Mewarisi Kemiskinan

April 30, 2009 at 4:03 pm Tinggalkan komentar

INI tentang kisah pembantu rumah tangga yang bekerja di depan rumah saya. Panggil saja dia Pok Agus. Nama sebenarnya Surti. Agus adalah nama anaknya yang paling bungsu. Laki-laki, duduk di kelas lima sekolah dasar. Pok Agus punya empat orang anak. Tiga perempuan, dan satu laki-laki.
Anak pertama bernama Sekar, duapuluh tahun, sudah memberinya seorang anak berusia tiga tahun. Sekar menikah umur enambelas tahun. Anak kedua Usi, berumur delapan belas tahun, juga telah memberikannya cucu perempuan berumur satu tahun tiga bulan. Sama dengan Sekar, Usi menikah pada usia relatif muda. Enambelas tahun. Satu bulan lalu Pok Agus mendapatkan cucu lagi, perempuan. Kali ini dari Winni yang baru berusia tujuhbelas tahun. Winni lebih cepat menikah karena paras dan postur tubuhnya yang lebih menarik ketimbang kedua kakaknya. Ia menikah ketika umur limabelas tahun.
Pok Agus, adalah sosok pembantu rumah tangga yang ulet. Ia rajin dan setia dengan majikannya. Pok Agus termasuk pembantu yang awet, tak suka pindah-pindah tempat dalam bekerja. Saya banyak belajar dari Pok Agus, dia tipe pekerja. Dia bekerja tanpa memikirkan berapa gaji yang ia terima dalam satu bulan. Saya sempat heran, gajinya jauh dibawah para pembantu rumah tangga di sekitar saya, tetapi Pok Agus santai saja. Dia nggak minta naik gaji atau membandingkan gajinya dengan pembantu lain.
Ada yang menyesakkan dada, saya yang lumayan dekat dengan Pok Agus mulai terusik dengan cara pikirnya. Pok Agus begitu santai bercerita tentang anak-anaknya yang menikah dalam usia sangat muda.
“Anak gadis sudah ada yang nanya, ya kasih saja. Kalau ditolak, takut jadi perawan tua.”
“Tak sekolah sampai SMA Pok?”
“Paling hanya lulus SD, Bu. Habis sekolah sampai SMA nggak ada biaya, lagipula perempuan paling-paling di rumah. Ngurus anak sama suami.”
Duh, begitu sederhana Pok Ayum. Anak perempuan dilahirkan hanya untuk tinggal di rumah. Ngurus suami sama anak-anak. Memang, kondisi kampung dekat perumahan tempat saya tinggal, termasuk daerah terbelakang. Saya heran, daerah ini masih dekat dengan Jakarta tetapi masih banyak ibu-ibu yang buta huruf. Masih banyak anak-anak usia sekolah tinggal di rumah.
Pok Agus sendiri tak melek huruf. Sekar hanya sampai kelas empat SD. Usi hanya sampai kelas lima SD.
“Usi waktu tes sakit, nggak masuk satu bulan lebih. Akhirnya nggak naik kelas. Malu dia Bu, saya suruh terusin sekolah lagi nggak mau. Akhirnya keluar. Ya sudah, mau apa lagi. Orang dia nggak mau.”
Dari ketiga anak perempuan Pok Agus, hanya Winni yang selesai sekolah dasar. Saya tak habis pikir, dengan ijasah sekolah dasar, pekerjaan apa yang bisa didapat. Memang sih mereka masih beruntung dengan adanya komplek perumahan di sekitar mereka. Sebagian besar para perempuan tetangga Pok Agus bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kompleks tempat saya tinggal. Termasuk ketiga anak perempuan Pok Agus. Biasanya mereka bekerja sampai siang, ketika semua tugas-tugas mereka selesai. Biasanya mencuci baju sama menyeterika. Ada juga yang ditambah dengan membersihkan lantai dan mencuci piring.
Saya sering melihat anak-anak Pok Agus singgah ke rumah tempat Pok Agus bekerja. Biasanya Usi datang terlebih dulu, sekitar pukul sebelas. Maklum Usi hanya bekerja di satu rumah. Ia bekerja dari mencuci baju, menyeterika, dan membersihkan lantai. Tak lama kemudian, usai Usi pulang akan datang Sekar. Hanya sebentar Sekar singgah di rumah majikan Pok Agus. Ia singgah untuk istirahat sebentar setelah mencuci baju dan menyeterika, membersihkan lantai dan mencuci piring. Setelah merasa cukup istirahat, Sekar akan ke bekerja lagi ke rumah majikannya yang lain, untuk menyeterika baju saja.
“Nggak kuat Bu kalau sama cuci baju,” ujarnya suatu ketika kepada saya.
Sekar harus bekerja di dua tempat, karena anaknya yang sudah berusia tiga tahun itu membutuhkan biaya yang lebih besar. Suami Sekar bekerja menjadi tukang ojek.
“Itu saja setelah jual tanah, untuk beli motor. Suami hanya lulus SD, nggak bisa bekerja di bengkel apalagi kantoran, Bu.”
Saya lebih banyak mendengarkan cerita anak-anak Pok Agus, sebenarnya saya ingin sekali mengatakan kalau pendidikan itu sangat penting, tetapi meraba penghasilan mereka, memang tak memungkinkan bisa menyekolahkan sampai ke perguruan tinggi. Mengingat biaya pendidikan begitu tinggi.
Lain lagi dengan Winni, usianya yang relatif muda meski melahirkan dengan operasi caesar. Terpaksa Pok Agus menjual tanah untuk membayar biaya rumah sakit. Sekarang Winni ingin segera bekerja lagi, karena suami belum ada pekerjaan tetap. Selama menikah, Winni dapat bantuan dari Pok Agus juga kedua kakaknya serta dari keluarga suami. Yang lebih mengenaskan ketiga anak Pok Agus yang sudah berkeluarga itu tinggal serumah. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya satu rumah dihuni oleh empat keluarga.
Kalau saja Pok Agus dan suami memiliki kesadaran bahwa pendidikan itu penting, mungkin taraf kehidupan mereka akan membaik dari generasi ke generasi berikutnya. Tidak seperi sekarang ini, Semua anak-anaknya hanya bisa bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sementara kaum laki-laki malah banyak yang menganggur, karena memang sulit mendapatkan pekerjaan dengan ijasah yang kurang memadai. Untuk menjadi pembantu rumah tangga, tidak mungkin.
Inilah mungkin yang dinamakan kemiskinan itu dapat diwariskan, karena kurang ada semangat untuk berubah. Hanya pasrah dengan keadaan, dan pola pikir yang sederhana. Hari ini ya, hari ini. Besok pikirkan besok. Tragisnya lagi negara kurang memperhatikan kondiri rakyatnya yang melata.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Aib Merampas Hak Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

TELAH DIBACA

  • 103,873 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @ummychasan: @detikcom Ketiganya kami cintai dan hormati, mrk bekerja u rakyat. 2 hours ago
  • RT @mesjkt: @detikcom Ke3nya adalah orang2 yg saya kagumi:jujur,bersih,berintegritas tinggi dan kerja kerasnya ikhlas buat bangsa dan negar… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang seseorang menyalahkan orang lain hanya karena tak temukan kata yg tepat tuk ucapkan maaf. Dan karena itu kegagala… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang kamu memilih tuk sendiri, bukan berarti kamu tak ingin dicintai, itu hanya berarti kamu butuh waktu tuk sembuhkan… 2 hours ago
  • RT @ilhamkhoiri: Afi Nihaya itu baru lulus SMA, masih 19 tahun, anak pedagang cilok, tapi catatannya inspiratif untuk bangun Indonesia yg d… 2 hours ago

%d blogger menyukai ini: