Jalan Terjal menuju Tobat

Maret 15, 2009 at 3:35 pm Tinggalkan komentar

PAGI hari, saya baru saja mengantar anak-anak sekolah bareng suami. Sejenak menyempatkan diri untuk membaca harian pagi. Setelah merasa cukup, saya punya keinginan untuk mengunjungi mbak In. Belum sempat keinginan itu terlaksana, dari pintu pagar muncul mbak In dengan air muka keruh. Duh Mbak In ada apa, hari masih pagi begini kok wajah seperti dompet ditekuk-tekuk nggak karuan?
Saya menjawab salam dari sahabat sekaligus tetangga saya yang mulia akhlaknya itu, lalu mbak In mulai bercerita tentang tetangga yang baru tiga bulan pindah. Mbak In bilang kalau ia mendengar masa lalu tetangga baru bernama Sari itu punya masa lalu yang kurang mengenakkan bagi perempuan. Maaf dia mantan pekerja seks komersial. Saya juga pernah mendengar kabar itu sebelumnya.
“Apakah kabar itu benar ya Jeng?” Saya meruncingkan mulut, karena saya sendiri tidak tahu persis tentang masa lalunya. Lagian setiap orang toh, pasti punya masa lalu. Jikalau kabar itu benar, bu Sari berhak kok untuk memperbaiki diri alias bertobat. Seperti sekarang ini ia mau bekerja menjadi pembantu rumah tangga di keluarga yang terhormat. Seorang guru agama, sering memberi ceramah keagamaan di masjid terdekat, juga sering dipercaya untuk memimpin doa di acara-acara tertentu. Pendek kata dia panutan di lingkungan kami.
“Saya kok nggak percaya, kalau bu Sari itu dulunya ….” Mba In tak melengkapi kalimatnya, dia memang tak terbiasa mengucap kata-kata yang cenderung memojokkan orang.
“Maksud mbak In?”
“Siapa tahu itu hanya gosip murahan.”
“Gosip”
“Ya, digosok-gosok kian sip.” Saya tertawa kecil. Sejenak suasana hening. Wajah mbak In masih menyimpan sesuatu.
“Gunjingan orang mbak senantiasa menawan di hati,” ucap saya memecah keheningan.
“Ya,” mbak In kali ini memejamkan mata lalu berujar lagi.
“Kalaupun gunjingan itu benar, dia termasuk orang hebat. Dari seorang yang…, terus mau menjadi pembantu. Itu perjuangan yang berat.”
“Iya,”ujar saya lirih.
“Tapi ada saja orang yang tidak menghargai keinginannya untuk bertobat,” nada suara mbak In kali ini meninggi. Saya menatap ke wajahnya yang bening.
“Jeng tahu kan dia kerja di mana sekarang.”
“Ya.”
“Itu yang bikin saya kecewa dan tak habis pikir.”
“Lho emang kenapa, orang dia kerja di tempat orang yang alim.”
Terdengar helaan napas mbak In.
“Kemarin sore ramai gang kita, Jeng.”
Kemarin saya dan keluarga memang keluar rumah, pulang ketika semua tetangga sudah beristirahat.
“Bu Sari marah-marah sama orang alim itu Jeng, tetangga kita pada tahu jadinya.”
“Lho, kenapa?”
Mbak In panjang lebar bercerita kalau bu Sari hanya digaji seratus ribu sebulan. Pada mulanya dia hanya disuruh menyeterika baju saja. Prakteknya dia disuruh mencuci baju, menyeterika, memasak, mencuci lantai sampai menjaga anak-anak. Dalam hati bu Sari, dia akan digaji lebih. Kenyataan tidak. Bu Sari tak terima. Dia kembalikan uang yang seratus ribu, karena merasa tak dihargai jerih payahnya. Nah tadi sore suami istri orang alim itu mendatangi rumah bu Sari, dengan membawa uang seratus limapuluh ribu rupiah. Jelas harga segitu jauh dari harga yang layak. Saya jadi geregetan dengarnya, nggak menyangka sama sekali.
“Kok sampai hati sih mbak In.”
“Itulah Jeng.”
“Tapi masak iya sih mbak.”
Mbak In mengangguk.
“Yang menggaji itu orang alim lho mbak, masak segitu sih.”
“Barangkali Itulah yang namanya ujian buat bu Sari. Ketika ia ingin kembali ke jalan yang lurus, memilih bekerja di keluarga yang alim, eh malah kurang dihargai tenaganya.”
“Mudah-mudahan ya mbak, tetangga baru kita itu dikuatkan imannya.”
“Amien.”

DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Derita Perempuan Mbak Jum nggak boleh Hamil Lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 104,308 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: