Merana

Maret 26, 2009 at 7:44 am 2 komentar

LAGI-lagi ini cerita dari Marsha, asisten saya untuk urusan pekerjaan rumah tangga. Kerjanya bagus, rapi dan tak perlu lagi saya suruh-suruh. Ada lagi satu kelebihannya yang unik. Ia sangat suka memberi saya informasi tentang orang lain, atau tetangganya. Kali ini mengenai satpam baru di tempat kami tinggal, kebetulan tetangganya.
“Ada satpam baru ya bu,” tanyak Marsha mengawali percakapannya diantara kegiatan Mencuci baju.
“Ya Mar, menggantikan pak Dibyo.”
“Dipecat bu.”
“Bukan, pak Dibyo mengundurkan diri karena merasa sudah tua. Sudah nggak fit lagi kalau begadang malam.”
“Oooo,” ucapnya panjang, entah dia mengerti atau sebaliknya.
“Bu.”
“Ya.”
“Tahu nggak, satpam sekarang itu bininya dua.”
“Kalau dia merasa bisa adil dengan dua istri, sah-sah saja Mar.”
“Ceritanya seperti sinetron, Bu.”
Saya tertawa kecil.
“Dia kan dulu pernah kerja keluar kota, istri di rumah. Eh suami kerja, istri malah selingkuh sama pria lain.”
Saya tertawa kecil.
“Kalau istri selingkuh ya pasti sama pria lain lah Mar.”
“Bu saya serius. Mau denger nggak?.”
Bujubune siti maemun, Marsha agak manyun.
“Ya, ya saya dengerin.”
“Ini menyangkut akhlak seorang istri.” Wow bahasa Marsha lumayan bagus, sejak kerja sama saya pelan-pelan saya dorong dia untuk gemar membaca. Meski hasilnya kurang memuaskan. Dia selalu cepat mengembalikan buku, alasannya pening kalau kelamaan baca.
Ceritanya Awang, demikian nama satpam baru kami, waktu itu pulang ke rumah mendadak. Dengan mata kepala sendiri menyaksikan istri tengah berdua di kamar. Kalau hanya tamu mengapa tidak ngobrol di ruang tamu saja. Hati suami mana yang bisa tahan menyaksikan istri berduaan di kamar. Tanpa berpikir dua kali Awang menceraikan sang istri, meski mereka telah memiliki seorang anak laki-laki bernama Wawan.
Akhirnya sang istri mengikuti selingkuhannya ke kampung. Wawan ikut dengan Awang. Hidup menduda dengan satu anak sungguh merepotkan. Apalagi Awang sering menitipkan Wawan ke tetangga bila ia harus pergi keluar kota dalam waktu cukup lama. Waktu itu pekerjaan Awang sebagai kuli banguan.
Pucuk dicinta ulam tiba. Dalam kesendirian itu, Awang bertemu dengan Yeni, mantan kekasihnya dulu. Awang dan Yeni merasa terharu dengan pertemuan itu. Hingga tanpa sadar mereka bercerita mengenai keluarga masing-masing. Yeni bercerita kalau dirinya seorang janda dengan dua anak. Awang pun demikian, dia cerita dari A hingga Z soal istri yang telah ia cerai karena selingkuh.
“Kau pasti menyesal kehilangan Siska, Wang.”
“Dia tidak bisa menjaga kehormatan keluarga, Yen.”
“Seperti apa sih istri yang baik bagimu.”
Sejenak Awang menatap mata Yeni.
“Ia bisa menerima suami apa adanya, bisa menjaga anak-anakku, bisa menjaga kehormatan keluarga. Tidak selingkuh saat suami tidak di rumah.”
“Persyaratan yang gampang,” ujar Yeni.
“Sekarang suami seperti apa yang ideal bagimu.”
Dengan mantap dan menatap tajam mata Awang, Yeni berujar ia mengharapkan suami yang bisa memperjuangkan cintanya. Tak menyerah pada keinginan orangtua. Rela mencampakkan kekasihnya, hanya karena kedua orangtua tak menyetujui calon istri.
“Kau menyindirku Yen.”
“Aku ingin suami yang mencintai aku apa adanya, yang bisa menghormati aku, yang bisa memandangku sebagai manusia. Tidak main pukul.”
Awang tertegun.
“Maukah kau menjadi istriku Yen, menerima anakku Wawan.”
“Bagaimana dengan kedua anakku? Kau ikhlas menerima mereka.”
Awang mengangguk.
“Aku tidak mau dicampakkan lagi Wang. Lebih baik aku sendiri membesarkan anak-anak.”
“Aku serius Yen, maafkan sikapku yang dulu.”
Singkat kata, Awang lalu menikahi Yeni yang sudah janda dengan dua anak. Ia sendiri mambawa Wawan dalam keluarga baru dengan ibu baru. Sekarang dari pernikahan Awang dan Yeni, telah lahir bayi perempuan baru berusia tiga bulan. Ia lahir tahun baru kemarin.
Awang menepati janjinya bisa mencintai dan menghormati Yeni sebagai perempuan. Awang bisa menerima kedua anak Yeni, demikian juga dengan Yeni, ia tulus menyayangi Wawan.
Saya lega mendengar cerita Marsha kali ini, hanya saja saya tidak tahu nasib istri pertama Awang yang selingkuh itu. Biarlah, setiap orang berhak dan bertanggungjawab atas pilihannya masing-masing.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Pembantu yang dianiaya Tegar

2 Komentar Add your own

  • 1. Hairani Pardjo Rani_pasca@yahoo.co.id  |  Agustus 27, 2009 pukul 3:06 am

    Sederhana namun penuh makna pembelajaran…Hebat trimakasih.

    Balas
    • 2. dianing  |  September 11, 2009 pukul 2:18 pm

      Ya, dan itulah realita yang sempat saya lihat mba…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 105,258 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: