Merampas Hak Anak

Mei 1, 2009 at 2:46 pm Tinggalkan komentar

SEMAKIN tua usia dunia, semakin banyak pelanggaran terjadi. Salah satunya adalah pelanggaran hak anak. Saya semula geregetan alias pengen marah dengan Tinah. Masalahnya, punya anak hanya dua. Tinuk si sulung ditinggal di kampung dengan dititipkan sama neneknya. Tinah tinggal di Jakarta bersama suami dan anak kedua, laki-laki. Baru kelas dua sekolah dasar.
Warno, suami Tinah bekerja sebagai tukang. Jasanya sering diminta oleh para tetangga saya untuk merenovasi rumah atau menambah ruang baru. Warno termasuk tukang yang laris. Pekerjaannya yang rapi membuat para tetangga lebih suka menunggu Warno. Ibarat kata, minta tolong Warno mesti mau menunggu. Menunggu giliran Warno menyelesaikan rumah yang lain dulu.
Dari hitungan kasar, saya berani bilang Warno mampu menafkahi istri dan menyekolahkan kedua anaknya. Tinah sendiri tak berpangku tangan, ia juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sejak suaminya mengontrak salah satu rumah di kompleks tempat saya tinggal.
Hingga tahun ajaran kemarin, Tinah yang bekerja di depan rumah, persis sebelah kiri rumah majikan pok Agus pulang kampung. Katanya hendak membawa si sulung ke Jakarta. Saya turut senang, karena kebahagiaan sorang anak adalah bisa berkumpul dengan keluarganya. Bisa berdekatan dengan ayah, ibu dan adik.
“Mau daftar SMP di sini mbak,” tanya saya. Mbak Tinah mengiyakan. Hati saya senang dan ingin segera berkenalan dengan si sulung.
Sayang kesenangan saya tak berumur lama. Si sulung yang semula dikenalkan sebagai anak kandung, oleh Tinah dikenalkan sebagai adik suaminya.
“Sendirian di kampung, jadi saya ajak aja ke sini. Hitung-hitung nemani anak saya,” ujar Tinah.
“Oh jadi bawa dua anak dari kampung, Mbak.”
“Nggak. Cuma satu, ya si Tinuk itu.”
Mbak Tinah menunjuk ke arah Tinuk yang sedang menyapu lantai rumah. Dari penampilannya aku menebak dia masih belasan tahun. Aku pandangi lagi, baru lulus sekolah dasar.
“Sudah saya anggap anak sendiri, Bu.”
Saya mengangguk.
“Mau daftar SMP mana mbak?”
“Katanya mau kerja aja, Bu.”
“Kerja?”
Mbak Tinah mengangguk. Saya pandangi Tinuk, apa benar ia memilih bekerja ketimbang sekolah? Saya pandangi Tinah sekilas, lalu tersenyum tipis. Entah apa yang ada di pikiran Tinah. Anak sekecil itu diajak ke Jakarta untuk bekerja. Pekerjaan apa yang bisa didapat dengan ijasah sekolah dasar?
“Memang dia memilih bekerja, Mbak?”
“Iya, katanya mau bekerja saja.”
“Kasihan mbak,” ujar saya lirih.
“Anak perempuan, Bu. Yang penting bisa baca sama berhitung. Toh, nanti kalau sudah nikah juga di rumah saja.”
Saya memilih diam. Masih saja ada yang berpikir perempuan tak perlu sekolah tinggi, nantinya juga mengurus anak sama suami.
Benar saja. Hanya dalam hitungan hari, Tinuk sudah bekerja di depan rumah saya, menggantikan Tinah. Tinah sendiri bekerja di majikan baru. Artinya anak usia belasan tahun itu meski mengerjakan pekerjaan orang dewasa, pekerjaan ibu rumah tangga. Dari mencuci baju, menyeterika, mencuci lantai juga mencuci piring. Ups, belakangan ditambah dengan menjaga Gita. Anak perempuan majikannya yang baru duduk di Taman Kanak-kanak. Duh, masa remaja yang hilang, terampas oleh keadaan. Tidak. Bukan keadaan yang meramas masa remaja Tinuk, melainkan orang tua yang ada di sekelilingnya.
Saya ingin tahu bagaimana perasaan Tinuk sekarang. Mengingat setiap pagi, di saat ia bekerja menyapu lantai, anak-anak seusianya di kompleks ini tengah sibuk mempersiapkan sekolah. Bagaimana perasaannya?
Pada satu sore, saat Tinuk sedang menyuapi Gita, dia duduk-duduk di depan pagar. Aku mempersilahkannya untuk masuk ke dalam. Ia lebih suka duduk di teras rumah. Inilah kesempatan buat saya ngobrol dengan dia. Dari obrolan dengan Tinuk, saya tercengang. Saya tak habis pikir, mengapa Tinah tega menyangkal kalau Tinuk adalah anak kandungnya, bukan adik suaminya. Mengapa Tinah menutupi jati diri Tinuk. Saya jadi curiga jangan-jangan menjadi pembantu rumah tangga bukan keputusan Tinuk, melainkan keputusan Tinah.
“Memang nggak ingin sekolah lagi, Nuk.”
Tinuk menghela napas. Saya bisa merasakan betapa berat ia menghela napas.
“Pengennya sih sekolah lagi Bu,” ujarnya.
“Tapi mak tak kasih.”
“Kenapa?”
“Nggak ada biaya.”
“Bapakmu kan juga kerja, Nuk.”
“Bapak juga tak kasih saya sekolah lagi, Bu.”
Saya menelan ludah. Anak sekecil itu harus bekerja menjadi pembantu rumah tangga, dari pagi hingga sore.
“Uang gajian kamu tabung untuk sekolah tahun depan, Nuk.”
“Gaji yang nerima mak.”
“Maksudnya?”
“Ya mak yang nerima setiap bulan.”
“Emang berapa gajimu Nuk?” Cerewet saya kambuh. Tinuk menggeleng.
“Nggak tahu, Bu.”
Saya menelan ludah lagi. Saya pandangi wajah Tinuk yang tembem. Kasihan Tinuk.
DWY

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Mewarisi Kemiskinan Mendung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 12 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 12 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 12 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 12 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 12 hours ago

%d blogger menyukai ini: