Memahami Orang Lain (2)

April 18, 2009 at 4:02 pm Tinggalkan komentar

Saya tak habis pikir dengan mama Mery. Kok ada ya orang yang memiliki karakter seperti dia. Duh, puyeng deh.
“Kenapa sih Jeng?” tanya mbak In yang kebetulan tengah berkunjung ke rumah, tetapi saya suguhi gerutuan. Mbak In mengambil surat kabar. Matanya langsung tertuju pada tulisan di sudut kanan bawah. Tentang kehidupan sosial terkini.
“Bayangkan mbak, baru kemarin marah-marah sama saya. Eh, hari ini tahu-tahu datang ke rumah nawari beras.”
“Beras?”
“Ya, dia kan suka jual macam-macam mbak.”
“Saya nggak ditawari, jeng.”
“Ya tentu, orang dia lagi diemin sampeyan.”
Mbak In hanya tertawa kecil. Ia tampak santai-santai saja meski tengah dijauhin sama mama Mery. Padahal, ketika saya baru saja pindah ke kompleks ini hubungan ntara mama Mery dan mbak In sangat dekat. Bahkan sampai urusan kenduri di rumah mbak In, mama Mery yang pegang kendali. Mama Mery yang mengurus semua soal makanan.
Mbak In sangat sering memesan makanan kecil ke mama Mery bila ada acara. Maklumlah mama Mery ini jago masak dan bikin kue. Mama Mery juga suka menerima pesanan. Sayang, mama Mery orangnya cepat bosan. Sebentar gonta-ganti usaha. Dulu pernah jualan sembako, tak lama berhenti. Lalu jualan air isi ulang, berhenti juga. Pernah juga jualan makanan kecil, eh berhenti lagi. Sekarang lagi usaha buka salon. Hanya saja ucapan-ucapan mama Mery sering menyakitkan orang lain. Termasuk saya.
“Emang dia ngomong apa jeng.”
Saya menghela napas.
“Ah sudahlah mbak In. Malas saya.”
Mbak In tersenyum tipis, lalu meletakkan surat kabar hari ini di atas meja.
“Mama Mery itu kasihan jeng.”
“Kasihan?”
“Ya.”
“Halaah Mbak, orang mulutnya suka banget nyakiti orang lain kok dikasihani.”
Mbak In menatapku. Membuat aku risih. Rasanya baru kali ini mbak In menatapku seperti ini.
“Jeng,” panggilnya kemudian.
“Kalau jeng tahu masalah mama Mery, kayaknya jeng nggak marah lagi deh.”
Saya menautkan kening.
“Dia itu ternyata istri kedua.”
“Hah!”
Mbak In mengangguk.
“Kata siapa?”
Mbak In menatap saya lagi. Duh mbak In hari ini kok seneng banget menatap saya.
“Jeng nggak di rumah sih ya kemarin.”
Saya mengangguk.
Sejenak mbak In terdiam, lalu dia bercerita bila kemarin saat saya dan keluarga keluar rumah, mama Mery kedatangan tamu. Sayang, tamu itu bukan membawa kegembiraan, melainkan malu. Tamu itu ternyata kakak istri pertama suami mama Mery. Sang tamu teriak-teriak di depan rumah mama Mery. Marah-marah dan membuka aib mama Mery. Pernikahan mama Mery dengan suami ditentang oleh istri pertama juga seluruh keluarga istri pertama. Demikian juga dengan anak-anak istri pertama suami mama Mery.
Saya tertegun mendengar penuturan mbak In. Sama sekali nggak menyangka kalau mama Mery istri kedua. Anaknya sekarang sudah dua. Yang sulung sudah masuk sekolah menengah pertama, sedang anak kedua baru umur satu tahun lebih. Saya tak bisa membayangkan seperti apa hati dan perasaan mama Mery. Menyandang status istri kedua dan pernikahan di bawah tangan.
Sekarang saya mulai bisa menyadari dan belajar menerima karakter mama Mery. Bisa jadi tabiatnya yang kurang hangat dengan tetangga, karena hati dan pikirannya dipenuhi masalah keluarga. Kasihan dia.Toh, ada semangat yang baik pada mama Mery. Dia mau berusaha apa saja untuk menambah penghasilan suami.
DWY.

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Memahami Orang Lain (1) Aib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

TELAH DIBACA

  • 105,232 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: