Batang selalu Eksotik

Juli 22, 2009 at 3:42 am Tinggalkan komentar

nawangBENTANGAN sawah dengan pematangnya yang setapak itu seringkali aku lewati jika jam masuk sekolah sudah dekat. Lewat pematang sawah sebelum dipanen sering dimarahi orang, tapi ini jadi satu-satunya cara mengejar waktu. Bisa memotong jalan, lebih cepat sampai. Dengan bertelanjang kaki aku melompat dari pematang sawah yang satu ke pematang yang lain. Tubuhku yang mungil sangat mudah melakukannya. Dulu ketika masih sekolah dasar, anak-anak ke sekolah bisa ngodok, tidak memakai sepatu. Hanya ketika aku menginjak kelas lima, aku dan yang lain mulai mengenal sepatu. Ndeso banget ya?
Aku meletakkan Batang sebagai setting novel Nawang. Emang setelah jauh dari Batang, aku justru bisa membaca Batang. Bisa menumpahkannya ke dalam novel. Maka akan ditemui di sini hamparan sawah menghijau, plus jalanan tanah yang membelah persawahan menuju sekolah dasar Kasepuhan. Konon, ini cerita Mak, ibuku. Tanah untuk Kompleks sekolahan ini dulu milik Mbah Sibuh, bapak sepupunya ibu. Tanah yang luas itu dijual. Oleh penjualnya, dihibahkan untuk membangun sekolah dasar. Tokoh mbah Sibuh, sempat aku angkat dalam novel Sintren, novel perdanaku yang sempat masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award.
Selain sawah, terbentang kali yang memanjang. Kali ini digunakan orang-orang kampung untuk mengaliri sawah, juga sering digunakan orang untuk memandikan kerbau. Seringkali ketika aku berangkat sekolah terdengar suranya yang khas. Seperti terompet. Oeek. Ah, hewan hitam legam yang kutunya selalu dipatuk oleh burung itu sudah lama tak bisa aku lihat. Jakarta isinya beton sama mal. Sampai-sampai anakku menyebut hewan ini dengan Banteng ketika pulang kampung dan saat jalan-jalan ke Anyer.
Romansa lain yang aku suka adalah ketika puluhan bahkan ratusan itik berjalan menuju kali untuk bersenang-senang. Itik-itik itu membuat antrean panjang. Satu persatu mereka berbanjar ke belakang. Mereka akan nyemplung ke kali sesuai urutan. Saya sering mendengar celoteh orang tua. Belajarlah pada Itik yang sudi mengantre.
Dulu aku sering berlama-lama memperhatikan puluhan itik itu berenang, saling bercengkerama dengan yang lain. Sesekali Itik-Itik itu naik ke atas. Mengibaskan kedua sayapnya berkali-kali. Aku jadi ingat pada sebuah pelajaran. Biarpun Itik-Itik itu berenang dan menenggelamkan seluruh tubuhnya, Itik itu tak kelihatan basah. Kenapa? Karena bulu-bulu Itik itu mengandung minyak. Begitu guru Cahyono mengajarkan pada kami. Ke mana sang gembala Itik?
Di saat Itik-itik itu berenang, Sang gembala asik duduk di sebuah batu. Biasanya kalau tidak membaca koran bekas, atau mengisi teka-teki silang, ia memainkan serulingnya. Aku sangat suka dengan kebiasaannya meniup seruling dari bambu itu. Yang sering ia bawakan tembang Jawa Gundul-gundul Pacul.
Selain Itik, aku akan bertemu sekawanan kambing. Kambing-kambing yang jumlahnya lebih dari sepuluh itu sengaja dilepas oleh pemiliknya. Tak pernah dijaga. Anehnya kambing-kambing yang rata-rata kulitnya putih itu tak pernah hilang, dan selalu pulang sendiri ke pemiliknya tepat waktu. Sore hari, sebelum Maghrib.
Yang selalu aku takuti adalah bila bertemu dengan kerbau yang ada di depanku. Aku dan teman-teman putri akan berteriak-teriak bila orang yang menggembala kerbau tak mengendalikan kerbaunya. Ada lagi yang selalu aku ingat. Kadang-kadang di tengah jalan menuju sekolah, ada kotoran kerbau yang bentuknya bulat tepat di tengah jalan. Biarpun demikian, tak pernah salah satu diantara kami menginjak kotoran itu. Karena dari kejauhan kotoran kerbau itu mirip kue tart, berdiri tegak di tengah jalan. Warnanya hijau. Pastilah kotoran kerbau. Herannya siang hari sesudah pulang sekolah kotoran kerbau itu sudah tak berbekas.
Hamparan sawah hijau, dangau di tengah sawah, Kerbau yang suka berendam di kali yang bening, lalu keramahan orang-orang seringkali membuatku seperti ditarik-tarik untuk pulang. Hanya saja kangen pulang kampung, sering tertahan. Menunggu lebaran tiba, ketika anak-anak libur sekolah, suami libur dari rutinitas kantor.
Pernah suatu kali saat pulang ke Batang. Anakku memandangi takjub aliran sungai. Sampai-sampai ia tak sadar telah tertinggal oleh kami yang sedang jalan-jalan menuju salah satu famili.
DWY

Iklan

Entry filed under: Dibalik novel NAWANG.

Nawang, tetap perempuan biasa SMS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: