu Feri.
Yang aku tahu Mbak In sempat berujar, bahwa Tuhan membutuhkan hati kita, bukan ibadah yang sekedar ceremonial belaka.
Mereka cemberut, manyun, wajah mereka seperti dompet yang dilipat-lipat saat tanggal tua. Aku tersenyum tipis mendengar pembelaan Mbak In.
Sejak itu Mbak In dicuekkin sama mama Marsha, mama Fahrian juga bu Feri. Aku tak melihat sedikit pun amarah pada Mbak In. Mbak In malah bilang beruntung punya tetangga seperti mereka.
“Bathin saya kian kaya, Jeng.”
Aku terdiam, mencoba merenungi ucapannya. Menatap wajahnya yang teduh dibalik kerudungnya. Subhanallah, perempuan yang satu ini kok pandai sekali mengelola hati. Jadi malu pada diri sendiri. Aku suka sekali tersinggung dan membalas ucapan kasar dengan puas.
Aku menunduk. Ingin belajar bersikap seperti Mbak In. Selalu mengambil hikmah. Semoga aku berhasil Amin.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Tetangga Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

TELAH DIBACA

  • 104,308 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: