Menua

Mei 25, 2009 at 4:21 am Tinggalkan komentar

SETIAP kali ada kesempatan untuk sekedar senam, aku akan melakukannya cukup di teras rumah. Sayang kesempatan berolahraga berkurang, mengingat aku sering bangun saat waktu subuh masuk. Artinya, aku harus menyiapkan makan pagi buat anak-anak tanpa ada waktu luang untuk sekedar senam di depan rumah.
Beruntung Minggu ini aku bisa bangun lebih awal. Anak-anak libur sekolah, aku bisa memanjakan diri menikmati langit lepas sambil senam alakadarnya. SPI misalnya, aku masih hafal seluruh gerakan senam ini. Ketika sekolah dasar dulu setiap Selasa pagi seluruh murid SD, satu kompleks keluar kelas. Dari SD I hingga SD V Berkumpul di lapangan Kanoman. SDku dulu di SDN Kasepuhan II. Jauh di Batang sana. Sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Bersebelahan dengan Pekalongan.
Pagi itu aku mencoba untuk berlari-lari kecil. Dulu ketika masih duduk di bangku SMP sampai SMEA, tiada hari tanpa olahraga. Aku selalu berolahraga. Mengelilingi alun-alun Batang. Kira-kira seluas stadion sepak bola. Kegiatan itu pula yang membuatku banyak teman. Pengen tahu, berapa kali aku kuat mengelilingi alun-alun Batang itu? Aku bisa mengelilinginya sambil berlari-lari tanpa henti hingga delapan kali putaran. Narsis ya.
Sekarang? Untuk pagi itu hanya bisa berlari-lari tiga kali bolak-balik sepanjang gang rumah. Kira-kira hanya sampai tigaratus meter. Lumayanlah untuk seorang ibu-ibu. Usai lari-lari tanpa ketiga anak-anakku, mereka usai subuh milih tidur lagi. Aku melanjutkan jalan-jalan hingga ke lorong gang lain.
Ada yang mengusik benakku saat aku bertemu dengan nenek Yunior Worawaru, teman anakku semasa taman kanak-kanak. Nenek ini sudah sepuh. Kira-kira berusia sembilanpuluh tahun lebih. Ia sudah tidak bisa melakukan kegiatan apapun. Untuk menolong dirinya sendiri saja sudah tidak bisa. Beruntung, anaknya kaya raya. Jadi, sang nenek dicarikan perawat. Pekerjaannya hanya mengurus sang nenek.
Keberadaan nenek ini setahuku baru sebulan ini. Aku biasa bertegur sapa dengannya. Maklum aku sering ke rumah Yunior untuk menjemput Rizki. Rizki kalau sudah main terlampau asik, hingga lupa waktu Kalau nggak aku jemput, bisa sampai menjelang maghrib baru pulang. Dan pagi ini, si nenek memanggilku dengan melambaikan tangannya ke arahku. Lambaian tangan itu mengisyaratkan agar aku mendekat padanya.
Aku dekati nenek itu sambil tersenyum, dan bertanya ada apa?
“Bawa saya pergi Nak, sembunyikan saja saya.” Aku tertegun. Aku lihat rumah Yunior, pintu pagar terbuka hanya lima centimeter. Aku melihat dari pintu pagar. Rumah sepi. Pintu tertutup. Mobil tak ada di garasi. Aku menautkan kening kuat-kuat, lalu memperhatikan nenek yang memintaku mendekatinya lagi.
Aku mendekatinya lagi. Ditariknya lenganku kuat-kuat, toh tangannya yang rapuh justru terasa melunak di lenganku.
“Bawa saya pergi.”
“Nek.”
“Mereka semua pergi, nenek dibiarkan di sini.”
“Perawat nenek?”
“Diajak juga, jaga Monika.”
Monika adalah adik Yunior yang baru saja lahir.
“Sembunyikan saya,” pintanya lagi.
Duh, aku tak kuasa menatap nenek yang renta ini. Aku tentu saja tak bisa mengabulkan keinginannya untuk membawa dia pergi apalagi menyembunyikan. Aku duduk berlutut di depan kursi roda yang nenek pakai.
“Memang mereka ke mana Nek?”
Nenek bukannya menjawab. Ia malah menyeka butiran air mata yang sangat pelan mengalir. Telapak tangannya yang berkeriput itu menghapus wajahnya yang penuh lipatan. Rambutnya yang memutih hanya beberapa helai saja. Aku menghela napas. Bapak Yunior, adalah ibu dari nenek ini.
Tampaknya dia orang baik. Hanya saja rumah ini merupakan rumah untuk istri keduanya. Bapak Yunior sangat kaya, dan saya yakin ia sangat sayang pada ibunya, tetapi mengapa pagi ini aku lihat nenek terpuruk?
“Mereka tak menganggap saya manusia,” aku tercengang.
“Saya hanya merepotkan mereka.”
Aku tergerak untuk mengajaknya jalan-jalan. Aku dorong kereta duduknya. Aku jadi ingat kereta bayi Edgina yang jarang dipakai. Edgin selalu teriak-teriak bila ditidurkan di kereta bayinya. Ia lebih suka digendong kalau diajak jalan-jalan. Praktis kereta bayi itu menganggur.
Sepanjang jalan-jalan bersama nenek di pagi itu, ia bercerita tentang masa mudanya yang susah payah membesarkan anak-anaknya. Suaminya sudah lama meninggalkannya menemui Tuhan. Sekarang diusia yang renta ini, ia sering dibentak-bentak. Karena sering melakukan kesalahan yang tak ia sengaja. Nenek sering maaf, pipis di celana.
Aku jadi ingat buyut Tu’i di Batang. Dulu buyut juga seperti itu. Tetapi Mbah Darnah, nenekku sekalipun tak pernah membentaknya. Malah Buyut yang usianya hingga seratus sepuluh tahun itu sering memarahi bulik Yanti. Katanya nggak diberi makan. Padahal baru saja buyut selesai makan.
Sepanjang jalan itu nenek bercerita dan mengeluh. Ia ingin mendapatkan perhatian juga kasih sayang, bukan sekedar kursi roda dan makanan enak setiap hari. Aku menelan ludah. Terbayang Maghfira yang kini sebelas tahun, Rizki Seutia tujuh tahun juga Edgina satu tahun tujuh bulan. Kelak kalau aku tua, apakah…
Ah, aku nggak mau melanjutkan pertanyaanku yang ngawur. Aku tahu mereka semua akan menyayangiku. Dan akupun kelak biarpun nenek-nenek tetap sehat dan masih bisa menulis. Amin.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Nestapa Meniti Cahaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 103,197 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: