Tetangga

Agustus 24, 2009 at 5:48 am Tinggalkan komentar

TIGA hari pertama ini aku merasa dilumuri dosa. Entah masuk kategori dosa yang disengaja atau tidak. Aku terlibat dalam bergunjing. Menggunjing kebiasaan buruk tetanggaku, bu Feri. Yang jelas lidahku jadi kelu, merasa sia-sia beristighfar memohon maaf, karena perbuatan yang salah terus terulang. Bisa jadi Tuhan mulai bosan mendengar permintaan maafku.
bu Feri dan mama Elen. Sangat jelas mereka bertengkar, saat Maghrib belum betul-betul beranjak. Aku dengar bu Feri lebih dominan, menggebu-gebu mengumbar amarah dan umpatan. Mama Elen, cenderung diam dan berkata dengan halus.
Menjelang waktu Isya, mama Elen masuk ke dalam rumah dengan menunduk. Barangkali ia malu, Karena pertengkaran itu tanpa bu Feri sadari ada beberapa orang yang mendengar. Salah satunya aku, lalu teman aktifisnya di masjid juga mbah, tetangga depan rumah bu Feri. Suara keras dan kasar bu Feri lah yang memancing tetangga keluar rumah. Bu Feri terus nyerocos, seolah lupa sopan santun. Aku miris melihat mama Elen yang lebih banyak diam. Aku dan tetangga yang lain segera masuk rumah, tak ingin ikut campur.
Di dalam rumah, aku menghela napas. Membayangkan berapa lama lagi bu Feri akan mendiamkan mama Elen. Sebelumnya mereka sudah tak bertegur sapa hampir dua tahun. Padahal batas bermusuhan dengan tetangga hanya sampai tiga hari dalam Islam, sementara bu Feri merupakan aktifis masjid. Ia tak pernah absen mengaji setiap Jumat sore di masjid terdekat, dan setiap Kamis malam di rumah tetangga di lorong kami.
Esoknya seharian penuh, mama Elen tak keluar rumah. Mungkin ia tengah menenangkan diri, tetapi semalam sehabis shalat tarawih yang gagal, si bugsu menangis dimasjid. Mama Elen berkunjung ke rumah. Seperti biasa menupahkan semua yang ada di benaknya.
Semua berawal dari Hesti yang suka meludah di depan mama Elen. Hesti sendiri sudah kelas satu SMP. Lebih muda dan mestinya menghormati orangtua.
“Apa perasaan saya saja mama Fira, setiapkali ketemu di warung baru, di Tesi, di depan rumah, selalu meludah di depan saya. Tiga bulan lebih mama Fira. Nggak kuat aku tegur Hesti, hari Kamis. Eh, Jumat sore ibunya marah-marah di depan rumah. Maghrib.”
Mama Elen menelan ludah. Aku mengangguk. Aku memang lihat bu Feri marah-marah di depan rumah mama Elen senja itu. Lha wong rumahku sebelahan persis sama mama Elen.Soal Hesti yang meludah di depan mama Elen, aku juga pernah lihat, cuma nggak ngeh waktu itu. Usai bu Feri marah-marah pun, Hesti benar-benar meludah di depan mama Elen. Dadaku ikut sesak. Memang tak mungkin tak sengaja, meludah kok selama tiga bulan, dan selalu ketika ada mama Elen.
“Hampir dua tahun mendiamkan saya, kok anak ikut-ikutan nyakiti perasaan saya,” ujar mama Elen lagi.
“Sudahlah mama Elen, nggak usah dipikirin,” ujarku.
“Lha mikirin dia ya ikut kekanak-kanakkan mama Fira, saya cuma ingin didengar saja,” ucapnya lagi dengan lirih dan pilu.
Aku mengangguk pelan.
“Sabar mama Elen, kita emang tinggal di lingkungan yang majemuk. Tetangga kita unik-unik.”
“ Aku juga tak habis pikir, bu Feri itu kok terlalu berani sama tetangga. Orang kalau ada apa-apa, tetangga yang pertama kali menolong kita.”
Kalimat mama Elen itu seperti tengah menamparku dengan halus. Ya, tetangga adalah orang yang pertamakali kita mintai pertolongan dikala kesusahan. Seyogyanya kita memuliakan tetangga, bukan melukai perasaannya.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Emosi Tenang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: