Tulang Punggung Keluarga

Maret 11, 2009 at 4:51 am Tinggalkan komentar

PENING. Pok Minah, asisten baru saya jatuh sakit. Urusan pekerjaan di dapur jadi agak terbengkalai. Beberapa hari ini semua saya kerjakan sendiri. Bisa, tetapi waktu buat menulis jadi sangat berkurang. Biasanya semua pekerjaan selesai ketika senja tiba, alias waktu maghrib masuk.
Pada masa-masa itulah waktu luang ada, saya bisa memulai menulis. Lalu bagaimana dengan Rizki yang belajarnya masih harus ditemani? Aduh, nggak bisa membiarkan dia belajar sendiri. Saya takut nilai pelajarannya turun. Biasanya saya yang menyesal ketimbang Rizki, kalau nilai pelajarannya tak memuaskan. Aduh, lagi-lagi mengeluh nih. Saya juga nggak bisa meninggalkan begitu saja kebiasaan saya menulis. Pada saat seperti inilah, saya menyadari betul betapa besar jasa asisten di rumah. Saya lebih suka menyebutnya asisten ketimbang pembantu, kayaknya kok nggak menghargai gitu.
Jadi ingat sebuah selebaran yang dibagi sama seorang temen penulis, kalau kita ini menggaji pembantu rumah tangga dengan sangat murah. Saya merenung. Apakah gaji yang saya berikan sudah layak buat pok Minah? Mudah-mudahan saja ya sudah layak hehehe.
Nggak ada asisten juga bikin saya nggak bisa ngobrol panjang lebar dengan Mbak In. Aduh, lagi-lagi saya mengeluh. Mbak In apa kabarnya sekarang dia. Ah, nanti kalau sudah dapat asisten baru, pertama yang akan saya lakukan adalah mengunjunginya. Terdengar salam dari pintu, aku segera menjawab dan segera menuju ke pintu. Pucuk di cinta ulam tiba, sahabat sekaligus tetangga saya yang akhlaknya mulia itu sudah di depan pintu. Ia mengabarkan ada berita bagus. Apakah gerangan?
Ternyata mbak In sudah menemukan calon asisten untuk saya. Ada tapinya, menurut mbak In anaknya super cerewet. Suka nanya-nanya. Yang tak perlu ditanya juga sering dipertanyakan.
“Pokoknya Jeng, nona yang satu ini akan menjadi penggembleng kesabaranmu.”
Saya mengeryitkan dahi.
“Soal pekerjaan oke, gak perlu diragukan, gak perlu dipertanyakan. Pokoknya jos gandos.”
“Bahasa apa itu mbak?”
“Pokoknya gitu deh, Jeng. Gimana mau nggak. Kalau mau biar nanti saya bilangin ke Murni, besok diantar ke sini.”
“Soal pekerjaan oke, kan?”
Mbak In mengangguk.
“Ya saya mau,” ucap saya mantap. Semantap kopi kental di kedai Solong, jauh di Ulee Kareng sana.
Pagi harinya, Murni asisten mbak In mengantar Marsha. Keren banget kan namanya, ke rumah. Tanpa ba bi bu saya terima Marsha kerja sebagai asisten saya. Oke. Pekerjaannya memuaskan. Saya nggak usah ngajarin dia lagi. Marsha sudah terampil dengan pekerjaan mencuci baju, menyeterika, cuci lantai dan cuci piring. Marsha pulang tengah hari. Alhamdulillah, Tuhan mengirimkan saya asisten seperti Marsha.
Hari berganti hari, minggu berlalu, apa yang dikatakan mbak In tempo hari mulai saya rasakan. Sepanjang dia bekerja, mulutnya hampir tak pernah diam. Kalau saya ada di dekatnya apa saja ia cerita. Dari soal bapaknya yang pengangguran, ibunya yang hanya di rumah juga. Usia yang sudah kepala lima tak memungkinkan ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Soal rumah tangga kakaknya yang sering bertengkar dan masih suka meminta uang ke bapaknya. Juga soal kesendiriannya.
Sebenarnya Saya nggak keberatan kalau dia cerita banyak hal tentang kehidupannya, tetapi yang nggak saya sukai dia suka nanya macam. Dari berapa harga ikan yang baru saya beli, ke mana bu hari Sabtu, kok ada baju batik kotor, bapak mau bawa motor apa mobil? Huh, lama-lama bisa stres saya. Apa saja dia tanya. Seolah-olah dia pengen tahu semunya. Sampai-sampai baju yang hendak saya pakaikan buat si bungsu pun dia yang mengatur. Bagusnya warna ini deh bu, bagusnya modelnya nggak begini deh bu, dan macam-macam. Saya sebenarnya pengen menimpali setiap kali pertanyaannya agak-agak norak, seperti ibu dulu waktu menikah umur berapa? Aduuuh Tuhan, kok ya saya dapat asisten seperti Marsha.
Saya nggak kuat, pengen ngeluarin Marsha. Saya mengadu ke mbak In. Tapi apa jawaban mba In? Saya disuruhnya sabar, dan coba memahaminya. Bahkan mbak In menyarankan agar aku berpikir ulang kalau mau memPHKkan dia.
Oke, saya ikuti saran mbak In. Hingga saya, menemukan jawaban. Suatu hari saya biarkan Marsha mencurahkan semua isi hatinya.
“Saya cuma sampai kelas empat SD bu, ingin sekolah bapak nggak punya uang. Kakak-kakakku juga paling banter lulus SD. Kalau saya mau dinikahi orang, anak saya sudah dua bu, tapi saya nggak mau.”
“Kenapa?”
“Nggak demen saja, orang nikah kan harus cinta bu.”
Saya mengangguk.
Hingga suatu hari dia menangis di hadapan saya. Katanya di rumah nggak ada beras, nggak ada apapun.
“Saya dimarah-marahin sama mak sama bapak, katanya kalau saya sudah nikah mungkin tidak sesusah ini. Mereka menyalahkan saya bu. Berapa kali saya dipaksa untuk mau jadi istri laki-laki yang nggak saya cinta. Ya saya nggak mau.”
saya masih mendengarnya.
“Padahal Bu, kalau saya pergi dari rumah, mereka nggak makan. Orang bapak pengangguran, mak juga. Yang kerja saya. Ya yang kasih makan mereka saya, tapi mereka seperti tak punya hati. Suka memarahi saya, karena saya belum mau nikah. Kadang saya pengen minggat bu, ninggalin mereka. Nggak betah saya di rumah.”
Mendengar itu saya jadi berpikir, apa iya kecerewetan dia, pertanyaan-pertanyaan dia yang kadang tidak enak di dengar, adalah akibat dari kondisi dia yang kurang nyaman dengan keluarganya?
Saya jadi berpikir, sudahlah terima Marsha apa adanya. Toh, hasil kerjanya oke. Soal ia yang sepanjang kerja mulutnya nggak mau diam, biar jadi urusannya sendiri.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Malas itu Masalah Nasib Nining

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 104,308 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: