Mendung

Mei 4, 2009 at 7:52 am Tinggalkan komentar

MENDUNG nggak selamanya hujan. Hujan juga nggak selamanya didahului dengan mendung. Dua hari lalu dari padi sampai siang panas banget, jemuran langsung kering jam duabelas siang. Tahu-tahu jam dua hujan. Untung bagi ibu-ibu yang sudah ngangkat jemuran terlebih dulu. Pasalnya, hujan turun nggak bilang-bilang dulu.
Mendung pagi ini sebisa mungkin saya nikmati, meski hanger lingkaran penuh dengan celana Edgina, si bungsu yang baru satu tahun enam bulan. Tumben pagi ini Edgin belum bangun, suasana rumah jadi mendukung untuk baca koran pagi yang belum sempat di straples. Maklum ayahnya anak-anak belum sempat baca, dan tengah mengantar Rizki sama Fira ke sekolah.
Paling enak membaca, adalah duduk di teras. Mudah-mudahan Edgin nggak cepat bangun. Saya belum sempat membuka halaman koran pagi itu, ketika mbak In datang dengan membawa bungkusan. Seperti biasa, salam sejahtera mengalir dari bibirnya dan menyebulkan lesung pipit di pipi kanannya. Mbak In senantiasa elok dipandang mata. Orang kaya yang rendah hati itu dikaruniai wajah yang teduh. Setiap kali saya melihat wajahnya tanpa atau dengan kerudung, selalu menerbitkan rasa tentram.
“Jeng suka bika ambon kan?”
Aha, gaya bicaranya menggoda.
“Selalu suka dong,” ujarku sambil menaruh koran di meja. Mbak In menyodorkan dua kotak bika ambon. Saya menerima dan segera membuka. Rupanya sudah dipotong-potong pipih oleh mbak In, hingga tinggal siap dinikmati. Saya lirik mbak In masih berdiri, kebiasaan deh kalau belum dipersilahkan duduk, satu jam ke depan mbak In juga masih saja berdiri.
“Silahkan duduk Mbak, monggo. Boleh langsung dimakan to, bikanya.”
“Ya monggo Jeng.”
Saya tertawa bahasa Jawa yang mbak In ucapkan terdengar aneh. Kami segera larut dalam bincang yang hangat. Hingga obrolan nyerempet ke soal Antasari Azhar.
“Saya kaget, Jeng. Kok bisa seperti itu.”
“Nggak perlu kaget Mbak, itu soal biasa.” Mbak In mengernyitkan dahi. Saya tergoda untuk menggodanya.
“Ngomong-ngomong suami suka main golf Mbak.”
Mbak In mengangguk.
“Biasa ketemu perempuan cantik yang suka munguti bola dong.” Mbak In tertawa kecil. Sama sekali tak terbias rasa cemburu atau curiga.
“Sorry nih Mbak, pertanyaan saya agak ngaco kali ini.” Mbak In lagi-lagi mengernyitkan dahi. Saya berbisik, apakah mbak In nggak takut kalau suami pacaran lagi. Saya tercengang. Mbak In istighfar.
“Jangan berpikiran buruk sama suami Jeng.”
“Saya nggak sempat punya pikiran buruk sama suami Mbak, orang suami karyawan biasa. Kalau suami Mbak pengusaha. Punya banyak uang, tahta di perusahaan juga…” Saya nggak sampai hati meneruskannya.
“Maafkan tetanggamu ini mbak In.” Untung mbak In malah tersenyum.
“Saya percaya hanya ada saya di hati suami saya,” ujar mbak In.
“Kalau teman banyak. Manusiawi kan suami punya teman banyak biarpun wanita. Asal pacar, kekasih adalah sang istri,” sambung mbak In lagi.
“Oke.”
Sejenak suasana hening.
“Kisah Antasari, wanita pemungut bola golf, Nasrudin itu kok kayak film trailer aja ya Jeng.”
Saya mengangguk pelan. Suasana hening lagi.
“Negara ini mau ke mana ya,” ujar mbak In dengan nada keluh.
“Kita sedikit lega dengan sikap Antasari, satu persatu kasus korupsi diangkat.”
“Otomatis dia nggak disukai oleh mereka, yang terjerat korupsi Mbak.”
“Ya.”
Saya mengambil satu iris bika ambon yang menggoda selera.
“Memang sulit menegakkan kebenaran Jeng. Kita sudah punya Antasari, eh tahu-tahu dia kena kasus yang mencengangkan.”
“Namanya juga manusia Mbak In. Berlimpah harta sedikit jadi lupa,” ujar saya sok tahu.
Mbak In tiba-tiba menatapku dengan tajam.
“Tapi saya nggak buru-buru menyalahkan Antasari Jeng.”
Susah payah saya mencoba menelan bika ambon. Kok bisa-bisanya mbak In nggak nyalahin Antasari. Orang dia yang menyuruh orang untuk membereskan Nasrudin karena yang bersangkutan terlibat asmara. Asmara yang tak semestinya. Aneh to, kalau mbak In nggak menyalahkan Antasari.
“Maksudnya?”
“Kita lihat dulu latar belakang peristiwa pembunuhan Nasrudin. Mengapa Nasrudin dibunuh? Apa benar Antasari menyuruh temannya untuk membunuh Nasrudin. Ataukan hanya salah paham saja?”
“Maksudnya?”
“Bisa jadi kan, kalau teman Antasari itu salah paham dalam mengartikan keluhan Antasari tentang Nasrudin.”
Saya menggaruk kepala yang tak gatal. Bingung.
“Sudah deh Mbak, kita lihat saja nanti.”
Saya sandarkan punggung ke kursi. Hamparan langit biru terbentang luas. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Sedangkan saya hanya mampu untuk letih, tatkala membaca, mendengar berita para petinggi negeri ini.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Merampas Hak Anak Tetangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: