Memahami Orang Lain (1)

April 14, 2009 at 3:54 pm Tinggalkan komentar

SAYA tak habis pikir dengan beberapa tetangga saya. Sikap mereka terhadap mbak In terlalu berlebihan. Apa saja yang mbak In lakukan selalu kurang bahkan salah di mata beberapa tetangga. Apa saja yang bersinggungan dengan mbak In selalu menjadi bahan omongan. Termasuk menu yang mbak In konsumsi hari ini di gerobak dorong Tesi, menjadi perbincangan hangat diantara mereka.
“Tanggal tua begini, masak daging. Belagu dia.” Begitu ucap mama Mery.
“Lagi banyak uang dia,” timpal mama Dipo.
“Suaminya kan pengusaha,” timpal mama Feri.
Saya yang tengah memilih bayam geleng-geleng kepala. Heran dengan sekumpulan ibu-ibu yang mirip sebuah geng ini. Mau masak daging kek, ayam kek, ikan asin kek, suka-suka mbak In khan? Kok repot.
Eh, mbak In keluar lagi. Dia menyapaku sambil menanyakan kabar adikku yang tengah mencari pekerjaan di Jakarta. Saya katakan sama mbak In kalau adikku baru saja wawancara. Tinggal menunggu kabar. Sambil ngobrol dengan saya, mbak In memilih kelapa, lalu mengambilnya satu butir.
“Buat apa In, beli kelapa satu butir?” tanya mama Mery.
“Nayla pengen kolak pisang.”
“Bagi-bagi dong ke tetangga,” sambung mama Mery yang disambut senyum oleh mbak In.
“Saya tunggu di rumah ya,” sambung mama Mery lagi. Aku ikut senang mendengar obrolan ringan itu.
“Ya, ya mama Mery. Nanti saya antar,” ujar mbak In.
“Bener lho, serius ini. Biar kamu tuh dapat pahala.”
Mbak In tersenyum lagi, dengan santai mbak In berujar kalau mau berbagi dengan orang lain meski tulus. Nggak usah berharap lagi, apalagi berharap dapat pahala.
“Meski ikhlas mama Mery,” ujar mbak In lagi yang kemudian disambut dengan mulut mama Mery yang meruncing. Saya menangkap akan ada hal buruk terjadi. Sifat mama Mery kan aneh. Sedikit-sedikit marah lalu diemin tetangga. Nggak mau menegur apalagi disapa.
Beberapa hari sejak perbincangan di depan gerobak dorong milik Tesi itu, mbak In mengunjungi saya. Ia mengeluh sudah satu minggu dicuekkin sama mama Mery.
“Ini hal biasa sebenarnya jeng, hal kecil.”
“Ya, salah mbak In.”
“Mbak In meskinya beli rumah di Pondok Indah atau kawasan elite. Bukan di sini yang rata-rata orangnya serba tanggung.”
“Serba tanggung, maksud jeng?”
Saya membetulkan posisi duduk saya.
“Ya itu tadi serba tanggung, baik kekayaannya, pendidikannya, juga kepribadiannya.”
Mbak mengangguk-angguk.
“Saya sebenarnya bisa menerima perlakuan mereka jeng, cuma saya heran kenapa kok mereka itu sering bikin hati saya capek.”
Saya mengangguk kecil
“Karena mbak In jarang keluar, jarang duduk-duduk di depan rumah ngobrol dengan mereka, mbak.”
“Bagaimana saya bisa santai ngobrol di depan rumah jeng, orang baru duduk berapa menit saja, obrolan menjadi ajang bergunjing. Malas jeng.”
Saya tersenyum.
“Ya sudah mbak, apalagi yang meski dipikirkan.”
“Sikap Marsha,” kali ini nada ucapan mbak In meninggi. Membuat saya terkejut.
“Marsha, anaknya mama Mery. Dia kan anak kecil mbak, baru kelas tiga.”
“Maka dari itu jeng.”
Dari wajahnya, mbak In tampak kesal. Saya menautkan kening. Ada apa dengan anak sekecil Marsha, sampai-sampai mbak In kesal.
“Kalau hanya sekali atau dua kali bisa saja hanya perasaan saya aja jeng.”
Saya bingung. Belum tahu arah pembicaraan Mbak In.
“Setiapkali Marsha lewat di depan saya Jeng…”
Mbak In menghentikan kalimatnya. Menatap saya, membuat saya jadi ingin tahu kelanjutan kalimat mbak In. Tetapi mbak In tak segera bicara, malah menghela napas. Bikin saya penasaran.
“Dia selalu menutup hidung di depan saya Jeng,” saya kian menautkan kening. Marsha menutup hidung, setiapkali lewat di depan mbak In?
“Tidak hanya sekali dua kali jeng,” ujar mbak In lagi sambil geleng-geleng kepala. Saya menghela napas.
“Tidak pagi, tidak sore. Kalau dia lewat di depan rumah sedang jalan kaki atau bersepeda selalu ia menutup hidung. Baru saja saya bertemu di jalan mau ke warung baru, buru-buru dia menutup hidung.”
Saya menghela napas lagi. Membayangkan Marsha yang selalu menutup hidung saat melintas dan berpapasan dengan mbak In.
“Bau kali saya ya jeng.” Sangat jelas terlihat di wajah mbak In, rasa sakit tak terperi di hatinya. Perempuan yang memang sangat jarang duduk-duduk bersama ibu-ibu di kursi presiden itu, memang sering disakiti oleh ibu-ibu tetangga saya.
Kursi presiden ini, sebutan untuk kursi panjang dari bambu yang berdiri kokoh di depan rumah mama Dipo. Kursi ini tak pernah sepi dari pengunjung. Seringkali ibu-ibu. Jam tujuh pagi, jam mbok Lastri mangkal. Tukang jamu yang selalu dikerubuti ibu-ibu. Sambil minum jamu, disambung acara ngobrol sampai pukul sembilan. Mereka biasanya sambil menyuapi anak-anak. Sesi kedua jam sepuluh pagi hingga menjelang adzan waktu zuhur. Biasanya adzan zuhur menjadi pengingat automatis para ibu untuk pulang ke rumah.
Sesi ketiga jam empat hingga maghrib tiba. Usai Isya, ibu-ibu keluar lagi. Apalagi kalau ada tukang bakso lewat. Obrolan kian hangat sambil menikmati bakso. Tak jarang ibu-ibu ngobrol sampai pukul sembilan malam. Jika esok hari libur sekolah, mereka ngobrol sampai jam sepuluh lewat. Nah, untuk urusan bergaul mbak In bisa dibilang sombong. Mbak In nggak mau waktu terbuang percuma untuk ngobrol yang kurang jelas, tak jarang malah duduk-duduk di kursi presiden itu jadi ajang bergunjing.
“Sakit hati saya Jeng,” ujar mbak In kemudian sangat lirih.
“Sabar mbak.” Mbak In mengangguk.
“Iya jeng.”
“Mestinya mama Mery nggak ngajari anaknya untuk tidak hormat sama mbak. Kalaupun ia masih diemin mbak, ya anak jangan ikut-ikutan. Nggak mungkin to, kalau Marsha menutup hidung tanpa diajari mamanya.”
“Jangan berburuk sangka jeng,” ujar mbak In.
Saya terkejut.
“Mungkin saja Tuhan ingin menegur saya lewat Marsha.”
Saya jadi nggak ngerti apa maksudnya mbak In.
“Mungkin saya kurang ikhlas dalam menjalani hidup ini, jeng. Saya masih suka mengeluh sama jeng, perihal tetangga yang suka usil sama saya.”
Saya menunduk. Mbak In selalu tak mau menyalahkan orang lain, meski kesalahan orang lain itu sudah jelas-jelas di depan mata. Saya terkadang iri dengan kepribadian mbak In. Senantiasa bisa memahami orang lain. Mbak In lebih suka mengkoreksi pribadinya sendiri.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Tetap Menolong Memahami Orang Lain (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: