Nestapa

Mei 22, 2009 at 5:04 am Tinggalkan komentar

INI kisah nyata, tetapi mulanya sangat sulit aku percaya. Dalam hati saat Marsha mengisahkan kisahnya, aku miris dan sering berkata dalam hati, masak sih, masak sih.
Marsha, kebetulan namanya sama dengan nama asisten rumah tanggaku yang baru saja keluar. Beruntung aku tidak menunggu lama untuk mendapatkan asisten rumah tangga yang baru.
Balik ke soal Marsha, yang bukan bekas asisten rumah tanggaku. Ia lahir dan tumbuh di dalam keluarga yang tak harmonis. Keluarganya sering cekcok. Praktis kebutuhan batin Marsha, yakni limpahan kasih sayang orangtua tak terpenuhi. Ibunya suka sekali marah-marah hanya karena masalah sepele. Bapaknya jika marah selalu saja ada barang yang pecah.
Marsha seringkali tak mendapatkan kenyamanan di dalam rumah. Akhirnya ia mencari kebahagiaan di luar rumah dengan sering berkunjung ke rumah nenek. Jika pertengkaran kedua orang tuanya memuncak, ia meIarikan diri ke rumah nenek. Sering juga Marsha menginap di rumah nenek.
Pertengkaran kedua orangtuanya terus berlangsung, tanpa ada jeda sedikitpun untuk menengok perasaan Marsha. Hingga sesuatu yang tragis terjadi. Kedua orangtua Marsha bubaran, pisah, alias bercerai. Aneh bin ajaib masing-masing dari kedua orangtuanya menikah lagi hanya dalam hitungan bulan. Marsha merasa dikhiananti oleh ibu dan bapaknya. Marsha jadi benci dengan kedua orangtuanya. Perceraian itu terjadi saat Marsha masuk di bangku SMP.
Masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja itu masa yang sulit bagi Marsha. Ia terpuruk dengan perceraian kedua orangtuanya. Terlebih ketika ibunya punya suami baru. Ibunya lebih cenderung memperhatikan suami barunya. Jika ada sedikit saja kesalahan yang Marsha lakukan, ibunya akan memarahinya puas-puas. Pernah juga dengan sengit ibunya mengusirnya agar ikut bapaknya saja. Dan itu tak hanya terjadi satu dua kali, melainkan berkali-kali.
Marsha capek. Ia lelah. Ia butuh seseorang yang bisa menampung keluh kesahnya. Orang yang terdekat adalah neneknya. Ia lebih sering tidur di rumah nenek ketimbang di rumah ibunya. Di rumah neneklah ia mendapatkan ketentraman. Disini ada tiga laki-laki lajang yang indekost. Semuanya adalah pendatang. Marsha sering ngobrol dengan salah satu diantra mereka. Marsha pun sering mencurahkan isi hatinya. Dari pertemuan yang sering itu Marsha mulai jatuh hati, dan teman laki-lakinya menyambut Marsha.
Marsha dan keduanya sangat akrab. Hingga sesuatu yang tak seharusnya terjadi, terjadi sebelum waktunya. Laki-laki itu merenggut satu-satunya kekayaan Marsha, dalam usia sangat belia. Kelas satu SMP. Marsha menyimpan sendiri peristiwa itu. Bahkan sampai akhirnya teman laki-lakinya itu berpindah kota karena pekerjaan. Semula teman laki-laki Marsha berjanji akan menikahi Marsha kelak, ketika Marsha sudah cukup umur. Surat menyurat satu dua tiga kali lancar. Selanjutnya laki-laki itu menghilang.
Marsha menjadi remaja yang pendiam. Ia merasa mual dengan dirinya sendiri. Ia membenci dirinya setengah mati. Marsha tetap menyimpan dukanya sendiri. Ibunya asik dengan suami barunya, yang kemudian memberinya seorang adik tiri. Kehadiran adik tirinya kian menjauhkan hubungan antara Marsha dengan ibunya. Marsha benar-benar dicampakkan.
Duka Marsha terus berlanjut sampai ia berumur tujuhbelas tahun. Oleh ibunya ia dipaksa menikah. Marsha menolak keinginan ibunya dengan alasan masih muda, belum ingin menikah. Alasan berikutnya Marsha tak mencintai calon suami pilihan ibunya itu.
“Perempuan itu lebih baik dicintai Marsha, dari pada mencintai. Contohnya ibu, ibu mencintai bapakmu, tapi kau lihat sendiri setiap hari bapakmu marah-marah sama ibu. Kau lihat sendiri kan, sikap bapakmu sama ibu,” Marsha menelan ludah.
“Dia sudah ada pekerjaan, mencintai kamu. Mau apalagi. Perempuan itu yang dipilih Sha,” ucap ibunya lagi.
Marsha akhirnya menikah dengan laki-laki pilihan ibunya saat usianya memasuki delapanbelas tahun.
“Tak mudah buat aku Mbak untuk memutuskan menerima lamaran laki-laki itu,” ujar Marsha lirih padaku. Aku mengangguk lagi, mendengarkan lagi cerita Marsha. Dalam pengakuannya Marsha didera perasaan bersalah. Karena sesungguhnya ia sudah tak gadis lagi. Tetapi bila ia berterus terang dengan laki-laki pilihan ibunya itu, pasti laki-laki itu akan mundur. Ya, kalau dia bisa menyimpan aib Marsha. Jika tidak?
Aku membayangkan aib itu akan menggelinding liar di telinga laki-laki dan tak ada laki-laki yang sudi menikahi Marsha. Mengingat di sini, keperawanan adalah mutlak bagi perempuan. Sayangnya, seringkali laki-laki tak mau dengan arif menelusuri latar belakang hilangnya mahkota si gadis.
Sejak menikah, Marsha mendapatkan limpahan kasih sayang dari suami. Ia bahagia tapi jauh di dasar hatinya, Marsha menjerit. Ia merasa telah membohongi suaminya. Bertahun-tahun Marsha didera perasaan bersalah, berdosa pada suami. Apalagi bila tengah malam terjaga, dan mendapatkan suaminya tengah pulas. Wajah suami yang teduh, seringkali menambah ia dikejar-kejar rasa bersalah dan berdosa. Ia ingin sekali membangunkan suami, lalu bercerita soal aib itu. Berkata jujur siapa sesungguhnya ia, tetapi tak pernah mampu ia lakukan. Hal seperti ini terus terjadi sepanjang tahun.
Seringkali Marsha mengunjungi kamar anak-anaknya. Berpikir bagaimana kalau ia berkata jujur sama suami. Apakah suami akan menerimanya? Apakah ia masih bisa menikmati kebersamaan seperti sediakaIa, bila ia mengungkapkan aibnya pada suami?
Sekarang Marsha sudah dikaruniai dua anak yang cerdas dan hidup normal seperti anak-anak yang lain.
“Bagaimana mbak, apakah aku harus berterus terang pada suami?”
“Jangan,” potongku buru-buru.
“Aku didera perasaan bersalah, berdosa.”
Aku pandangi ia, pada wajahnya yang lembut, air matanya runtuh. Aku dekati ia, aku raih kepalanya, aku sandarkan dibahu kiriku. Aku peluk ia, tak mengira perempuan yang hanya bertaut empat tahun lebih muda dariku itu menaruh kepercayaan padaku. Menceritakan kisahnya.
“Tuhan menutupi aib semua umatNya, Marsha.”
Entah kekuatan apa yang membuatku tiba-tiba berbicara seperti seorang sufi itu. Marsha malah menatapku tajam, seolah meminta penjelasan lebih lanjut.
“Yang penting sekarang jaga anak-anak dan kehormatan. Kamu istri dan ibu yang baik Sha. Jangan dihancurkan hanya karena masa lalu.”
“Tapi saya bohong sama suami bertahun-tahun mbak. Saya berdosa sama dia, padahal dia sangat sayang sama keluarga.”
“Jika kamu ceritakan kisah ini, dan suamimu marah lalu menceraikanmu, bagaimana nasib kedua anakmu. Kamu akan membuat luka yang lebih dalam pada suami, dan kamu akan membawa anak-anakmu menderita. Hanya karena kamu ingin membuka aib yang tak sepenuhnya kesalahanmu,” ucapku panjang lebar. Semoga Marsha paham.
Sangat lama Marsha terdiam, tapi aku yakin hatinya tidak.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Sawang Sinawang Menua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 105,232 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: