Hutang

Agustus 6, 2009 at 3:13 pm 5 komentar

TERDENGAR salam dari luar, saya membalas salam itu tetapi mungkin saja tak terdengar. Maklum saja saya sedang berada di dapur, menyiapkan makan siang. Masak hari ini agak terlambat karena si bungsu yang belum genap dua tahun itu bangun pagi-pagi. Sudah deh, aku nggak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Beruntung, asistenku dalam urusan rumah cukup loyal sama aku. Setiap hari datang.
Si bungsu baru saja tidur, artinya kesempatan buat aku untuk memasak. Hanya bikin capcay dan omelet. Keduanya pesanan anak-anak. Aku matikan kompor, beranjak ke depan menemui seseorang yang mengucap salam lagi. Ternyata mbak In.
Aku membuka pintu dan mempersilahkan mba In duduk.
“Lagi repot ya.”
“Nggak baru saja selesai masak, sikecil juga sedang tidur.”
Tak lama kemudian datang lagi seorang tetangga. Bu Tio, tetanggaku yang rumahnya diujung kiri. Wajahnya tampak resah.
“Oh ada mba In.”
Mba In tersenyum, lalu kami saling ngobrol. Dari obrolan itu kami tahu kalau suami bu Tio sedang keluar kota dalam waktu lama.
“Aku tuh lagi pengen marah sama orang,” ujarnya tiba-tiba. Aku mengernyitkan dahi, sementara Mba In tersenyum tipis.
“Ada apa bu Tio.”
“Gimana ya?”
“Lha bagaimana?” tanyaku sekenanya.
“Aku pendam sendiri kok lama-lama nggak tahan.”
Aku tambah menautkan kening, mba In juga mulai tertuju pada bu Tio.
“Ada apa to bu?” tanyaku ingin tahu.
Bu Tio memandangiku lalu bergantian memandangi mba In.
“Mama Lely.”
Aku sejenak ingat ke mama Lely, hubunganku sama dia baik-baik saja.
“Hutang uang sama aku, sudah hampir satu bulan belum dikasih, padahal waktu hutang pas tanggal tua. Yang aku kasih juga uang tlesepan, eh sekarang lama nggak dikasih.”
Aku menghela napas. Mama Lely sering juga pinjam uang, memang dikembalikan tetapi ya lama, mengembalikannya.
“Kalau lagi tak punya uang aku suka ingat,” ujar bu Tio kemudian.
“Memang hutangnya berapa?” Tanya mba In.
“Bukan jumlahnya mbak, tapi tanggungjawabnya itu lho.”
Aku tercenung. Kalau kekurangan sepertinya mama Lely nggak deh. Orang setiap malam selalu beli nasi goreng, kadang siomay. Hampir setiap gerobak selalu berhenti di depan rumahnya setiap hari, karena mama Lely beli. Mama Lely dan suami juga bekerja . Jadi memang tidak mungkin mereka kekurangan.
“Sama.”
Aku dan bu Tio memandang ke mba In.
“Sudah ikhlaskan saja.”
“Maksud mba?”
“Kalau mama Lely pinjam uang, niatkan saja kita membantu dia.”
“Lho?”
“Mau gimana lagi, orang uangku saja sudah setahun nggak dikembalikan. Aku ikhlaskan saja. Toh, Tuhan maha adil.”
“Emang berapa hutang dia?”
Aku terhenyak. Jumlahnya tak sedikit, tapi memang aku lihat mba In tak lagi mempersoalkan uangnya yang dipinjam mama Lely. Aku jadi malu, kalau kadag-kadang mengeluh sama suami, uang yang dipinjam mama Lely belum juga dikembalikan.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Miskin Hati-hati dengan Lidahmu

5 Komentar Add your own

  • 1. Pakde Cholik  |  Agustus 6, 2009 pukul 3:58 pm

    Hakekatnya setiap hutang harus dibayar, kecuali jika yang memberi hutang sudah mengikhlasakan atau menghibahkan kepada kita.
    Mantap cerpennya
    Maju terus
    Salam dari Surabaya

    Balas
    • 2. dianing  |  Agustus 16, 2009 pukul 11:55 am

      Terimakasih Pakdhe, sudah berkunjung di blog saya. Saya undang pakde membaca novel terbaru saya, NAWANG. Di sini akan Pakde dapatkan kehidupan Nawang yang tegar dan gigih mencapai impiannya. Berbagai kesulitan ia hadapi dengan semangat. Bisa Pakde kunjungi juga blog http://novelnawang.co.cc
      Salam.

      Balas
  • 3. Nurul Khosyati  |  Agustus 7, 2009 pukul 5:35 am

    Wah… Hebat ceritanya, membuat saya merasa malu karena selalu ‘cerewet’ mengingatkan teman yang meminjam uang/barang pada saya agar tak lupa mengembalikan sesuai limit waktu yang mereka janjikan. He… ^_^

    Balas
    • 4. dianing  |  Agustus 16, 2009 pukul 11:56 am

      Makasih ya mba Nurul …

      Balas
  • 5. Boy Hasid  |  Agustus 13, 2009 pukul 1:30 am

    salam dari Luwu Sulawesi Selatan. Cerpennya oke deh. kapan-kapan cerpenku juga dibaca ya mba!… salam.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

TELAH DIBACA

  • 103,887 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: