Meniti Cahaya

Mei 29, 2009 at 10:23 am Tinggalkan komentar

Sumber : REPUBLIKA
Minggu, 24 Mei 2009
“TUHAN telah meninggalkanku,” pekik Prasasti. Perempuan muda bermata setajam elang. Pekiknya menggelegar di sudut-sudut penjara yang pengab. Seekor kelelawar terhenyak, saat menikmati menu makan malam dengan kaki bergelantung. Susah payah ia menelan remahan makanan yang tersangkut di kerongkongannya. Berkali-kali kelelawar itu mengurut dadanya, sembari istighfar. Suara siapakah yang memecah keheningan malam? Menyebut Tuhan telah meninggalkannya.
Tak lama terdengar kembali teriakan Prasasti. Ia mengeluh berkali-kali, bahwa Tuhan tak pernah mengharapkannya kembali. Prasasti mengira pintu tobat telah tertutup. Pintu surga terkunci rapat-rapat, dan malaikat dengan santun akan mengusirnya. Kelelawar memandangi langit lepas dengan tubuh terbalik. Langit adalah sebuah hamparan yang menakjubkan. Kalau saja Tuhan telah menitahkannya menjadi manusia, pasti ia akan menjadi makhluk yang manis. Bersujud dan bertasbih sepanjang masa.
Kalau saja Tuhan menghendakinya menjadi manusia, tentu ia kan menjadi sahabat bagi alam. Hingga alam tak cemberut lalu menggelegak melumat manusia. Sejenak kelelawar menautkan kening, ia istigfar lagi seraya memohon ampun pada Tuhan.
“Aku bahagia menjadi kelelawar, Terimakasih Tuhan.”
Dalam sujud yang syahdu, kelelawar terhenyak lagi. Teriakan-teriakan Prasasti menggema lagi. Hanya kelelawar yang bisa mendengar suara teramat keras dari tenggorokan Prasasti. Sedang ribuan manusia yang mendekam di sel itu tak ada yang mampu mendengar. Pendengaran manusia amat terbatas. Diam-diam Kelelawar bersyukur, Tuhan telah menganugerahkan kelebihan kepadanya. Ia bisa mendengarkan suara, yang tak bisa didengar oleh manusia.
Prasasti masih meringkuk di sudut penjara dengan bentangan dinding yang tebal dan kusam. Sejenak ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kedua kelingkingnya saling merapat, lalu pelan-pelan berjalan ke bawah melewati dahinya yang keras, melewati hidungnya yang terjal, menuruni tulang pipinya yang kenyal, lalu menuruni mulutnya yang kaku. Lekat-lekat ia pandangi jeruji penjara yang berdiri angkuh di depannya.
Napasnya memburu sekarang. Dengan kedua tangannya ia telah membunuh Halim, laki-laki tua yang telah merobohkan martabatnya. Laki-laki yang ia terima dengan tangan terbuka saat ia dinikahi. Laki-laki yang semula ia anggap tulus menerimanya bersama anak yang ia bawa. Laki-laki yang baginya bak malaikat, karena sudi mengangkatnya dari nista.
Prasasti tak perlu berpikir dua kali untuk menerima Halim sebagai suami. Meski usia Halim sebelas tahun lebih tua, meski wajah Halim kalah jauh bila dibandingkan dengan puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan laki-laki yang menulis bait-bait puisi di tubuhnya. Ia hanya ingin menjalani hidup yang normal. Menjalani hidup seperti wanita-wanita pada umumnya. Memiliki suami, tempat tinggal, juga ketenangan.
“Ketenangan? Ya. Ketenangan.”
Prasasti lelah. Ia ingin istirah. Ingin menjalani sisa hidupnya untuk mengingat Tuhan.
Helaan napas Prasasti meruap ke sudut-sudut penjara. Halim memang memilih rumah yang cukup lega. Ia bisa tinggal di rumah itu tanpa ada lagi laki-laki yang mengetuk pintu sebagai isyarat. Tetapi Halim tak punya pekerjaan tetap. Ia luntang-lantung tak karuan. Satu pekerjaan yang bisa ia lakukan adalah sebagai tukang urut. Tak setiap hari ada yang memakai jasanya. Lebih sering menganggur. Hanya pada waktu tertentu saja banyak orang membutuhkan pijatannya.
Apa jadinya bila hanya menggantungkan hidup pada Halim. Ia bisa saja menahan lapar. Bagaimana dengan Tinuk, anak perempuan yang lahir dari laki-laki hidung belang. Yang datang saat ia sendiri. Laki-laki yang memang akhirnya menikahinya sekaligus mencampakkannya setelah melahirkan Tinuk. Ah, sudahlah.
“Ini salahku,” pekik Prasasti.
Jeruji penjara kian angkuh di keheningan malam. Ia tak bisa memejamkan mata di hari pertama sebagai terpidana. Perempuan selalu berada di pihak yang lemah dan kalah dalam kasus apapun.
Untuk menyambung hidup, Prasasti telah berkukuh tak akan kembali terseret di kubangan nista. Ia percaya pernikahannya dengan Halim adalah campur tangan Tuhan. Maka ia harus menggunakan kedua tangannya untuk sepiring nasi. Lauk bisa apa saja. Bisa taburan garam atau kecap. Yang penting lapar ada penawarnya. Maka Prasasti yang berhidung mancung dengan tinggi semampai itu tak malu menjadi pembantu rumah tangga. Pekerjaan yang memeras keringat dengan imbalan amat murah. Tak peduli. Asalkan halal dan mulia di hadapan Tuhan.
Prasasti menghela napas dalam-dalam. Menghamburkannya dengan kasar. Jeruji itu kian angkuh di hadapannya. Tuhan masih saja menguji janjinya untuk bertobat. Gaji yang dijanjikan oleh seorang pemuka agama, tempat ia bekerja tak sesuai dengan kesepakatan. Prasasti dibayar hanya sepertiga dari kesepakatan awal. Ia marah. Tak terima. Ia putuskan keluar. Ia heran dengan Tuhan, juga dengan pemuka agama yang disegani warga. Ia tak menyangka orang yang memiliki ilmu lebih tinggi itu sampai hati menzaliminya.
Sekarang apakah pintu tobat itu masih dibuka oleh Tuhan? Tatkala ia menemukan majikan yang baik hati, suaminya tak mendukung ia bekerja. Majikan barunya hanya orang biasa, bukan pemuka agama, tetapi Prasasti justru menemukan sosok agamis pada majikan barunya. Seorang pengusaha kaya tetapi rendah hati. Senang berderma dan sangat santun terhadapnya. Satu lagi, majikan barunya sangat menyayangi Tinuk.
Oleh majikan barunya Tinuk dimasukkan ke sekolah kanak-kanak. Demikian juga dengan gaji, majikan barunya menggajinya dengan sangat manusiawi. Melebihi dari yang Prasasti kira. Dalam keluarga majikan barunya itu, Prasasti merasa dimanusiakan. Seluruh anggota keluarga menghormatinya, menghargainya, meski ia hanya pelayan mereka.
Prasasti menjatuhkan pandang ke lantai. Jeruji penjara yang angkuh itu membayang di lantai. Sepi memintal sengit. Tanpa memberitahunya terlebih dulu, Halim datang ke rumah majikan barunya dengan sikap kasar. Ia mengetuk pintu keras-keras. Memaksanya pulang tanpa alasan jelas. Semula Prasasti menolak dengan alasan masih ada pekerjaan yang belum ia kerjakan. Tanpa ia duga, Halim mau menunggu.
Sepi terus memintal benak Prasasti. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sangat lama Prasasti melakukannya, menggeleng-geleng kepala. Semestinya ia tak menuruti kemauan Halim untuk pulang. Semestinya ia bertahan di rumah majikannya. Semestinya ia selesaikan dulu pekerjaan yang belum selesai itu, dan semestinya ia tak mematuhi ucapan majikannya untuk pulang. Semestinya ia mengikuti kata hatinya. Jangan pulang.
Prasasti membuka kedua telapak tangannya. Ia tak menyesal telah membunuh. Ia sudah letih menipu diri. Bertahun-tahun bergelimang dalam nista.
“Aku perempuan Tuhan,” ucapnya lirih.
Prasasti ingat kalimat ibunya dulu. Agar kelak ia bisa menjadi perempuan terhormat, meski asal-usulnya tak pernah jelas. Siapa bapak kandungnya. Tak ada yang mau mengaku. Karena laki-laki yang datang pada ibunya memberinya imbalan. Sekarang ia terjerembab di lubang yang sama. Menjadi perempuan tanpa martabat. Tetapi sungguh hatinya menangis. Ingin sekali ia keluar dari lingkaran setan itu, tetapi selalu saja terlempar di tempat yang sama.
Sangat pelan, kepala Prasasti merunduk. Ia pandangi hatinya. Diam-diam ia sering mendengarkan ceramah dari masjid yang berdiri kokoh tak jauh dari rumah-rumah bordil. Dalam tubuh dan jiwa yang kusut, ia sering meringkuk dan menangis. Ia sangat ingin kembali pada keheningan Tuhan. Ia ingin dekat sama Tuhan. Ia ingin berjalan di jalan yang diridhai Tuhan, bukan di jalan penuh lubang ini.
Prasasti memeluk erat kedua kakinya. Sayup-sayup terdengar panggilan Tuhan yang membiru jiwa. Waktu subuh telah masuk. Jeruji penjara tak lagi angkuh di hadapannya. Ia terbukti dan mengakui telah membunuh lelaki jahanam itu. Lelaki yang membayar murah martabatnya, atas keinginan Halim. Prasasti mengepal kuat. Giginya bergemeretuk. Ingin sekali ia habisi Halim saat itu juga. Suami yang ia sangka bisa melindunginya malah mendorongnya kembali ke jalan gelap.
“Aku tak menyesal membunuh,” ujarnya lirih. Terbayang Tinuk yang masih kanak-kanak. Kebaikan majikannya semoga dibalas oleh Tuhan. Majikannya berjanji akan memberi masa depan bagi Tinuk.
Prasasti menghela napas. Subuh telah sempurna. Mungkin di penjara inilah tempat terbaik baginya. Menghabiskan sisa waktu untuk merapat kepada Yang Maha Suci.

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Menua Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 104,296 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: