Istri yang Terpuruk

Maret 17, 2009 at 7:16 am Tinggalkan komentar

Marsha, atau Mar nama asisten saya di rumah, membawa kabar kurang mengenakkan. Dia memang suka membawa kasus-kasus yang terjadi pada tetangganya ke rumah. Saya senantiasa mendengarkan untuk menenggang perasaannya. Seperti tadi pagi, saat ia baru saja datang untuk memulai pekerjaannya mencuci baju.
“Bu masih ingat Yani.”
“Ya ni,” saya mengeja namanya mencoba mengingat, sambil menyuapi si bungsu makan pagi, dengan menu nasi dan telur ceplok. Menu yang gampang untuk memburu waktu.
“Yang mana ya Mar.”
“Yang pernah kerja sama ibu, tapi jarang masuk itu lho bu. Yang orangnya tinggi, ayu dan semlohe itu.”
“Ooo.” Mar sangat suka menggunakan istilah-istilah aneh, seperti semlohe.
“Tahu nggak bu,”
Saya agak malas mendengarnya, nada-nadanya ke arah pergunjingan. Saya mencoba membawa si bungsu menjauh, tetapi penuturan Mar yang mengatakan kalau Yani baru saja dikirimi bayi, memuat saya ingin menyimak lagi.
“Bayi?”
“Ya bu,” Marsha mulai mengucek-ucek baju dan memasukkannya ke bak yang berisi air.
“Maksudnya?” saya pengen lebih tahu lagi, maka dengan semangat empat lima Marsha bercerita kalau Deden, suami Yani pacaran lagi.
“Selingkuh bu, si Deden. Kurang ajar pisan.” Saya tersenyum tipis. Marsha sangat merdeka kalau soal bicara, ia bisa saja bertutur kata seenaknya.
“Anak udah gede kelas satu sekarang, eh pacaran kok sampai hamil.”
Saya menghela napas. Membayangkan Yani yang dulu sering cerita ke saya. Suaminya seringkali berbuat kasar padanya. Setiap kali bertengkar tak jarang Deden memukul, menampar atau menarik rambut Yani.
“Suami saya ucapannya kasar, bu. Tidak seperti bapak. Kalau bapak kan lembut, tidak pernah marah-marah sama ibu. Sama anak juga sabar,” ucapnya dulu membandingkan suami saya dengan Deden.
Sebagai istri, Yani memang teraniaya. Ia pernah bilang, kalau sehari-hari tak dinafkahi. Yani dan anaknya makan ikut orangtua Yani. Deden sendiri lebih sering tinggal di rumah orangtua Deden. Alasannya dekat dengan tempat pekerjaannya, sebagai buruh di bengkel motor.
Yani sebenarnya ingin tinggal bersama dengan Deden, tetapi ia pengen pisah rumah dari orangtua. Biar cepat mandiri. Sayang Deden yang anak bungsu itu seperti tak ingin mandiri. Lebih suka tinggal bareng dengan orangtua. Tragisnya lagi, orangtua Deden tak serta merta bisa menerima Yani sebagai menantu. Karena sebelumnya, pernikahan mereka tidak disetujui oleh kedua orang tua masing-masing. Mereka menikah karena untuk menutup aib keluarga. Yani keliru dalam mengartikan cinta, ia rela memberikan segalanya untuk Deden yang belum halal baginya.
Jadilah ia menikah dalam keadaan belum siap. Keduanya masih sangat muda, saat menikah Yani berusia tujuhbelas tahun, sedang Deden baru sembilanbelas tahun. Deden sendiri belum punya pekerjaan waktu itu.
Yani pernah bekerja di tempat saya hanya seumur jagung. Ia tak memiliki semangat kerja yang bagus. Berbeda dengan Marsha, biarpun Marsha banyak ngomong, Marsha rajin dalam bekerja. Pendek kata saya puas dengan hasil kerjanya. Sedang Yani dulu, sering bikin saya uring-uringan sendiri. Masuk jam sembilan, sehari masuk lalu dua hari nggak masuk. Pernah lima hari nggak masuk, saya lalu mencari penggantinya, eh dia masuk lag. Sampai-sampai saya tanya, mbak Yani masih mau kerja di rumah saya, atau tidak. Dia menyanggupi masih mau bekerja di rumah saya. Tapi ya itu tadi, dia mengulangi lagi kesalahan yang sama, kadang masuk kadang tidak. Lebih sering nggak masuknya. Hingga akhirnya dengan berat hati saya berhentikan dia secara sepihak alias PHK. Duh, sampai hati juga saya ketika itu.
“Bu,” Marsha setengah berteriak.
“Ya.”
“Saya cerita dari tadi ibu hanya bengongin aja.” Saya mencoba untuk tersenyum, Marsha melanjutkan ceritanya.
“Kasihan Yani ya bu. Sudah Deden nggak nafkahi, eh malah ngasih bayi ke rumah.”
“Bayinya dibawa Deden gitu Mar.”
“Bukan bu, sama pacarnya itu. Pacarnya Deden yang bawa bayi itu ke Yani. Kabarnya kan Deden nggak mau tanggungjawab, bu.”
Gleg. Kok rumit masalahnya.
“Yani sekarang tinggal di mana, Mar.”
“Orangtuanya kaya bu, Yani nggak usah kerja juga masih bisa makan. Cuma ya itu tadi, kok tiba-tiba dikirimi bayi.”
Saya mengangguk-angguk.
“Ibunya si bayi juga tega ya bu, masak anak sendiri diberi ke orang lain.”
Saya mengangguk lagi, sementara hati saya miris. Ya Allah, bagaimana nasib bayi itu kelak? Ibu kandungnya nggak mau merawat sendiri, sementara ayah biologisnya tak mengakuinya. Duh, Gusti.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Mbak Jum nggak boleh Hamil Lagi. Ibu yang Terlantar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 105,232 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: