Kembang Dinggo

Juli 31, 2009 at 3:29 pm Tinggalkan komentar

nawangTANAH Jawa akrab dengan mitos, sesaji juga mistik. Termasuk ranah Batang. Satu contoh saja, kebiasaan mbah Waliyah, nenekku dari pihak bapak. Mbah Waliyah juga seperti mbah Darnah, seorang pedagang.
Setiap Kamis, mbah Waliyah suka membuat sesaji berupa kembang atau bunga mawar, pandanwangi , juga kenanga. Sesaji itu dibuat dengan cara melepas kelopak bunga mawar satu persatu. Menaruhnya dalam takir kecil, dari daun pisang dicampur dengan irisan lembut daun pandan dan taburan bunga kenanga. Mbah membuat tujuh takir, semua bunga didapat dari halaman sendiri. Aku ingat Kenanga ditanam di sudut kanan halaman rumah.
Sesaji-sesaji itu kemudian diletakkan di setiap sudut rumah. Jumat sore sesaji-sesaji itu akan dibuang begitu saja ke tampat sampah. Pada malam Kamis, mbah Waliyah juga ibuku akan merendam kembang dinggo di dalam gelas. Kembang Dinggo ini terdiri dari irisan halus daun pandan wangi, mawar yang sudah dilepas satu satu, juga bunga kenanga. Rendaman bunga ini biasanya diletakkan ibu atau mbah Waliyah di meja kamar. Paginya, Jumat rendaman bunga ini disiram ke halaman rumah.
Begitulah salah satu kebiasaan masyarakat Batang, untuk menandai hari Kamis dan Jumat. Makanya setiap Kamis kembang Dinggo, Telon laris diburu orang. Biasanya dikemas dengan daun pisang berbentuk kerucut atau contong.
Kembang Dinggo ini aku sematkan juga dalam novel terbaru saya, NAWANG.
DWY

Iklan

Entry filed under: Dibalik novel NAWANG.

Mas Miskin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 104,296 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: