Warung dan Koran Bekas

Juli 4, 2009 at 4:26 am Tinggalkan komentar

nawang Dulu ketika kanak-kanak hingga remaja aku tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dengan teman-teman di kampung. Aku kurang suka bergaul dengan teman-teman, tetapi bukan berarti aku sombong. Ini mungkin dikarenakan letak rumahku yang di tepi jalan raya, bukan di dalam gang. Kalau di dalam gang kan enak, kita keluar pintu rumah saja sudah ketemu tetangga kita. Kita duduk di teras saja, ada orang lewat lalu saling bertegur sapa.

Rumahku yang di tepi jalan raya itu membuat aku kesulitan bertemu teman-teman sebaya untuk bermain. Kalau aku keluar rumah sekedar untuk main Rok Sin, Rok Deret, Gobak Sodor, Apollo atau bola kasti, kesannya ako dolan. Keluar rumah. Orang tua nggak melihat. Aku juga sering dipanggil sama ibu-ibu tetangga ketika sedang asik-asiknya bermain.
“Wid disuruh pulang, suruh jaga warung.” Aku sih sering tak peduli. Tak langsung pulang, tapi nggak lama kemudian tetangga lain, yang baru beli di warung kedua orangtuaku akan memanggilku. Jika aku tak pulang juga, Mak atau Bapak akan segera menjemputku.
Mak dan Bapak adalah dua karakter yang berbeda. Ibaratnya langit dan bumi. Mak sangat lembut, sedang bapak (almarhum) kereng alias galak alias keras. Mudah marah, tetapi suka memanjakan anak dalam hal makanan, pakaian. Bapak lebih konsumtif ketimbang mak.
Jika mak yang memanggil aku berani menolak untuk pulang, karena mak tak pernah memukulku. Mak hanya berkata: “Ayo pulang, jaga warung.” Lain dengan bapak yang dari posturnya dah tinggi, kerempeng dengan warna kulit gelap dan wajah angker, begitu sosoknya sudah tertangkap di mataku, udah deh cabut dulu.
Tak akan terkatakan tentang arti kedua orangtuaku dalam hidupku. Maka, di sini aku tak bisa cerita sedalam apa rasa hormat saya ke mereka. Akuyang dibesarkan di lingkungan berdagang membuat kurang waktu untuk bermain dengan teman-teman sebaya. Tak jarang sepulang sekolah, mak langsung menugasi saya untuk menjaga warung. Mak hendak belanja keperluan isi warung. Di sela-sela menjaga warung itulah aku gunakan membaca tumpukan koran dan majalah bekas yang ada di warung. Koran-koran dan majalah bekas ini untuk membungkus barang yang dibeli pembeli.
Dari membaca itulah saya jadi tahu apa yang ada di luar sana. Pelan-pelan bacaan mempengaruhi pikiran juga emosi saya. Lama-lama saya lebih suka di rumah. Membaca dan menjaga warung. Keinginan bermain di luar rumah berkurang hingga benar-benar tak ingin. Kebutuhan batin saya sudah terpenuhi dengan membaca. Itu pula yang membuat masa kanak-kanak saya sangat jarang keluar rumah. Saya merasa rugi bila dalam sehari tak membaca.

Entry filed under: Dibalik novel NAWANG. Tags: .

Pororo Berawal dari Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 10 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 10 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 10 hours ago

%d blogger menyukai ini: