Mas

Juli 30, 2009 at 4:32 am Tinggalkan komentar

nawang“Kalau punya uang, nabung mas Nduk.” Begitu kira-kira nasehat mbah Darnah, nenekku sewaktu mudik lebaran beberapa tahun silam. Aku tersenyum tipis. Jakarta beda dengan Batang Mbah. Biaya hidup di sana berkali lipat dibandingkan di sini. Boro-boro beli mas untuk ditabung, menabung di bank saja kadang diambil untuk satu keperluan.
Memang nenek suka sekali membeli mas sehabis panen raya tiba. Mas-mas itu di simpan dalam klenthung, kaleng lengkap dengan tutupnya lalu ditaruh begitu saja di kolong tempat tidur. Begitu sederhana. Mas-mas itu akan dijual bila nenek membutuhka dana besar. Membeli rumah atau tanah, atau biaya kuliah.
Di masyarakat Batang, mas menjadi simbol kekayaan pemakainya. Saya ingat seorang tetangga yang ditegur sesepuh kami, karena terlalu mewah. Ia mengenakan semua perhiasan dalam keseharian, apalagi ketika hendak bepergian. Rupanya sesepuh itu mengkhawatirkan tetangga saya, bisa mengundang penjahat. Akhirnya tetangga saya mengurangi pemakaian perhiasannya.
Di Batang ada salah satu toko mas terkenal. Tempatnya di muka pasar Batang, di jalan Jenderal Sudirman atau jalan pantura. Pemiliknya orang kaya. Nama tokonya Macan, lengkap dengan gambar kepala Macan di bagian atas toko. Ketika masuk ke toko, kita disuguhi gambar macan ukuran besar, sedang berjalan dengan tatap mata tajam. Toko mas Macan ini paling banyak dikunjungi karena kualitas mas yang dijual. Toko ini juga menerima gadai.
Bagaimana hubungan Nawang dengan mas? Tentu berbeda dengan hubungan mbah Darnah, nenekku..
DWY

Iklan

Entry filed under: Dibalik novel NAWANG.

Dari 150 halaman Kembang Dinggo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 105,232 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: