Kakiku Luka

Juli 6, 2009 at 5:18 am Tinggalkan komentar

nawangSERING tampil membaca puisi baik untuk acara di sekolah, dan di pentas-pentas RT membuat aku jadi lebih dikenal orang. Karenanya RT lainpun suka memintaku untuk ikut menyumbang baca puisi untuk pentas tujuhbelasan. Aku ingat begitu bulan agustus tiba, bapak akan kedatangan tamu dari panitia tujuhbelasan dari beberapa RT. Tanpa persetujuanku, bapak akan bilang kalau aku bisa. Aku mau.
Pernah sekali waktu datang panitia tujuhbelasan dari RT dan RW lain ke rumah. Meminta aku untuk membaca puisi. Waktu itu sudah akhir bulan. Acara tinggal dua hari lagi. Bapak mengiyakan begitu saja. Aku bingung. Harus baca puisi yang mana. Stok puisi bertema perjuangan sudah aku baca semua di beberapa pentas tujuhbelasan sebelumnya. Masak aku harus baca puisi yang sama, Nggak puas rasanya.
Setelah cukup lama memilih nggak ada yang pas untuk dibacakan di pentas, panitia menyerahkan ke saya mau baca puisi selain tema perjuangan nggak apa-apa. Akhirnya pilihan jatuh ke puisi tulisan Sutardji Calzoum Bahcri berjudul Kakiku Luka. Puisi itu ada dalam kumpulan puisi Amuk. Kebetulan bulek Mutanah punya bukunya.
Aku ragu untuk membaca puisi itu. Nggak nyambung sama sekali. Memperingati hari kemerdekaan, kok baca puisi berjudul Kakiku Luka.
“Sudah Wid, tenang aja.”
Melihat sikap panitia yang asik-asik aja, aku siap dengan puisi itu. Sekarang giliran kostum. Aku malas pakai kostum yang sama waktu baca puisi di panggung sebelumnya. Sekalian saja nggak nyambung. Bila sebelumnya aku pakai baju putih-putih dengan peci bersemat pin bendera merah putih, pada leher diberi kain warna merah, kali itu aku memakai baju bulek Mutanah.
Aku kecil boleh dibilang tomboy. Nggak punya satupun rok. Kalaupun punya rok yang dibelikan sama bulek Eni. Adik bapak, setiap lebaran. Roknya hanya aku pakai saat lebaran. Selebihnya menganggur. Pakai rok ribet. Aku lebih suka pakai celana dan kaos oblong. Santai, enak untuk bergerak. Aku ingat betul, ibu yang sering menegur dan menasehati aku untuk pakai rok. Biasanya teguran itu nggak mempan.
Memakai rok bulek, jelas kedodoran. Rok stelan atas dan bawah warna ungu itu akhirnya disiasati dengan menggunakan ikat pinggang super jumbo. Warnanya merah muda. Persis kayak penampilan penyanyi zaman beheula. Tak lupa, bulek memberi shal warna ungu. Aku nggak tahu sekarang rok itu masih disimpan sama bulek nggak ya?
Tiba saatnya namaku dipanggil untuk baca puisi. Dengan mantap aku baca sajak karya presiden penyair Indonesia itu. Dalam samar-samar aku mengingatnya, kira-kira seperti ini : Kakiku Luka, Luka kakiku, Jika kakiku luka, lukakah kaki kau, kakiku luka kaku, lukakah kakikau, lukakah kakiku. Kakiku luka.
Aku dengar tawa orang-orang saat aku membacakan puisi itu. Tapi, aku tak bisa tertawa saat itu, karena aku harus membaca karya itu dengan benar. Jangan sampai salah baca. Kalaupun salah baca, sesungguhnya orang-orang tak akan tahu. Sebab puisi Kakiku Luka sangat banyak huruf k nya.
Usai turun panggung, seperti biasa ibu akan menyuruhku segera pulang. Esoknya para tetanggaku tak ada yang memanggilku Widya, melainkan memanggilku dengan sebutan Hay kakiku luka. Cukup lama, sampai berbulan-bulan aku dipanggil dengan panggilan Kakiku Luka, gara-gara membaca puisi itu di pentas tujuh belasan. Ah, masa kanak yang menyenangkan.
DWY

Iklan

Entry filed under: Dibalik novel NAWANG.

Berawal dari Puisi Dari Membaca ke Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 104,308 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: