Ke Masjid

Maret 29, 2009 at 2:37 pm Tinggalkan komentar

SAYA tak menyangka orang sesibuk mama Raffi datang ke rumah pagi-pagi. Bukan hari libur lagi. Ada apa gerangan dengan tetangga saya yang jarang keluar rumah, untuk sekedar ngobrol dengan tetangga itu. Saya yang kebetulan sedang membantu asisten saya menjemur pakaian, sejenak berhenti.
“Mama Fira,” panggil mama Raffi.
“Punya waktu nggak sebentar,” bisik mama Raffi. Saya tertegun. Ada apa to? Serius amat pertanyaannya. Lha wong saya hanya ibu rumah tangga biasa, ya tentu saja punya banyak waktu. Lain halnya kalau saya ini istrinya bupati, gubernur atau wali kota, nha baru perlu pertanyaan, punya waktu nggak? Duh, kok jadi cerewet. Seperti penjual kecap nomor satu aja.
Ternyata mama Raffi hendak bertanya, kemarin tetangga ramai-ramai mau ke mana. Saya menautkan kening, apa mungkin mama Raffi benar-benar tak tahu kalau kemarin kami bareng-bareng pergi menengok tetangga yang dirawat di rumah sakit.
“Kok saya nggak diberi tahu mama Fira.”
“Emang nggak ada orang datang ke rumah, minta iuran untuk beli bingkisan, mama Raffi.”
“Nggak ada sama sekali,” kali ini suara mama Raffi agak meninggi. Saya tertegun. Kok aneh.
“Kemarin, mama Zaki sama mama Mirza ke rumah. Minta iuran untuk nengok. Masak sih nggak ke rumah.”
“Sama sekali nggak, ma Fira.”
Saya terdiam.
“Saya ini bukan orang baru, mbok ya kalau ada apa-apa saya diajak-ajak mama Fira.”
Saya kecut mendengarnya. Dalam kalimat mama Raffi terkandung jelas ungkapan, seperti orang yang dianggap tidak ada. Memang mama Raffi jarang ngumpul bareng sama ibu-ibu. Ia lebih suka di dalam. Maklum, disamping punya warung sembako, mama Raffi tak suka mengambil asisten. Semua pekerjaan rumah dia pegang sendiri.
“Mama Fira,” panggilnya lagi lirih.
“Ya.”
“Boleh kan, saya ganggu lebih lama lagi.”
“Mama Raffi saya nggak merasa terganggu kok.”
“Tapi kali ini lain, saya pengen curhat. Sesak rasanya dada ini.”
Saya menelan ludah.
“Apa saya ini orang paling bodoh di dunia, mama Fira.”
“Mama Raffi nih ngomong apa to?”
Sejenak mama Raffi menghela napas. Menatapku lekat-lekat.
“Mama Fira suka ikut pengajian ibu-ibu di masjid?”
“Pernah sekali.”
“Sekarang?”
Saya kurang suka dengan pertanyaan ini. Saya lebih suka urusan ibadah menjadi urusan manusia dengan Tuhannya.
“Biarpun saya nggak pernah ke masjid mama Fira, tapi saya itu suka dengerin ceramah pengajian sambil menjaga anak,” ujar mama Raffi pelan. Suaranya hampir tak terdengar.
“Saya lebih suka membaca buku-buku agama, ketimbang mengunjungi sebuah pengajian. Duduk. Mendengarkan saja. Saya lebih suka mendengarkan siraman rohani sambil bisa melakukan kegiatan lain.”
“Ya, sama mama Raffi. Saya juga lebih suka dengerin pengajian di masjid sambil momong anak di rumah. Orang pakai pengeras suara kok. Malah lebih jelas, lebih bisa dihayati dari kejauhan.”
“Itulah mama Fira.”
Mama Raffi terdiam cukup lama. Menghela napas lagi, lalu membuangnya dengan kasar, seolah tengah menahan geram.
“Kok tega-teganya mama Soraya itu datang ke rumah. Ngasih undangan pengajian sambil bilang, mama Raffi mbok ke masjid. Biar tahu masjid.”
Deg. Sampai hati betul mama Soraya bilang seperti itu sama mama Raffi. Soal mau ke masjid atau nggak kan urusan pribadi masing-masing.
“Perasaan mama Fira, saya selalu hati-hati dalam bertutur kata, tapi kok orang lain seenaknya kalau bicara sama saya.”
“Sabar mama Raffi,” ujar saya lirih. Mama Raffi sejenak diam, lalu berujar lagi.
“Ya, banyak hikmah kok mama Fira. Saya jadi bisa belajar lebih tenang lagi menghadapi ulah ibu-ibu tetangga saya. Yang penting saya tidak bikin sakit hati orang lain.”
Saya mengiyakan ucapan mama Raffi. Ya, yang penting tidak menyakiti orang lain. Orang lain mau menyakiti hati kita, ya silahkan saja. Mungkin dengan menyakiti hati orang lain, mereka bisa menemukan kebahagiaan. Masya Allah.
DWY

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Tegar Nasib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 10 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 10 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 10 hours ago

%d blogger menyukai ini: