Bapak di mata Nawang

Juli 16, 2009 at 2:13 pm Tinggalkan komentar

nawangBAPAK bagi Nawang, juga bagi mak dan Palupi adalah laki-laki hebat. Bapak tak gentar menghadapi hidup. Kemiskinan yang didera keluarga bapak, tak menyulutkan bapak untuk melamar mak diwaktu muda dulu. Kekayaan orangtua mak waktu itu membuat orang terperangah. Karenanya hanya orang-orang kaya saja yang berani melamar mak.
Untuk orang kampung yang merasa kekayaannya dibawah orangtua mak, akan mundur teratur. Makanya mbah putri, ibu mak pataharang ketika mak menerima pemuda miskin, seperti bapak.
Tokoh bapak, ada kemiripan dengan karakter bapakku. Memang Keberangkatan novel ini aku buat dengan semangat mengenang almarhum bapak. Beliau meninggal di usia yang diperkirakan bapak sendiri. Bapak pernah berujar kelak meninggal seperti kanjeng nabi, umur enampuluh tiga tahun. Dua kali bapak berujar seperti itu dihadapan mak juga aku. Mak bilang, jangan bicara ngawur, ucapan itu sebagian dari doa. Betul, bapak meninggal ketika seluruh adik-adikku belum mentas. Belum berumah tangga.
Beruntung, mak yang sudah terbiasa berdagang bisa mengambil alih tugas almarhum bapak. Aku sendiri sudah memberi dua cucu buat bapak. Ketiga adikku laki-laki semua sudah bekerja. Tinggal dua adik perempuan yang hampir selesai kuliah dan sibungsu yang memasuki jenjang kuliah, saat bapak pergi.
Bapak orang yang keras. Agak otoriter meski akhirnya mengalah dengan keinginan anak. Beliau juga yang menentangku habis-habisan ketika aku memilih untuk menekuni menulis. Beliau juga yang menjemputku ketika aku memutuskan ke Jakarta di tahun 1996. Aku, waktu itu menurut saja. Hati dan pikiran yang selalu ingin menulis, tak memungkinkan aku tinggal di Batang dalam waktu lama. Jadinya aku sering bertengkar dengan bapak. Aku tak bisa memenuhi keinginannya untuk meneruskan usaha dagang di Pasar.
Hingga datang cek dari majalah terbitan Brunai Darussalam dalam jumlah besar, Bapak baru terbuka hatinya. Disamping peran penulis senior Batang Maghfur Saan dan Dinnulah Rayes, yang meyakinkan Bapak agar memberi lampu hijau untuk dunia yang ingin aku pilih.
Aku berani bilang, dibalik sikap bapak yang menentangku menulis, ada kebanggaan dalam dirinya. Pernah tetanggaku bilang ke aku, “Bapakmu Wid setiapkali ke pasar, dibawanya buku yang ada puisimu dan fotomu. Ditunjukkannya ke orang-orang. Dengan senang bapakmu menyuruh orang-orang di pasar menebak foto siapa dibuku itu.”
Buku yang dimaksud adalah buku antologi puisi Dari Negeri Poci 2 (Editor F. Rahardi, Balai Pustaka, 1994) Sejak itu aku tahu Bapak tak sepenuhnya melarang aku. Hanya saja di Batang kegiatan menulis puisi atau cerpen belum dipandang sebagai pekerjaan. Bagi mereka bekarja ya kalau nggak jadi pegawai negeri, bawa cangkul ke sawah atau berjualan ke pasar. Itu baru kerja namanya.
“Apa jadi seniman? Udah rambutnya gondrong, baju ora tahu diseterika.” Begitu Bapak dulu berujar sengit sambil mathik kelapa. Mengupas kelapa dari batoknya. Pokoknya Bapak benci banget sama dunia kepenulisan. Aku justru semakin bersemangat ketika Bapak menafikan dunia ini. Padahal sebagian bakatku, bisa jadi turun dari Bapak.
Bapak dulu suka bikin puisi, suka melukis untuk reklame di bioskop atau melukis artis sedang menyanyi, untuk keperluan pertunjukkan musik dangdut. Bapak juga sempat bergabung di kelompok musik dangdut sebagai vokalis dan penabuh gendang juga gitar. Kegiatan Bapak yang lain adalah menjadi kiper, penjaga gawang di salah satu persatuan sepak bola di kampung.
Bapak akhirnya membelikan mesin ketik untukku setelah bisa menerima dunia yang aku pilih. Bapak pasti membeli dan membaca karyaku di koran. Kalau mengunjungi aku di Jakarta, Bapak selalu membaca karya-karyaku yang belum sempat dibaca di kampung. Bapak juga seperti aku, gemar membaca. Kalau pulang ke Batang, ada saja buku yang Bapak bawa ke Batang.
Sampai sekarang, aku masih suka tak percaya. Masih suka menanyakan pada Bapak. Kenapa pergi terlampau cepat. Ketika aku dan adik-adik belum sempat membuatnya tersenyum.
Bapak juga turut terlibat dalam pembuatan novel Sintren. Beliau yang menyanyikan lagu-lagi pengantar sintren, yang menyebutkan nama-nama alat musik untuk mengiringi Sintren, juga yang mengantar aku untuk wawancara dengan pelaku Sintren. Sayang, Bapak tak sempat membaca novel perdanaku yang berhasil masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007. Sedih bangeet.
Akhirnya, hanya Tuhanlah Yang Maha Kuasa.
DWY

Iklan

Entry filed under: Dibalik novel NAWANG.

Utang Nawang, tetap perempuan biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 103,197 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: