Dari Membaca ke Menulis

Juli 7, 2009 at 12:51 pm Tinggalkan komentar

nawangMEMASUKI SMP aku sudah riskan untuk pentas baca puisi. Udah gede. Udah gak imut-imut lagi. Biar adik-adik kelasku yang gantian naik pentas baca puisi di acara tujuh belasan. Aku waktu itu lebih serius mengumpulkan karya-karya penyair Indonesia. Dari banyak nama, aku gandrung sama puisinya W.S Rendra. Aku ingat sebutan buat dia, Si Burung Merak. Jadilah aku pengumpul karya-karyanya.
Aku tak ingat betul, kapan mulai menulis puisi. Yang aku ingat disela-sela menjaga warung aku mulai suka menulis puisi. Tentu isinya tentang perasaanku. Lucu-lucu deh kalau dibaca lagi. Aku, waktu itu nulisnya di buku kwarto yang isinya seratus halaman. Biar awet, dan tak berserakan. Di SMP inilah aku mulai rutin mencari surat kabar Minggu. Di Suara Merdeka, selalu ada rubrik sastra. Puisi dan cerpen, tapi aku lebih suka baca puisinya. Uang jajan harian dari Ibu, aku sisihkan untuk membeli majalah pelajar MOP. Majalah Yang terbit setiap bulan untuk pelajar SMP se Jawa Tengah. Beberapa kali aku kirim puisi ke majalah ini, tapi tak satupun dimuat.
Aku kemudian sempat melupakan kegiatan menulis itu. Aku suka cemberut. Gagal terus, gagal terus. Hingga suatu ketika aku terpilih lomba mengarang bertema Lingkungan Hidup untuk tingkat propinsi. Aku kembali lagi menyukai kegiatan menulis. Di sela-sela kegemaran itu, bulek Yanti bilang ke aku. “Tekunilah apa yang kamu sukai, niscaya kelak akan memberimu harga.” Aku ingat terus nasihat itu. Sejak itupun apapun yang terjadi aku mulai menulis. Mengumpulkannya dan mengirimkannya. Sayang satupun tak pernah dimuat.
Toh, demikian aku tak bisa meninggalkan kebiasaan menulis. Sehari tak menulis, dunia terasa aneh. Aku seperti merasa kehilangan sesuatu. Hingga akhirnya sampai sekarang menjadi penulis novel, juga karena tak bisa melewati hari tanpa menulis.
DWY

Iklan

Entry filed under: Dibalik novel NAWANG.

Kakiku Luka Mitos di Batang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 104,296 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: