Derita Perempuan

Maret 13, 2009 at 2:20 pm Tinggalkan komentar

SORE ini langit tampak sangat sedap dipandang. Semburat cahayanya yang keemasan menciptakan kemegahan semesta. Aku duduk di kursi teras, dengan menengadah ke langit. Senantiasa menentramkan. Tak ingin sore ini cepat beranjak berganti malam. Aku ingin berlama-lama menikmati sore ini. Tanpa ada waktu yang membatasinya.
Kreek. Ada yang membuka pintu pagar seiring salam membahana seantero teras. Pandanganku sejenak berpindah di pintu pagar. Mbak In dengan celana panjang berwarna coklat tanah, dipadu kaos putih bergambar pulau Bali, menghampiriku dengan wajah sendu. Bukan senang duit, tetapi wajahnya benar-benar muram. Pokoknya sedih gitu. Duh, ada apa dengan sahabat sekaligus tetangga yang mulia akhlaknya ini.
“Jeng.”
“Ya,” sahutku pendek masih dengan pertanyaan di dalam hati. Apakah ada masalah yang begitu rumit dengan mbak In ini.
“Boleh duduk nggak Jeng.”
Ups, aku sampai lupa.
“Ya monggo to mbak, kecuali sampeyan mau ngobrol sambil berdiri.”
Mbak In tak merespon kalimatku, yang sesungguhnya bermaksud bercanda. Mbak In langsung saja duduk, wajahnya masih sendu.
“Saya ini kok jahat ya Jeng.”
Saya memandangi mbak In.
“Kok bisa punya anggapan seperti itu.”
Mbak In diam. Wajahnya kian sendu. Ayolah tetangga yang baik, bicara.
“Jeng ingat Asih kan.”
“Asisten mbak In sebelum Murni.” Mbak In mengangguk, lalu terdiam lagi.
“Kenapa?” tanyaku ragu. Mbak juga bikin aku agak geregetan sore ini. Biasanya ia paling cepat kalau mengeluarkan unek-uneknya. Eh, sekarng kok seperti anak gadis hendak dilamar pacarnya. Diam, malu tapi mau hehehe.
“Saya salah nggak sih, Jeng.”
“Apa dulu masalahnya?”
“Asih kan dulu minta istirahat sampai ibunya sembuh, tapi dia juga bilang kalau saya mau cari orang lain, silahkan.”
“Lho bukannya Asih yang bawa Murni ke mbak In.”
“Iya sih.”
“Asih juga sudah kerja di tempat lain to.” Mbak In mengangguk.
“Artinya bukan salah sampeyan mbak.” Mbak In mengangguk-angguk lagi. Aku menelan ludah. Nggak sabar ingin dengar kalimat-kalimat mak In selanjutnya. Aku sengaja diam saja, menunggu Mbak In memulai sendiri.
“Tiga tahun memperkerjakan dia di rumah, kok aku sama sekali nggak ngerti kehidupannya. Kalau bukan Murni yang cerita, saya nggak ngerti.” Mbak In menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Ternyata Asih itu istri yang teraniaya.”
Aku menautkan kening. Seperti judul sinetron.
“Ia itu janda dengan dua anak.”
Aku mengangguk.
“Ditinggalkan suaminya tanpa kejelasan.”
“Maksud mbak In?”
“Suaminya pergi, katanya kerja tetapi berbilang tahun, tidak ada kabar beritanya. Alamat tak ada, uang tak pernah dikirim.”
Aku memejamkan mata, tak bisa membayangkan kepedihan Asih.
“Tunggu.”
Kami saling berpandangan.
“Bukankah Asih itu istrinya pak Iwang.”
“Ya, dan laki-laki itulah yang kurang ajar.”
Ups. Mbak In tampak garang sekarang.
“Asih itu tidak tahu kalau Iwang itu sudah beristri dan sudah punya dua anak, ketika menikahi dia. Iwang ngakunya masih lajang. Lajang yang telat nikah.”
“Lho.”
“Iwang itu pendatang di sini, Jeng.”
“Oh.”
“Ceritanya, istri Iwang yang di kampung tahu kalau Iwang nikah lagi. Didatangi si Asih oleh istri tua Iwang. Dimarahi, diumpat ia habis-habisan sama istri tua Iwang. Herannya Iwang meninggalkan Asih begitu saja, ketika Asih dalam keadaan hamil.”
Gleg. Aku menelan ludah lagi.
“Anaknya?”
“Anaknya tidak diakui oleh Iwang sebagai anak kandungnya.”
Aku menghela napas. Mbak In melepaskan pandang ke langit sore. Semburat kuning keemasan jadi kelabu.
“Sekarang anak yang dilahirkan Asih entah ada di mana.”
“Lho kok bisa.”
“Asih yang papa itu harus merelakan anaknya dibawa seorang ibu-ibu dengan imbalan uang.”
“Maksud mbak In?” aku cemas. Mbak In menggeleng pelan sambil memandangku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku lemas…
DWY

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Nasib Nining Jalan Terjal menuju Tobat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 10 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 10 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 10 hours ago

%d blogger menyukai ini: