Ibu yang Terlantar

Maret 18, 2009 at 5:00 am Tinggalkan komentar

SAYA baru saja selesai menidurkan si bungsu. Waktunya santai, saya bisa melakukan apa saja yang saya mau. Salah satunya membaca harian pagi. Baru selesai satu opini saya baca, terdengar salam, dari pintu pagar yang terbuka. Saya tersenyum. Saya hafal betul siapa pemilik suara itu. Mbak In.
Saya mempersilahkan masuk, tetapi mbak In memilih untuk duduk di teras. Saya ke dapur sebentar. Menuang segelas teh serta membawa makanan kecil untuk mbak In.
“Ngapain sih Jeng, repot-repot.”
“Sama sekali nggak mbak.”
Saya menaruh segelas teh dan makanan kecil di meja. Lalu duduk di samping meja.
“Jeng,” panggil mbak In dengan suara tercekat. Alis matanya sedikit tegang. Saya jadi ikut-ikutan mengerutkan dahi. Gerangan apa kira-kira yang membuat alis mata mbak In sedikit tegang?
“Saya salah nggak ya” pertanyaan mbak In menggantung. Saya memandangi ke wajahnya yang putih bersih dan bercahaya. Sangat enak memandang wajah ibu satu anak ini. Senantiasa mengalirkan kesejukkan di dalam jiwa.
“Murni kan minta libur dua minggu, Jeng.”
“Lama amir, mbak.”
“Semula minta seminggu Jeng.”
“Ke mana?”
“Ke rumah neneknya di kampung, ada yang mau nikah.”
Saya mengangguk.
“Saya pikir, biar Murni puas di kampung gitu Jeng.”
“Oh, terus masalahnya?”
“Masalahnya kemarin itu ada ibu-ibu sudah tua, datang ke rumah.” Saya pandangi wajah mbak In yang sekarang kelihatan risau.
“Ibu-ibu sudah tua,” saya mengulangi ucapannya.
“Enampuluh tahunan lebih deh Jeng,” kali ini wajah mbak In tambah risau.
“Kenapa?”
“Minta pekerjaan.” Umur enampuluh tahun lebih, minta pekerjaan. Saya belum paham ke mana arah pembicaraan mbak In. Hanya bisa menebak-nebak, lalu kemudian bertanya dalam diri, masak sih.
“Maksudnya pekerjaan…”
“Ya mencuci baju, nyeterika gitu Jeng.”
“Lalu?”
Mbak In tak langsung menjawab. Ia membetulkan posisi duduknya.
“Kondisinya mengenaskan Jeng,” mbak In lalu bercerita sambil memandang ke depan. Seperti tengah memperhatikan pohon belimbing sayur yang mulai berbuah, pohon itu saya tanam di depan pagar rumah.
“Ia kelelahan, wajahnya sangat tua, dan mengaku belum makan sejak pagi. Ketika datang jam dua, Jeng.”
Mbak In sebenarnya tak sampai hati memperkerjakan orang setua dia. Mbak In sudah menolak dan memberi bingkisan untuk dibawa pulang. Tetapi pagi ini ibu yang sudah tua itu, datang lagi ke rumah mbak In, dan memaksa diri untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Mbak in sudah berusaha menolak, tetapi ibu itu merasa tak enak bila tak bekerja. Ia tak ingin menerima bingkisan begitu saja.
“Saya harus bekerja,” ujar ibu itu.
“Saya kok jadi pengen tahu mbak.”
“Ayo ke rumah,” ajak mbak In. Kami segera menuju ke rumah mbak In yang ada di ujung gang kami.
Saya tak kuasa melihat perempuan setua dia masih bekerja. Ia tampak kepayahan, dan letih. Ibu itu baru saja selesai mencuci baju dan siap menjemurnya. Mbak In kemudian menyuruhnya istirahat. Mbak In juga membuatkan minuman hangat untuk ibu itu. Sekali teguk, tandas. Kemudian kami duduk-duduk lesehan di teras.
Tak lama kemudian ibu itu bercerita, kalau dia punya empat anak. Semuanya laki-laki. Semuanya sudah berkeluarga, dan keluar rumah, membentuk keluarga sendiri dengan mengontrak di Jakarta. Keempatnya tinggal berjauhan, meski sama-sama di Jakarta. Sejak suami meninggal, anak sulungnya pulang memboyong keluarganya dengan tiga anak. Ibu itu menyambut dengan gembira kepulangan anak sulungnya.
Sayang istri anak sulungnya kurang menghormatinya. Ia yang sudah tua masih suka disuruh-suruh melakukan pekerjaan rumah tangga, plus menjaga anak yang masih bayi.
“Saya tak ubahnya seorang babu di rumah sendiri,” ujar ibu itu sembari menyeka air matanya. Ironisnya lagi, sang anak lebih suka membela istri dan tak jarang memarahi ibunya.
“Sesak dada saya bu,” ujar ibu itu lagi sambil mengurut dadanya. Ia tidak tahu persis di mana ketiga anaknya tinggal. Yang ia tahu di Jakarta. Ketiganya juga jarang pulang. Sejenak ibu itu berhenti bicara. Ia menunduk sangat lama. Lalu berkata-kata dengan tangis tertahan.
“Tadi pagi malah anak dan menantu saya mengusir saya, padahal itu rumah saya.”
Saya dan Mbak In saling berpandangan. Lalu melihat ibu itu yang terpuruk di lantai teras. Saya tak menemukan kepura-puraan di wajahnya yang jauh lebih tua dari usianya.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Istri yang Terpuruk Pembantu yang dianiaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: