Nasib

April 2, 2009 at 3:54 am Tinggalkan komentar

PUCUK dicinta ulam tiba. Hasrat hati ingin pergi ke warung untuk beli ikan basah, di ujung gang, tepat di depan rumah mbak In, berhenti Suryo. Penjual sayur keliling yang suka sekali masuk ke gang kami. Orangnya tinggi, putih, kurus dan gondrong. Wajahnya kembaran dengan pelawak Kabul alias Tesi. Maka nama Suryo sering tenggelam ketimbang nama Tesi. Ia lebih populer dengan panggilan Tesi. Dipanggil Suryo pun nggak bakalan menoleh. Itulah salah satu profil penjual sayur idola kami, ibu-ibu di kompleks tempat saya tinggal.
“Mang,” panggil saya.
“Hm.”
“Ada ikan apa aja.”
“Paus yang nggak ada.”
“Sampeyan Tes, ditanya serius jawabnya ngalor ngidul.”
“Jangan salah, ikan Paus juga dimakan orang.”
Saya membuka tempat ikan. Memilih satu kantung ikan segar, kemudian minta tolong dibersihkan oleh Tesi. Saat Tesi sedang membersihkan ikan muncul tetangga saya yang lain, sekaligus tiga orang. Persis sebuah rombongan. Mereka adalah mama Feri, mama Dipo dan mama Rima. Tiga orang ini seperti satu kumpulan ibu-ibu di gang saya. Dalam arti selalu ada mama Feri dan mama Dipo bila ada mama Rima. Kemanapun mereka selalu kompak. Bahkan untuk acara liburan keluarga mereka memiliki agenda yang sama. Sebuah kekompakkan yang mengharukan.
Seperti saat sekarang misalnya, mereka pun kompak menuju gerobak Tesi dengan mengenakan busana yang sama. Duster. Hanya warna dan corak saja yang beda. Mereka dengan riang saling melempar canda ditengah-tengah memilih sayuran. Pendek kata ketiga ibu-ibu ini begitu menghidupkan suasana belanja sayuran di mulut gang. Persis di depan rumah mbak In.
Tak lama kemudian mbak In keluar, sembari menanyakan ke Tesi punya Bandeng nggak. Kebetulan ada, jadi mbak In terus membuka pagar dan segera keluar. Mbak In lalu asik memilih ikan, memberikannya ke Tesi untuk dibersihkan. Saya sempat ngobrol sejenak sama mbak In soal menu hari ini.
Tanpa saya duga mama Rima bilang ke mbak In.
“Hei In mbok ngaji ke masjid sih.”
Saya menautkan kening. Lancang betul mama Rima ini. Aku lihat mbak In hanya tersenyum tipis.
“Ngaji cuma setiap jumat sore ini,” mama Rima kali ini seperti orang kesal. Lebih tepatnya marah-marah. Saya kian menautkan kening. Mengapa mama Rima sewot dengan mbak In, yang memang jarang bisa ikut pengajian di masjid setiap Jumat sore. Orang mbak In itu setiap hari mesti ngantor. Berangkat pagi, pulang ketika hariberganti malam.
“Saya lebih suka membaca, mama Rima.”
“Membaca,” gerutu mama Rima.
“Ya.”
“Ya nggak dong harus ada pengamalannya, nggak teori doang In,” sambar mama Rima lagi dengan nada tinggi.
“Dia mah nggak mau baca Alquran, maunya baca novel, sama koran,” seru mama Dipo.
“Ya In.” Kali ini mama Feri.
“Lagian kamu kan baru kehilangan anak bayi, itu tandanya meski lebih dekat lagi sama Allah. Ya datanglah ke masjid,” tambah mama Feri.
Aku lihat mbak In hanya diam dan tenang, tetapi dari wajahnya, aku tahu ia tidak nyaman dengan perlakuan ibu-ibu.
“Yang penting hati,” ujar mbak In ke mama Dipo. Sejenak semua diam. Mbak In membayar bandeng yang sudah dibersihkan sama Tesi. Lalu masuk ke dalam rumah, sebelumnya ia sempat berpamitan sama saya. Saya pandangi punggung mbak In. Saya merasa perlu mengunjunginya nanti sore.
Saya segera membayar belanjaan ke Tesi. Saya diam saja diantara ibu-ibu yang aneh ini, segera beranjak dari gerobak Tesi dan berlalu menuju rumah. Sampai di rumah, saya buru-buru menghubungi mbak In. Dalam telepon dia bilang, sudah terbiasa dengan tingkah polah tetangga.
“Nggak usah khawatir Jeng, ini biasa.”
“Mereka keterlaluan mbak.”
“Mereka tidak tahu, dengan apa yang mereka lakukan Jeng. Saya baik-baik saja. Yang kasihan ya mereka itu, yang menganggap ibadah sekedar seremonial saja. Ibadah itu ya mestinya punya kualitas.” Saya mengiyakan pendapat mbak In. Ibadah dalam menjalankan keyakinan diri adalah urusan yang sangat personal. Urusan umat dengan Tuhannya. Saya pikir manusia tak perlu ikut campur. Toh, setiap orang punya kualitas sendiri-sendiri di hadapan Tuhan.
Ada situasi yang berbeda dengan pagi ini. Mama Rima, mama Feri dan mama Dipo kompak mendiamkan mbak In. Hingga waktu berlalu sampai melewati lebaran, mbak In masih saja dicuekkin sama mereka. Saya geleng-geleng kepala. Tidak bisa memahami pikiran mereka, masak hanya karena masalah tidak mau ikut pengajian rutin jumat sore, mbak In didiamkan selama tak kurang dari satu tahun.
Hingga akhirnya mbak In sendiri yang merintis jalan untuk membuka ruang silaturahmi dengan mereka. Satu persatu mbak In menegur mama Feri, mama Dipo dan mama Rima.
“Saya nggak kuat Jeng, sesama tetangga kok diem-dieman selama satu tahun lebih,” ujar mbak In suatu ketika.
“Mestinya mereka dong mbak, yang menegur mbak In dulu. Bukan mbak.”
Mbak In hanya tersenyum.
“Nggak rugi kan Jeng, kalau saya yang memperbaiki hubungan terlebih dulu. Daripada seumur hidup, saya diem-dieman sama tetangga. Saya takut Jeng, Tuhan kelak tak peduli sama saya, hanya gara-gara diem-dieman sama tetangga.”

DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Ke Masjid Ancaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

TELAH DIBACA

  • 103,197 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: