Tunangan

Agustus 18, 2009 at 4:23 am Tinggalkan komentar

RIBETnya ingin menikahi perempun Jawa, begitu kira-kira yang terlontar dari percakapan seorang pemuda Sumatera. Memang dua suku bangsa ini berbeda budaya juga adat. Salah satunya dalam hal menikah.
Di Jawa, lebih khusus lagi di Batang sebelum menikah, biasanya ada pertunangan terlebih dulu. Pihak laki-laki membeli sepasang cincin mas tunangan dengan model khusus. Pertunangan ini pertanda sang gadis telah terikat oleh seorang pria. Demikian juga dengan sang pria.
Usai tunangan, biasanya ada sela waktu satu sampai tiga tahun baru menikah. Ada juga yang kurang dari satu tahun dilangsungkan pernikahan. Tak jarang pula mereka gagal menikah karena suatu hal. Saling berpindah hati, misalnya.
Sebelum menikah pihak keluarga laki-laki memberikan lamaran atau tukon, kepada pihak perempuan. Biasanya berupa uang tunai plus keperluan acara pesta pernikahan. Dari bumbu dapur sampai seekor atau beberapa ekor kambing bahkan kerbau. Sesuai kemampuan financial pihak laki-laki.
Tak jarang pesta pernikahan dijadikan ajang unjuk kekayaan, semakin megah pesta pernikahan, semakin banyak para tetangga berdecak kagum. Tak jarang pula keluarga sampai berhutang dalam jumlah besar untuk pesta pernikahan. Bagaimana soal tunangan dan menikah dalam novel Nawang?
DWY

Iklan

Entry filed under: Dibalik novel NAWANG.

Hati-hati dengan Lidahmu Sekolah Dasar Negeri Kasepuhan II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

TELAH DIBACA

  • 104,296 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: