Nawang, tetap perempuan biasa

Juli 21, 2009 at 4:35 am Tinggalkan komentar

nawangALASANKU mematrikan nama Nawang sekaligus judul di novel ketiga (berdasar urutan terbit) disamping karena aku suka nama ini, Nawang punya karakter kuat untuk sebuah nama orang kampung. Ketika ia hidup di kota, orang akan tahu bila dia berasal dari kampung. Nama Nawang selain terinspirasi dari dongeng Nawangwulan, aku pikir tetap up to date untuk waktu yang lama. Terdengar unik bukan, bila menyebut atau mendengar namanya?
Dalam novelku ini, Nawang aku hadirkan sebagai sosok perempuan yang ingin keluar dari kebiasaan hidup di kampungnya. Bila perempuan hanyalah mengurus seputar dapur, Nawang ingin menjadi perempuan yang punya nilai plus. Ia punya impian untuk keluar dari Batang, tanah di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Kota yang memberinya luka karena kenyataan yang selalu tak berpihak kepadanya. Masa kecilnya didera kesepian.
Nawang aku angkat dari kehidupan sehari-hari perempuan umumnya di Batang. Banyak perempuan terkondisikan untuk sekolah sekedar mengisi masa remaja. Sekedar tahu membaca dan menulis. Selebihnya perempuan hanyalah perhiasan orangtua dan suami. Orangtua di Batang senantiasa berbunga-bunga saat anak gadisnya menginjak remaja dan cantik. Orangtua selalu ingin anak gadisnya cepat laku, dilamar dan kemudian menikah.
Zaman aku masih kecil dulu, sangat kental budaya menikahkan anak perempuan dalam usia relatif muda. Enambelas tahun dan sekitarnya. Begitu anak gadis selesai sekolah SMU dan belum punya pacar, orangtua sang gadis sudah risau dan mencari temannya untuk menjodohkan anak-anak mereka.
Aku sendiri punya pengalaman lucu sekaligus bikin jengkel. Bapak pernah kedatangan tamu, menanyakan apakah anak sulungnya sudah ada yang punya. Kalau belum, ingin ia lamar. Dijadikan menantu. Maksud anak sulung adalah aku. Welaah dalah. Aku benci kalau ingat peristiwa itu. Bapak tak berterus terang sama aku ketika sang tamu sudah pulang. Hanya beberapa hari kemudian, Mak cerita kalau aku kemarin dilamar orang. Mak tertawa menanggapi maksud tamu itu, sementara bapak hanya tersenyum dan bilang masih mikir sekolah. Pengen tahu usiaku ketika itu? Belum lulus sekolah dasar. Uedan to?
Begitu anak perempuan selesai sekolah menengah atas, dan dalam waktu satu dua tahun belum ada yang melamar, sudah diberi predikat menyakitkan. Maaf, perawan tua. Tak jarang orang tua memarahi sang gadis yang belum juga dilamar, dan tak jarang memberinya predikat perempuan sial. Menyakitkan bukan? Keluarga Nawang aku kondisikan sebagai keluarga yang penuh heroik dalam kehidupan keluarganya.
Sebaliknya orangtua akan sumringah bila anak gadisnya banyak yang menaruh hati. Bayangan mereka tak lama akan segera memiliki menantu. Satu lagi yang menarik, di Batang orangtua akan berbunga-bunga bila anak gadisnya dipacari oleh polisi. Kebanyakan polisi di Batang adalah pendatang. Jadi kehadiran mereka menjadi hal luar biasa. Kebanyakan pemuda dan pemudi di Batang bekerja sebagai petani, nelayan dan berdagang. Kebiasaan yang sudah mentradisi. Sangat jarang pemuda asli Batang kerja kantoran. Paling banter jadi PNS.
Pada zaman saya remaja banyak perempuan dan laki-laki sekolah ke jenjang perguruan tinggi, tapi akhirnya menjadi pengangguran. Mereka lebih suka pulang kampung, bekerja apa adanya. Biasanya meneruskan bisnis orangtua. Hingga ada pameo di sana, untuk apa sekolah tinggi toh akhirnya menganggur. Tak jarang di pasar Batang, banyak ditemukan penjualnya merupakan lulusan perguruan tinggi.
Aku tak tahu jelas. Apakah menjadi berdagang atau bertani adalah pilihan hidup para sarjana itu. Kalau hanya untuk berdagang mengapa harus menghabiskan waktu dan berkutat dengan buku-buku kuliah selama empat tahun? Tapi aku ingat betul, banyak dari mereka mencoba melamar pekerjaan, tetapi lama menunggu di kampung, tak dapat juga pekerjaan, akhirnya bekerja apa saja asal halal. Jadinya mereka seperti hidup menggelinding saja. Menerima apa adanya. Nrimo ing pandum, begitu istilah Jawa yang sering dijadikan pengaman. Padahal makna nrimo ing pandum, tak sekedar menerima apa adanya. Lebih dari itu. Nrimo ing pandum, menurutku berusaha semaksimal mungkin apa yang ingin kita capai, tetapi semuanya diserahkan kepada yang kuasa.
Aku lihat, sampai sekarang tradisi pulang kampung seusai kuliah masih berjalan. Kecuali bagi mereka yang punya semangat seperti Nawang.
DWY

Iklan

Entry filed under: Dibalik novel NAWANG.

Bapak di mata Nawang Batang selalu Eksotik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: