Sawang Sinawang

Mei 15, 2009 at 3:21 pm Tinggalkan komentar

NASIB orang seringkali tak bisa ditebak. Begitupun dengan Amel, teman kost dulu waktu di Semarang. Seperti teman-teman yang lain, Amel sangat enak dalam bergaul. Ia mau bergaul dengan siapapun. Sosoknya yang lembut dengan wajah ayu, seringkali memikat teman laki-laki. Banyak diantara teman-temanku yang naksir sama dia. Hanya saja Amel waktu itu tak membuka satupun pintu di ruang hatinya, untuk seorang laki-laki. Entah pacar seperti apa yang ia inginkan.
Aku bertemu kembali dengan Amel di Jakarta. Sama-sama di Jakarta, bukan berarti kami bisa saling bertemu. Justru di kota ini membuat kami sulit berkomunikasi. Di Jakarta sulit sekali membuat janji bertemu. Kadang kita sudah sepakat bertemu di sebuah tempat pada jam tertentu, eh kalau nggak aku yang mengurungkan, Amel yang tiba-tiba nelpon nggak bisa datang karena alasan tertentu.
Hingga akhirnya aku bisa bertemu kembali dengannya di saat masing-masing sudah berkeluarga. Ada perbedaan yang sangat mencolok, ketika aku bertemu dengannya. Amel beda, bahkan sangat berbeda. Ia yang dulu sangat enjoy dalam bergaul, sekarang seperti melihat status sosial. Amel yang rendah hati sekarang berubah menjadi sombong.
Kali pertama bertemu kembali dengannya aku shock. Nggak menyangka ia akan berubah drastis. Bila sebelumnya aku sangat bahagia menuju rumahnya yang kebetulan dekat dengan tempat tinggalku. Bedanya, aku tinggal di perumahan, Amel tinggal di perkampungan biasa. Rumah Amel kontras dengan rumah-rumah penduduk. Rumahnya besar dengan pagar menjulang.
Aku tekan bel yang ada di pagar, tak lama kemudian datang perempuan muda. Dari penampilannya, ia asisten rumah tangga Amel. Perempuan muda itu hanya berdiri di pagar dan menanyakan padaku, apakah aku sudah buat janji dengan Bu Amel? Aku jawab sudah. Anehnya, perempuan muda itu tak serta merta membuka pintu pagar yang terkunci. Dia lari masuk ke dalam. Aku tertahan cukup lama di pintu pagar. Aku harap kedatanganku disambut langsung oleh Amel kali ini. Tidak. Lagi-lagi perempuan muda yang tadi, yang membuka pintu pagar untukku.
Sampai di ruang tamu yang lega, perempuan muda itu mempersilahkan aku masuk. Amel sudah sangat kaya, gumamku. Semua perabotan yang terhampar di ruang tamu serba wah. Pembantu rumah tangganya ada tiga orang. Tentu penghasilan suami Amel berbeda dengan penghasilan seorang karyawan biasa. Hatiku berdebar-debar menunggu Amel keluar. Sangat lama ia keluar. Setelah aku menunggu duapuluh menit di ruang tamu, Amel baru menemui aku.
Aku seperti tak pernah mengenali Amel. Penampilan Amel dari cara berpakaian dan bertutur kata berubah jauh. Ia seperti tak menganggapku seorang teman lama. Amel sekarang menjadi sosok yang angkuh. Hingga pertemuanku saat itu membuat aku terpukul. Aku tak menemukan Amel yang dulu sangat hangat dan familiar.
“Maaf Wid, aku harus nyiapin makan siang buat suami. Sebentar lagi ia pulang. Nggak enak kan kaIau suami pulang belum ada makanan.”
Ups artinya aku harus cabut dari ruang tamu yang wah itu. Ah, Amel. Di mana sikapmu yang hangat dulu. Aku tahu sekarang kamu sangat kaya. Dan aku tahu kamu berhak untuk berubah. Termasuk untuk menjadi manusia yang angkuh.
Semula aku tak bisa menerima perubahan besar yang terjadi pada Amel. Setelah aku tahu dialah pemilih banyak tanah di sekitar ia tinggal. Dialah pemilik salah satu sekolah mentereng di kawasan Reni Jaya. Dia juga sudah naik haji di usia tigapuluhan tahun. Tentu Amel tak pernah bingung bertanya besok mau makan apa. Dia mungkin akan bertanya, mau kita habiskan ke mana nih uang sebanyak ini?
“Sudah, pahami saja.” Begitu kata mbak In saat aku bercerita perihal perubahan Amel.
“Idealnya sih, orang kaya itu tetap rendah hati jeng.”
“Sudahlah, aku malas berteman dengan orang sombong,” ujarku sama mbak In.
Lain waktu, aku menerima telepon dari Amel. Dalam teleponnya ia berkeluh kesah bahkan mengaku terpuruk.
“Lho orang kaya raya kok terpuruk.”
“Aku baru saja kemalingan beberapa laptop di dekolah. Usaha butikku bangkrut, Wid. Usaha jual beli rumah juga mandek.”
Panjang lebar Amel berkeluh kesah tentang kondisi perekonomiannya, termasuk sikap suami yang mulai menyalahkan Amel, karena kurang pandai mengelola bisnis.
“Kok kayaknya lebih enak nulis ya Wid. Seperti kamu. Dikenal orang dan banyak uang.” Aku tertawa kecil, tergelitik dengan dua kata terakhir.
Merayap dalam benakku tentang ungkapan Jawa, bahwa hidup hanyalah saling memandang. Mung, sawang sinawang. Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Tetangga Nestapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 106,142 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: