Tetangga

Mei 8, 2009 at 7:20 am Tinggalkan komentar

SEPERTI biasa Edgin selalu menangis katika suami hendak berangkat kerja. Ia ingin turut serta mengantar, ikut sekali keliling gang bersama ayahnya. Lama-lama berkeliling gang bersama ayah, menjadi kebiasaan sebelum berangkat ke kantor. Edgin akan diam dengan sendirinya bila sudah keliling gang, sementara saya menunggu di ujung gang untuk membawa pulang Edgin ke rumah.
Hari ini suami berangkat agak pagi, hanya tigapuluh menit berselang setelah anak-anak pergi sekolah. Saya berjalan menuju rumah dengan menyanyikan lagu anak-anak buat sikecil. Melewati rumah mama Feri, ada yang memanggil saya.
“Arisan besok pagi jam sembilan Fir,” ujar mama Feri kemudian. Ia punya kebiasaan unik, bila tetangga lain suka memanggil kami dengan imbuhan mama atau ibu, mama Feri cukup memanggil nama saja. Itupun nama anak, bukan nama diri. Semakin hilang identitas diri.
“Tumben minggu pertama mama Feri.”
“Ya, Ican bisanya besok. Minggu depan ada acara katanya.” Ican yang dia maksud adalah Ibu Wini, tetangga sekaligus dokter gigi yang kebetulan bulan kemarin pindah rumah. Ibu Wini membeli rumah yang lebih gede di dekat perumahan Witana Harja. Tidak begitu jauh dari sini. Untuk merayakan kepindahan rumah, Ibu Wini mengundang kami sekaligus membuka arisan bulan ini di rumah barunya.
“Bisa datang kan Fir.” Saya terdiam sejenak. Besok Sabtu. Anak-anak masuk sekolah meski hanya kegiatan ektrakurikuler. Pagi-pagi buat saya adalah jam sibuk mengurus rumah, rasanya mustahil untuk bisa datang ke acara arisan RT itu. Ups, tapi besok suami libur kerja. Siapa tahu bisa mengantar.
“Saya nggak bisa datang, mau titip saja sama bu RT. Habis arisan kok plin plan. Kadang minggu pertama, kadang minggu kedua. Lagian tanggal dua begini kan ada yang belum gajian.” Saya menautkan kening. Agak heran dengan ibu aktifis RT ini. Tumben nggak satu hati, biasanya saling dungkung dan saling rangkul.
“Saya lihat dulu deh mama Feri. Kalau bisa saya datang, hitung-hitung lihat rumah barunya bu Wini.”
Saya segera berlalu dari pembicaraan itu, karena mama Feri sendiri pamitan mau masuk ke dalam. Ada pekerjaan yang belum rapi, saya juga ingin meneruskan mencuci piring. Sampai di rumah, saya langsung ke dapur. Beruntung pagi tadi saya tak terlambat bangun, jadi sisa piring kotor tinggal sedikit. Baru saja saya hendak mencuci piring terdengar salam dari luar. Buru-buru saya ke dapan. Ternyata tetangga sebelah, bu Helen.
“Lagi masak ya?”
“Sudah selesai, tinggal cuci piring.”
“Menganggu dong.”
“Enggak, ayo masuk.”
“Nanti aja deh saya ke sini lagi.”
Bu Helen langsung saja beranjak. Saya heran, ada apa gerangan? Sudahlah. Saya masuk lagi ke dalam. Terus terang sikap bu Helen bikin saya penasaran. Selesai cuci piring, saya ke rumah bu Helen. Ia tampak sedang santai. Bu Helen berbeda dengan ibu-ibu yang lain. Ia lebih suka memulai pekerjaan setelah ibu-ibu yang lain mulai selesai. Bu Helen akan memulai aktifitas pekerjaan rumah pada jam sebelas. Biasanya menyiapkan makan siang dulu, lalu mencuci baju.
“Biar tidurnya pulas, karena capai.” Begitu alasannya.
“Duduk mama Fira.”
Saya segera duduk. Tak lama bu Helen bertanya tentang arisan.
“Besok pagi, emang belum diberitahu sama mama Feri.”
“Mana mau Welas kasih tahu ke saya.”
“Welas?” Welas adalah salah satu tokoh di sinetron komedi suami-suami takut istri.
“Bu Bambang.”
“Oh.”
Mama Feri sangat senang kalau dipanggil dengan embel-embel nama suami. Biarpun masih cemberut, wajahnya berubah sumringah.
“Dia kan sedang diemin saya ma Fir.”
“Tak bertegur sapa?”
“Sudah setahun.”
Saya menelan ludah.
“Nggak kelamaan tuh. Selama setahun nggak saling tegur.” Bu Helen menghela napas. Lalu melepasnya dengan berat.
“Saya pengen banget menegurnya, tetapi setiap kali saya mau menegur dia sudah buang muka,” keluhnya.
“Gara-garanya sepele.”
Saya diam. Jadi pengen tahu sesepele apa masalahnya. Kok sampai-sampai selama setahun diem-dieman.
“Pak Bambang kan ngajak suami main futsal, padahal meski berangkat kerja sore hari. Saya tunggu sampai sore kok belum pulang, saya datang ke rumah. Saya tanya, kapan pak Bambang pulang, futsal di mana? Tahu-tahunya jauh ke Tangerang sana. Sudah deh suami nggak bisa masuk kerja,” panjang lebar bu Helen bercerita.
“Seingat saya, saya hanya sebatas bertanya pulang jam berapa, sama futsal di mana? Malah suami saya yang saya marahin. Esoknya sampai sekarang ma Fira, marahan sama saya.”
Saya mengangguk-angguk, pantas saja setiap arisan bu Helen selalu bertanya sama saya, kapan arisan RT mama Fira? Atau dia bertanya ke tetangga yang lain. Susah juga kalau didiemin tetangga, apalagi tetangga itu salah satu pengurus RT.
Saya jadi berpikir harus hati-hati bergaul dan berucap. Takut kalau saya yang salah ngomong atau tetangga yang salah terima, terus saya dicuekkin. Betapa susah kalau harus menanggung derita, karena dicuekkin tetangga. Sampai satu tahun. MasyaAllah.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Mendung Sawang Sinawang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: