Mitos di Batang

Juli 8, 2009 at 3:47 am 5 komentar

nawangNOVEL ini aku awali dengan tokoh utama Nawang yang kejatuhan cicak di bahunya. Selain Kucing, di Batang, kota tempat aku menghabiskan masa kanak-kanak juga masa remaja, berkembang mitos yang melibatkan hewan Cicak.
Hewan yang selalu dinyanyikan oleh anak-anak dengan nada riang itu dipercaya membawa pesan tertentu di Batang. Bila hewan ini jatuh di bahu kanan atau kiri, atau jatuh di rambut atau di kaki, artinya dalam waktu dekat akan datang musibah. Biasanya yang dekat dengan keluarga dan famili.
Aku juga punya pengalaman soal Cicak ini. Waktu itu Lek Ndori masih kerabat sama Mbah Darnah datang berkunjung. Mbah Darnah adalah nenekku, usinya sudah sepuh (tua). Beliau masa gadis dulu mengalami zaman pendudukan Jepang. Aku jadi ingat saat kanak-kanak dulu pernah diceritain sama Mbah, dulu kalau ada pesawat terbang melintas semua penduduk kampung buru-buru masuk ke dalam bungker. Tempat bersembunyi di dalam tanah.
Balik lagi ke soal Cicak. Sewaktu Mbah Kakung saya meninggal, sebelumnya Lek Ndori yang rumahnya jauh dari rumah Mbah, mengaku kejatuhan Cicak di bahu kanannya. Ihwal itu Lek Ndori ungkapkan saat datang ke rumah Mbah, tentu di rumah Mbah ketika itu banyak orang sedang berdoa untuk almarhum Mbah Kakung. Lek Ndori sendiri belum sempat diberi kabar akan kepergian Mbak Kakung. Ia datang karena hati seperti menuntun ke rumah Mbah.
Aku waktu itu percaya saja. Padahal kalau ditarik ke belakang, memang usia Mbah Kakung sudah di atas tujuhpuluh tahun. Sebelum meninggal Mbah Kakung sempat dirawat di rumah sakit dr. Karyadi Semarang selama lebih dari satu minggu. Mbah Kakung kemudian dirawat di rumah bulek Narti. Waktu itu masih tinggal di asrama POLRI yang sumpek. Di kawasan Johar, Semarang Utara.
Saat aku menuliskan kisah ini, nggak bisa membayangkan bagaimana sempitnya rumah bulek waktu itu. Asrama itu tak ada skat atau pemisah ruang yang tegas. Hanya berupa triplek sebagai penanda ruang baru. Ruang tamu diskat dengan lemari hias. Di belakang lemari itu kamar anak-anak. Kemudian bentangan triplek yang memisahkan kamar tidur satunya. Keduanya tanpa pintu. Kemudian kamar mandi. Kamar mandi ini hanya cukup untuk seorang. Di ruang itu juga bulek mencuci baju dan mencuci piring. Mengingat nggak ada ruang lain untuk kedua kegiatan itu. Ruang dapur yang sempit menghadap ke jalan raya. Alhamdulillah, sekarang Om Nur bisa mengajak bulek Narti ke rumah sendiri, meski letaknya jauh dari pusat Semarang.
Jadi tertarik pengen ngangkat perjuangan Om Nur, seorang polisi yang jujur. Dalam arti dia mendapatkan tambahan penghasilan dengan menjadi satpam tanpa seragam, di beberapa tempat. Karena kejujuran itulah menu makan sehari-hari hanya tempe, tahu, sayur dan sambal. Tanpa buah-buahan. Bisa membeli rumah ketika Si sulung menginjak SMP kelas tiga. Itupun dengan mengangsur selama duapuluh tahun.
Balik lagi ke soal Cicak. Temanku pernah kejatuhan cicak di kakinya. Mungkin karena mempercayai hewan itu sebagai pertanda akan datangnya musibah, ia jatuh dari sepeda saat hendak menghindari anak kecil yang muncul tiba-tiba dari halaman rumah.
“Ini gara-gara cicak itu,” ujar temanku.
Ah, mengapa jadi Cicak yang dimasalahkan?
DWY

Iklan

Entry filed under: Dibalik novel NAWANG.

Dari Membaca ke Menulis Utang

5 Komentar Add your own

  • 1. david dari Semarang  |  Juli 17, 2009 pukul 6:36 pm

    mbak,,
    daku wis beli novele sampeyan yang judule “NAWANG”..
    he.he.he.he..

    sukses yo Mbak….????

    -salam budaya-

    Balas
    • 2. dianing  |  Juli 21, 2009 pukul 4:02 am

      Maturnuwun banget, sukses juga kanggo sampeyan. Nulis terus ya… Kalau ada kesempatan ya ayolah kenalan sama model cover NAWANG.

      Balas
    • 3. Anonim  |  Juli 25, 2010 pukul 2:52 pm

      love batang

      Balas
  • 4. david dari Semarang  |  Juli 17, 2009 pukul 6:40 pm

    ada yg kelupaan Mbak…

    yang jadi kofer “NAWANG”..
    daku boleh kenal dong..????
    kayaknya masih seumuranku ya, Mbak???
    he.he.he.he…

    -salam budaya-

    Balas
  • 5. Muhamad Imron  |  Agustus 23, 2010 pukul 11:25 am

    klo lihat cewek cakep pada ijo matanya…. tapi ga papa.. saya juga kaya gitu kok…. hehehe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 104,308 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: