Tetap Menolong

April 8, 2009 at 3:53 am Tinggalkan komentar

Saya merasakan ada yang janggal dengan hubungan mbak In dan mama Sari akhir-akhir ini. Keduanya seperti tak saling sapa. Seperti kemarin pagi, ketika saya hendak ke warung Tesi untuk membeli ikan segar. Saya melihat dari jarak satu meter, mama Sari yang berjalan ke arahku membuang muka saat berpapasan dengan mbak In. Sementara mbak In yang baru beranjak dari warung mpok Muneh tampak menundukkan kepala.
Dari jauh saya menangkap ada yang beres. Tak seperti biasanya. Biasanya antara mbak In dengan mama Sari seperti gula dengan kopi. Tak bisa dipisahkan. Tanpa gula, kopi apa jadinya? Terasa pahit. Demikian juga dengan gula. Tanpa kopi, gula tak menemukan jodoh. Tak berarti apa-apa. Meski antara gula dan kopi ada pihak ketiga seperti teh. Ups, kok jadi ngomongin gula, teh sama kopi?
Rumah mbak In dan rumah mama Sari berdampingan. Keduanya sangat akrab. Mama Sari suka ke rumah mbak In. Kedatangannya hampir bisa dipastikan selalu minta tolong sama mbak In. Dari mengenakan dasi Sari, sampai meminjam uang. Mbak In santai saja, setiap kali mama Sari datang, selalu mbak In tolong. Melihat keduanya seperti barusan, membuat saya berpikir buruk. Mungkinkah antara mama Sari dan mbak In tengah diem-dieman?
Saya mencoba menepis dugaan itu. Mbak In bukan tipe orang yang usil sama tetangga, apalagi sampai mendiamkan tetangga. Kalaupun saya tahu mama Sari suka meminjam uang ke mbak In, bukan mbak In yang cerita, melainkan mama Sarisendiri. Siang ini sesuatu yang ganjil saya saksikan lagi. Saat saya sedang berboncengan dengan mbak In dari pasar Reni. Saya memang sedang membantu mbak In menyiapkan menu buat arisan RT nanti sore. Kebetulan arisan diadakan di rumah mbak In. Saat kami melihat mama Sari sedang mengisi pulsa bersama suami dan anak, mama Sari langsung membuang muka ketika tahu orang yang ada di belakang saya adalah mbak In. Padahal sebelumnya suami dan anaknya menegur saya, dan mama Sari pun hendak tersenyum dengan saya. Begitu melihat mbak In langsung wajahnya kecut.
Sambil membawa motor, saya sempat mendengar helaan napas berat mbak In. Apakah mungkin ini hanya kebetulan saja? Oke, saya tak ingin ikut campur soal mama Sari dan mbak In. Saya sebenarnya ingin tahu apakah antara mbak In dan mama Sari sedang memiliki masalah. Keingintahuan itu saya pendam dalam-dalam. Mbak In bukan tipe ibu-ibu rumah tangga yang suka bergunjing. Akhirnya rasa ingin tahu saya menerbitkan rasa penasaran.
Lain hari lagi, ketika saya sedang menggendong bungsu mbak In yang masih balita, dan tengah duduk santai di depan rumah mama Sari, mama Sari dengan cemberut memandangi Najwa, bungsu mbak In. Tampak betul di wajah mama Sari kebencian yang sangat. Saya heran, mengapa mama Sari berlaku seperti itu?
Saya beranjak dari tempat duduk. Saya menuju rumah mbak In. Si bungsu langsung ingin ikut mamanya. Mbak In segera menyambut dan memeluk Najwa. Tak lama kemudian Najwa ikut neneknya. Kebetulan hari itu ibu mbak In datang berkunjung.
Saya sangat ingin bertanya tentang sikap mama Sari akhir-akhir ini, tetapi itu tak mungkin saya tanyakan. Untuk mengikis rasa penasaran, saya pamitan pulang.
“Jeng,” panggil mbak In saat saya mulai melangkah pergi. Saya berhenti.
“Punya waktu nggak Jeng.”
Saya tersenyum.
“Belum jadi anggota legislatif mbak, jadi waktu untuk sampeyan tersedia banyak.” Mbak In tertawa kecil.
“Saya serius jeng,” ucapannya yang lirih membuat saya ingin segera menyimak. Saya tak jadi pulang. Saya malah duduk di kursi. Mbak In juga.
“Saya ini salah apa, sama mama Sari ya Jeng.”
Saya diam. Artinya kecurigaanku pada hubungan mereka benar. Sedang bermasalah.
“Memang kenapa mbak?”
Mbak In menghela napas.
“Saya juga nggak ngerti, kenapa tiba-tiba mama Sari cuek banget sama saya.”
Saya diam.
“Seingat saya jeng, saya nggak ngomong apa-apa sama dia. Tahu-tahu kalau ketemu saya, kok bawaannya seperti mau marah sama saya. Saya didiemin Jeng.”
Saya masih diam.
“Jeng,” panggil mbak In.
“Saya nggak betah musuhan sama tetangga, diem-dieman, cuek-cuekkan. Sudah tua. Malu.“
Saya mengamini pendapat mbak In. Sangat tidak enak bila diem-dieman sama tetangga. Kadang saya berpikir, mengapa tetangga-tetangga saya suka sekali mendiamkan mbak In. Padahal mbak In selalu hati-hati dalam bertutur kata.
“Kalau saja saya tahu kesalahan saya sama mama Sari, saya kan bisa minta maaf Jeng. Eh, ini sama sekali saya nggak tahu apa kesalahan saya. Tahu-tahu dicuekkin. Mama Sari seperti marah banget kalau lihat saya,” keluh mbak In panjang lebar.
“Sudahlah mbak In. Yang penting tak menyakiti hati dan perasaan orang lain.”
Mbak In mengangguk-angguk.
Waktu berlalu, tiga bulan lebih mama Sari diemin Mbak In. Mbak In pasti sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan, tetapi yang saya lihat setiap kali ada mbak In, mama Sari selalu menghindar, pura-pura tak melihat atau membuang muka. Hingga suatu hari, Sari datang mengetuk rumah. Sari mengabarkan kalau telinga mamanya kemasukan hewan kecil, seperti serangga, ketika sedang memasak.
“Kemasukan hewan?”
“Iya, sekarang minta diantar ke rumah sakit. Papa sedang kerja.”
Aduh, ada mobil tetapi saya belum pandai nyetir sendiri. Ayahnya juga baru saja keluar rumah. Pikiranku langsung tertuju ke mbak In. Mbak In sudah terbiasa bawa mobil. Tanpa menunggu lama, saya segera ke rumah mbak In. Menyampaikan masalah mama Sari sekarang.
“Ayo, saya antar.” Mbak In yang selalu berpakaian rapi, biarpun sedang di rumah, segera masuk kamar. Mengambil kerudung instan,mengenakannya terus menyambar kunci mobil.
“Murni, saya keluar mengantar mama Sari. Kalau Najwa bangun tolong jagain ya.”
“Ya bu.”
Mbak In tak puas. Ia menghampiri Murni yang sedang mencuci gelas.
“Murni, tinggalkan semua pekerjaan. Kalau Najwa bangun, yang penting Najwa.”
“Ya, ya bu.”
Mbak In begitu antusias hendak mengantar mama Sari ke rumah sakit. Sampai-sampai Najwa yang sedang terlelap ia tinggalkan. Mbak In seperti lupa, bila selama ini hubungannya dengan mama Sari belum beres.
“Ayo Jeng.”
Saya ke rumah mama Sari, sementara mbak In mengeluarkan mobil. Saya bilang ke Sari kalau mbak In sudah siap mengantar mama Sari ke rumah sakit. Tak lama kemudian mama Sari keluar sambil merintih kesakitan, kedua tangannya menutupi kedua telinganya.
Saya hanya satu meter dari mbak In dan mama Sari. Saya terharu pada ketulusan mbak In. Ia yang membuka pintu mobil untuk mama Sari, yang sebenarnya tengah mendiamkan mbak In. Mama Sari masuk dan segera duduk. Rasa sakit yang mendera membuat mama Sari lupa bahwa orang yang tengah menolongnya, adalah orang yang selama tiga bulan lebih ini ia diamkan. Tak pernah ditegur. Entah apa yang ada di benak mama Sari sekarang.
Sementara sikap mbak In membuat saya malu. Saya terkadang malas menolong orang yang pernah menyakiti perasaan saya, meski mungkin orang itu tak sengaja membuat hati saya sakit. Mudah-mudahan usai mama Sari sembuh nanti, hubungan antara keduanya membaik. Amin.
DWY

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Ancaman Memahami Orang Lain (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 10 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 10 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 10 hours ago

%d blogger menyukai ini: