Sakit

Juni 18, 2009 at 4:40 pm Tinggalkan komentar

SENANG. Edgin sudah sehat kembali setelah tiga hari sakit. Aku bisa kembali beraktifitas seperti biasa. Mengerjakan pekerjaan rumah juga menulis. Hanya saja waktu terasa lama bergerak karena tak sempat menulis juga tak sempat ngobrol dengan Mbak In. Sekarang ini Edgin tengah pulas. Senang banget melihat dia bisa tidur nyenyak, sebelumnya gelisah. Wajahnyapun tak cerah, layu. Aku ingin sekali ketemu Mbak In, tetapi itu tidak mungkin karena Edgin tengah pulas. Ya sudah deh, baca-baca aja, mo nulis siang begini gak konsen.
Biasanya aku membaca di kursi malas yang aku taruh dekat ruang perpustakaan. Kali ini pilihanku pada buku Agama Masa Depan, Perspektif Filsafat Perennial tulisan Komaruddin Hidayat Muhamad Wahyudi Nafis, yang tinggal beberapa halaman lagi selesai aku baca.
Dua halaman membaca terdengar salam. Dadaku bergetar, suara Mbak In. Aku tersenyum dan tak menunggu waktu lagi, langsung beranjak ke pintu.
“Jeng,” panggilnya begitu pintu aku buka. Aku melihat ke tangannya. Menghela napas sedikit, selalu saja yang Mbak In bawa ke sini.
“Buat sikecil,” ujarnya sambil menyodorkan sekantung Pir. Edgin emang suka makan buah, apalagi Pir. Kakak dan abangnya juga suka.
“Gimana Edgin, Jeng.”
“Alhamdulillah sudah baikan, Mbak”
Aku menaruh Pir ke dalam, tak lama kemudian kami ngobrol dekat kamar Edgin.
“Gimana ceritanya kok sampai ke rumah sakit dua kali, Jeng.”
Aku menghela napas. Menghembuskannya dengan berat. Menelusuri kembali pengalaman menjengkelkan dua hari lalu. Mulanya Edgin muntah-muntah Minggu sore. Aku pikir hanya masuk angin biasa, aku hanya memberinya minyak kayu putih. Senin padi mulai demam, aku memberinya obat turun panas. Edgin masih saja demam sampai dini hari. Selasa pagi aku dan suami ke dokter. Sayang dokter Niken libur, digantikan dokter pengganti. Kami ragu, kurang yakin karena sudah terbiasa dan percaya dengan dokter Niken.
Edgin harus cepat mendapatkan obat. Dokter anak yang biasa kami singgahi, baru nanti malam buka praktek, nggak mungkin menunggu sampai nanti malam. Akhirnya kami menuju ke rumah sakit terdekat. Kami memilih dokter spesial anak karena ingin Edgine dapat tertangani lebih baik. Pengalaman berobat ke dokter spesial anak di kawasan Pamulang, Edgin diperiksa dengan telaten. Pada punggung, dada dan perut digunakan stetoskop. Telinga, mata dan mulut diperiksa. Perut juga ditepuk-tepuk. Aku bisa bertanya seputar kesehatan anak dengan leluasa.
Pengalaman itulah yang membuat kami menuju ke rumah sakit terdekat di Selatan Jakarta. Justru di sinilah awal kekecewaan saya.
“Kenapa?”
“Dijadwal jam sembilan Mbak, tapi sampai jam sepuluh belum juga buka. Banyak anak-anak gelisah, orangtua sudah tak sabar menunggu. Beberapa orang bertanya di ruang pendaftaran termasuk aku, kapan dokter mulai praktek. Jawabannya, dokter sedang keliling memeriksa pasien rawat inap.”
“Lho kok bisa?”
“Itulah Mbak, mestinya jadwal yang tertulis bukan jam sembilan, tetapi sepuluh, agar pasien tidak terlalu lama menunggu. On time gitu lho Mbak,” ujarku dengan nada tinggi.
“Habis gitu Mbak di dalam Edgin nggak diperiksa apapun, hanya dahi diraba dan dimasukin slang ke hidung. Tidak diperiksa dengan stetoskop, mulut dan lidah tidak diperiksa, mata, hidung juga nggak. Prosesnya begitu cepat. Saya tanya kalau muntah-muntah kenapa Dok. Dokter cuma bilang nggak apa-apa hanya sakit biasa. Dia kena radang. Terus terang aku nyesel Mbak, gaya meriksanya persis dokter di puskesmas. Serba terburu-buru, pasien seperti dilihat sebelah mata. Emang sih setiap pasien masuk, hanya lima menit terus keluar. Sangat cepat. ” Aku lihat Mbak In mengangguk-angguk kecil.
“Kok begitu mengecewakan ya Jeng,” Aku mengangguk.
“Aku buru waktu ke sana agar Edgin cepat ditolong, eh malah molor satu jam.” mbak In geleng-geleng kepala. Baru kali ini aku lihat wajah mbak In menyiratkan kegusaran.
Aku peluk bantal kursi. Teringat di ruang apotik. Ada seorang ibu muda yang sebelumnya sempat ngobrol denganku dan mengeluhkan waktu yang molor itu. Anaknya baru berusia tujuh bulan. Ia demam. Pagi-pagi keluar rumah dari Parung ke rumah sakit ini, karena dokter anak terdekat baru jam sebelas buka. Ibu muda itu ke sini dengan harapan anaknya cepat terobati.
“Tahu begini saya nggak ke sini, Bu” begitu di memanggilku. Aku lihat betul kekecewaan bertumpuk di wajahnya.
“Dokternya nggak ramah lagi, saya nyesel, nggak sempat bertanya banyak.”
“Lho kenapa nggak tanya, Mbak. Pasien kan berhak cerewet,” ujarku.
“Belum sempat nanya saya sudah diusir dari ruangan,” ujarnya kesal.
“Lho.”
“Dokter itu bilang, sudah selesai Bu. Ibu sudah bisa keluar.”
Glek. Kok bisa-bisanya seorang dokter mengusir pasien dari ruangan. Seyogyanya pasien adalah raja. Pasien berhak bertanya segala sesuatu seputar kesehatannya.
“Jeng,” panggil Mbak In.
“Ya.”
“Semalam Edgin dibawa periksa ke mana kok lama.”
“Ke rumah sakit Setia Mitra yang di jalan Fatmawati.”
“Jauh nian ke sana?”
Sejenak saya terdiam. Tersenyum senang. Biarpun jauh dari rumah dan lebih mahal dari rumah sakit yang ada di selatan Jakarta itu, pelayanan rumah sakit ini lumayan bagus. Setidaknya bila aku bandingkan dengan rumah sakit yang pernah aku singgahi ketika mengurus anak yang sedang sakit.
“Kalau saja setiap rumah sakit di sini pelayanannya seperti di Setia Mitra, paling tidak dari pengalamanku Mbak. Dulu Rizki sempat dirawat selama seminggu di rumah sakit itu. Dokternya enak banget. Aku bisa bertanya apa saja, dan dokter menjawab dengan bersahabat, sesekali bergurau dan sesekali juga mengutip kebesaran Tuhan. Bahwa dokter hanya manusia biasa. Tak boleh takabur dan sombong. Sombong itu pakaianKu, ujar dokter yang menangani Rizki waktu itu. Ku yang dimaksud adalah Tuhan.” Mbak In mengangguk-angguk lagi.
“Semalam Edgin pun ditangani dengan baik, pertama dokter perempuan. Wah cantik nian Mbak In. Sepertinya peranakan bule. Posturnya tinggi semampai, hidungnya mancung, rambutnya diekor kuda, matanya indah je. Jadi bintang sinetron, semua lewat deh,” ujarku bersemangat.
“Terus.”
“Gaya dia bertanya, menempatkan aku sebagai teman. Begitu teliti. Syukur Mbak In, Edgine nggak apa-apa. Dia lemas karena dua hari nggak mau makan dan minum, hanya minum asi saja. Dokter cantik itu mengatakan kalau Edgin sudah mulai membaik. Saya tak curiga ada masalah, tetapi bila ibu ingin lebih tahu dan ingin tes darah, silahkan. Dari rumah kami emang sudah niat mau periksa darah.”
“Syukurlah, terus dokter yang kedua…”
“Setelah hasil tes darah menunjukkan tak ada masalah, Edgin tetap diperiksa lagi untuk lebih meyakinkan. Nah dari cara dia memeriksa Edgine, beda jauh dengan dokter yang di rumah sakit Selatan Jakarta itu. Edgine diperiksa dari hidung, mata, mulut, punggung, perut dan dada. Kalau saja setiap rumah sakit, setiap dokter menempatkan pasien sebagai raja, memperlakukan pasien dengan manusiawi, nggak ada tuh kasus ini itu,” ujarku lagi. ”
Mbak In menatapku.
“Edgine nggak perlu dirawat Mbak In.”
“Syukurlah.”
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Usil Bangkit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

TELAH DIBACA

  • 105,258 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: