Cinta

Juni 3, 2009 at 2:11 pm 5 komentar

TIGA hari tak bertemu dengan mbak In, terasa sangat lama. Tetangga sekaligus sahabatku yang akhlaknya mulia itu memang sudah seperti menjadi bagian dalam hidupku. Selama hampir sepuluh tahun tinggal di sini, hanya dia tetangga yang bisa memberi nilai-nilai kemanusiaan terhadapku. Dalam arti mbak In nggak pernah ikut-ikut cerewet mengatur aku agar pergi ke masjid, ikut volley ball untuk lomba agustusan atau ikut ini, ikut itu di RT. Orang aku paling nggak bisa diatur, kok disuruh ini disuruh itu. Piye jal?
Mbak In pulang kampung, untuk menghadiri pernikahan adik laki-lakinya yang paling bungsu. Aku pikir satu minggu deh mbak In ada di kampung. Duh, alamat bakal kesepian. Dia tetangga paling klop kalau diajak ngobrol. Nyambung banget. Ngobrolnyapun berisi. Pasti mengenai masalah keseharian sosial kita. Dari anak-anak yang membutuhkan pertolongan kita agar bisa sekolah, sampai pemberdayaan perempuan. Berita aktual negeri ini, dia fasih bicara. Mbak In emang ibu rumah tangga yang lain dibanding tetanggaku. Bergunjing atau merendahkan orang lain, tak ada dalam kamus hidupnya.
Terdengar bel berdentang. Aneh juga, sejak ada bel rumah. Rasanya kok nggak familiar. Lebih enak ucapan salam yang terdengar. Bel berdentang lagi, aku buru-buru keluar. MasyaAllah siapa yang menutup pagar sore-sore begini. Bukan kebiasaanku menutup pagar rapat-rapat. Lho kok malah mbak In ternyata. Mbak In ya aneh, biasa keluar masuk rumahku ya pakai acara mencet bel segala.
AKu menghampiri mbak In seraya membuka pintu pagar.
“Mbak In sudah pulang?”
“Ya, ini Jeng buat anak-anak.”
Aku tersenyum. Satu tas plastik entah apa isinya disodorkan ke aku. Aku mengucap terimakasih. Kami melangkah dan duduk di teras. Tak lama kami terlibat ngobrol.
“Saya pikir seminggu di kampung Mbak.”
“Nggak betah.”
Aku tersenyum tipis. Aku malah pengen banget pulang kampung ke Batang sana, berlama-lama di sana dan menyelesaikan satu novel.
“Di sana nggak ada kegiatan Jeng, semua dilayani. Bangun tidur sudah ada makanan. Siang sampai sore praktis cuma tidur aja pekerjaanku.”
“Ya enak to Mbak.”
“Enak apanya, badan pegel-pegel.”
Aku mempersilahkan mbak In minum es teh susu coklat bikinanku. Usai minum, aku tanya soal pernikahan adik bungsunya itu.
“Lancar,” jawabnya pendek. Tak lama kemudian mbak In cerita kalau adiknya yang masih lajang itu menikahi seorang janda beranak dua dan mantan pekerja seks komersial. Aku mengurut dada. Memandangi mbak In.
“Kok bisa?”
“Adikku cinta berat sama wanita itu.”
“Orangtua mbak In setuju?”
“Semula tidak, tetapi aku setuju sejak awal. Jauh sebelum memutuskan menikah Agung sering curhat, cerita. Dia juga sering bimbang dan bingung. Setelah aku yakinkan untuk menikahinya, baru Agung yakin menikahi wanita itu.”
Aku menelan ludah. Bagaimana bisa seorang lajang menikahi janda dua anak dan mantan pekerja seks komersial alias wanita tuna susila.
“Tapi Mbak, dia kan mantan pekerja seks kok mbak In setuju sih. Yang aku tahu kualitas ayah ibu sangat mempengaruhi anak-anak. Baik akhlak dan kecerdasan anak.”
“Ceritanya panjang Jeng, dia dinikahkan paksa oleh ibunya karena terjerat utang. Setelah sebelas tahun menikah dan sukses dengan bisnis udang Windu, suaminya meninggalkannya karena perempuan lain. Ia diceraikan dan diusir dari rumah. Sepeserpun tak dapat harta gono gini. Anak-anak diserahkan kepadanya. Ia pulang ke orangtuanya yang notabene keluarga berantakan. Kedua orangtua bercerai. Masing-masing dari ayah ibunya menikah lagi. Ia tak punya pekerjaan juga tempat tinggal.” Panjang lebar mbak In bercerita tentang iparnya.
“Adik Mbak kok bisa kenal.”
“Dia seperti kamu.”
Aku menautkan kening.
“Penulis lepas seperti kamu, dan bekerja di sebuah LSM yang memperhatikan hak-hak perempuan. Ia mengenalnya di lapangan. Tiga tahun mereka pacaran. Selama itu juga adikku didera bimbang. Antara ingin menikahi wanita baik-baik dan menikahi wanita yang ia cintai tetapi wanita tuna susila.”
Aku mengangguk-angguk. Cukup lama kami saling diam. Memang kasihan kalau menghakimi perempuan itu dengan cap tuna susila, tanpa melihat latar belakangnya.
“Setiap orang berhak untuk hijrah kan Jeng.”
Aku merinding mendengar ucapan mbak In yang lirih itu.
“Dia berjanji akan menjadi istri yang saleh dan ingin membuka usaha butik. Malah dia sudah punya toko baju muslim, kerudung juga mukena. Dia punya keahlian menyulam dari bahan pita. Aku lihat pada dasarnya ia wanita baik-baik Jeng.”
Aku menghela napas. Jadi ingat cerita seorang teman. Sebaik-baik umat, adalah ketika ia mampu berhijrah dari keburukan kepada kebaikan. Semoga perempuan itu bisa. Amin.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Meniti Cahaya Novel Terbaru Saya

5 Komentar Add your own

  • 1. wahyu am  |  Juni 3, 2009 pukul 2:28 pm

    Amin 🙂

    Balas
  • 2. Grace  |  Juni 27, 2009 pukul 12:32 pm

    Amin!!
    Trnyata kita harus liat dari dalam nya, bukan dari luarnya.

    Balas
    • 3. dianing  |  Juni 29, 2009 pukul 6:22 am

      IYa, kita emang harus mampu melihat ke dalamnya, semoga kita bukanlah orang yang mudah terjebak dengan penampilan luar. Amin.

      Balas
  • 4. cowok langka  |  Juni 27, 2009 pukul 4:08 pm

    nice blog frenz,,

    Balas
    • 5. dianing  |  Juni 29, 2009 pukul 6:19 am

      Terimakasih.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

TELAH DIBACA

  • 103,212 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: