Pembantu yang dianiaya

Maret 25, 2009 at 3:09 am 3 komentar

Saya baru saja selesai menyiapkan keperluan untuk ke sekolah Fira sama Rizki. Marsha, asisten saya juga sudah selesai dengan pekerjaannya. Sambil mengenakan baju untuk si bungsu, saya mendengar cerita Marsha soal asisten tetangga yang tak balik lagi.
“Katanya suka memakai minyak baju mama Zaki, Bu.” Saya tersenyum kecut, Marsha sangat suka memancing saya untuk bergunjing. Saya yang semula tak tertarik untuk bergunjing, lama-lama jadi terseret pada pergunjingan, karena biasanya persoalan orang lain lebih menarik ketimbang persoalan diri sendiri. Seperti pagi ini, saya akhirnya larut dengan pergunjingan asisten tetangga saya.
Nama persisnya, saya kurang tahu. Hanya saja Zaki dan Anya memanggilnya teteh. Dia berasal dari Tasik. Perawakannya tinggi besar dengan kulit kuning langsat. Wajahnya ayu, sekilas orang tak akan menduga kalau teteh hanyalah seorang asisten rumah tangga. Setelah lebaran kemarin, teteh tak kembali. Entah apa alasannya, Marsha kurang menyelidik. Hanya saja menurut penuturan Marsha, teteh suka sekali menggunakan barang-barang milik tuannya. Salah satunya minyak baju tuannya.
Oleh karenanya, mama Zaki memutus hubungan kerja dengan teteh.
“Nenek Zaki bilang, enakan orang atas ya Mar. Nggak suka mencuri, enak-enak orangnya.”
“Kalau pembantu dari atas mencuri, gampang dicarinya Mar,” selorohku.
“Ya bu, tapi dulu pernah ada orang atas dipermalukan sama majikan.”
Saya merapikan baju si bungsu. Pikiran saya tertuju pada kalimat Marsha baru saja.
“Dulu pernah ada orang atas, dituduh mencuri oleh orang sini.”
“Orang sini?”
“Ya orang kompleks di sini.”
Saya siap untuk berangkat ke sekolah Fira untuk membayar SPP bulanan, tetapi melihat Marsha yang bersemangat, aku mengurungkan sementara niatku.
Dalam ceritanya, Marsha bilang kalau pembantu itu di rumah sendirian. Kebetulan hari itu Minggu. Majikan dan anak-anak, keluar rumah untuk jalan-jalan pagi ke Vila Dago. Sepanjang jalan memasuki gerbang perumahan Vila Dago, setiap minggu pagi digelar bazar. Berbagai macam keperluan ada di sini. Dari mainan anak, baju sampai kerperluan dapur tersedia. Jadi jalan-jalan Minggu pagi merupakan rutinitas yang asik di sini.
Balik soal pembantu yang tetangga Marsha tadi, sepulang dari jalan-jalan, sang majikan kehilangan uang sebesar duaratus ribu. Uang itu di simpan di dalam dompet, di lemari pakaian. Sang pembantu ditanya sama majikan dengan tatapan mata curiga. Sang pembantu yang memang nggak mengambil uang itu, bilang tak tahu sama sekali. Sampai akhirnya terlibat debat kecil.
Di manapun posisi pembantu selalu lebih rendah dari majikan. Terlebih lagi jika sang majikan memiliki bakat untuk tinggi hati. Pendek kata sang majikan, menuduh pembantunya mencuri uang, tetapi tidak mau mengaku. Sampai-sampai sang majikan, sepasang suami istri memaksa pembantu itu membuka baju hingga akhirnya hampir telanjang.
Sang pembantu pulang dengan menangis dan menahan malu. Suami bertanya kenapa? Sang pembantu lalu menceritakan peristiwa buruk yang baru saja dia alami. Suami tak terima mendengar istrinya hampir ditelajangi karena dituduh mencuri. Maka dituntutlah sang majikan oleh suami pembantu tadi sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah , kalau tidak akan dilaporkan ke polisi. Karena takut dan malu, sang majikan memenuhi tututan suami pembantu tadi. Belakangan diketahui yang mencuri uang tak lain adalah anak sulungnya.
Sejak itu tak ada calon pembantu yang bersedia bekerja di rumah sang majikan. Takut dituduh mencuri dan takut hampir ditelanjangi.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Ibu yang Terlantar Merana

3 Komentar Add your own

  • 1. lintang  |  Mei 18, 2013 pukul 6:35 am

    oh terlanjangnya asik tuh

    aku mau ?

    Balas
  • 2. amira  |  September 4, 2013 pukul 7:16 am

    jahat amat

    Balas
    • 3. amira  |  September 4, 2013 pukul 7:16 am

      parah u

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: