Emosi

Agustus 22, 2009 at 4:35 am Tinggalkan komentar

MATAHARI benar-benar telah rebah, tetapi sibungsu yang kebetulan melihat odong-odong, nggak mau masuk rumah. Ini jenis mainan anak dibawa dengan becak, hanya saja tempat duduk diganti dengan empat kuda-kudaan. Setiap kuda bisa dinaikin anak usia balita. Kuda-kuda itu kemudian bergerak, seolah tengah berlari. Biasanya abang yang menjual jasa odong-odong ini mematok harga limaratus rupiah per satu lagu.
Sibungsu terus merengek, terpaksa aku mengejar odong-odong yang ada di ujung gang itu. Sayang jaraknya yang agak jauh, tak terjangkau. Siabang tampak terburu-buru mengayuh odong-odong itu. Barangkali mengejar waktu Maghrib, agar ia bisa berjamaah shalat maghrib di masjid terdekat.
Sibungsu terus menangis hingga waktu Maghrib masuk dan habis. Aku mesti menenangkan dengan jalan mondar-mandir sepanjang lorong atau gang di rumahku. Ada yang membuatku menautkan kening ketika melintas di depan rumah bu Fery, atau mama Hesti. Kami, para tetangga biasa memanggil dengan bu Fery. Karena panggilan itu akan membuat dia bahagia. Sementara bu Fery sendiri lebih suka memanggil kami dengan nama anak-anak kami. Memanggil aku misalnya, bukan dengan panggilan bu Widya atau mama Fira melainkan dengan Fira. Kalau dilihat usia, aku dua tahun lebih tua dari bu Fery tapi begitu deh, dia maunya dihormati dan ingin sekali menjadi ketua RT di lingkunganku.
Saat melintas itulah, aku dengar suara keras bu Fery membentak-bentak seseorang. Entah siapa. Saat melintas lagi suara keras bu Fery terus terdengar, jelas sekali kalau ia tengah marah-marah. Entah dengan siapa.Dalam hati, mungkin ia tengah memarahi Hesti atau Maulana, anaknya. Ups, bukankah kedua anaknya tengah shalat berjamaah di masjid. Lalu ia membentak dan marah-marah dengan siapa?
Sibungsu pelan-pelan mau diam, dan mau masuk rumah. Ia juga sudah asik bermain dengan abang dan kakaknya di ruang tengah. Aku sejenak melihat jam dinding. Hampir pukul enam tigapuluh, artinya aku di luar rumah mondar-mandir lebih setengah jam.
Aku duduk di kursi malas yang ada di samping rak buku. Belum lama duduk, terdengar suara salam, tetapi kok parau dan hampir suara isak tangis. Aku menjawab salam dan bergegas. Tercegang di ambang pintu. Mbak In hampir menangis.
“Ada apa Mbak.”
“Aku duduk ya Jeng.”
“Ya, iya.”
Aku ke dalam untuk membawa segelas air putih dan memberikannya pada Mbak In. Setelah menghabiskan minumnya, dan tenang Mbak In mulai bercerita.
Semua bermula dari masalah anak. Si Hesti dan Maulana yang sudah duduk di bangku SMP itu main bola basket persis di depan rumah Mbak In. Karena berisik dan sikecil sedang tidur, oleh pembantu Mbak In Hesti ditegur.
“Saya tidak tahu persis, Jeng. Cuma tadi maghrib bu Fery datang. Murni bilang saya disuruh datang ke rumah. Ada hal penting yang mau dibicarakan.”
“Mbak In ke rumahnya.”
“Ya baru saja Jeng.”
Aku diam. Jadi suara keras bu Fery tadi rupanya tengah memarahi Mbak In. MasyaAllah, padahal usia Mbak In jauh lebih tua dari bu Fery.
“Saya pikir ada hal penting apa Jeng,” ujar Mbak In kemudian seperti bergumam.
“Sabar ya Mbak,” ujarku kemudian, tapi tiba-tiba aku merasa lancang. Mbak In yang mestinya berhak menasehati aku.
“Maaf Mbak.”
Aku diam. Tak lama kemudian Mbak In tersenyum.
“Mungkin ini teguran buat saya untuk hati-hati dalam bertutur, Jeng. Orang besok hari pertama puasa, maghrib-magrib bukannya mengaji malah ke rumah orang. Tahunya…”
Mbak In tak meneruskan kalimatnya. Aku tahu Mbak In dicacimaki, dihujat sama bu Fery, aku mendengarnya sendiri.
Aku menghela napas. Aku berani taruhan mulai besok pagi bu Fery pasti akan mendiamkan Mbak In untuk waktu yang entah sampai kapan. Lha wong aku aja pernah didiamkan sama bu Fery sampai tiga kali. Persoalannya sepele. Cuma masalah anak-anak. Setiapkali mendiamkan aku, bu Fery betah sampai satu tahun lebih.
Ya Allah jauhkanlah aku dan keluargaku dari sifat-sifat buruk. Amin.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Sekolah Dasar Negeri Kasepuhan II Tetangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

TELAH DIBACA

  • 103,873 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @ummychasan: @detikcom Ketiganya kami cintai dan hormati, mrk bekerja u rakyat. 2 hours ago
  • RT @mesjkt: @detikcom Ke3nya adalah orang2 yg saya kagumi:jujur,bersih,berintegritas tinggi dan kerja kerasnya ikhlas buat bangsa dan negar… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang seseorang menyalahkan orang lain hanya karena tak temukan kata yg tepat tuk ucapkan maaf. Dan karena itu kegagala… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang kamu memilih tuk sendiri, bukan berarti kamu tak ingin dicintai, itu hanya berarti kamu butuh waktu tuk sembuhkan… 2 hours ago
  • RT @ilhamkhoiri: Afi Nihaya itu baru lulus SMA, masih 19 tahun, anak pedagang cilok, tapi catatannya inspiratif untuk bangun Indonesia yg d… 2 hours ago

%d blogger menyukai ini: